Rabu, 28 September 2011

Pangkas Rambut

Sabtu, 10 September 2011. Jadi hari yang paling kutandai selama hidup, kenapa? Karena tepat di akhir minggu itu aku sebagai seorang remaja berusia 18 tahun yang udah lumayan ngerti nano-nano nya hidup ini, untuk pertama kalinya masuk melangkah menginjakkan kaki ke sebuah tempat pangkas rambut. Nama tempat pangkas yang beruntung jadi tempat pangkas pertama yang kudatengin adalah "Pangkas Barde". Tempat pangkas ini lokasinya gak jauh dari rumahku.

Ya, itu memang pertama kalinya rambut ku dipangkas oleh orang selain Ayah ku.  Pasalnya, sejak aku lahir ke dunia dan rambut di kepala mulai tumbuh lebat, satu-satu nya orang yang pernah memangkas dan merapikan model rambut ku ya cuma Ayah.

Entah kenapa, sekalipun aku gak pernah dibawa ke tukang pangkas rambut. Agaknya Ayah ku ngerasa bertanggung jawab untuk kerapian rambut ku agar anaknya ini kelihatan lebih tampan hehe. Tapi sampai sekarang aku gak pernah tau apa alasan sebenarnya karena gak pernah kutanyakin.

Terlepas dari apa alasannya, yang pasti selama ini aku ngerasa nyaman kalau si Ayah yang mangkas rambut ku, ya paling enggak aku ngerasanya gitu karena aku belum pernah ngerasain gimana rasanya dipangkas sama tukang pangkas professional sampai datangnya hari Sabtu kedua di bulan September kemarin.Kenapa akhirnya aku mutusin buat mangkas rambut di tempat pangkas? 

Karena, dua hari kemudian,  Senin tanggal 12 September aku di Ospek selama 5 hari. Benar,  aku adalah seorang maba. Jadi, seperti tradisi dari tahun-tahun yang lalu kalau mahasiswa baru itu wajib hukumnya untuk ngerubah tampilan rambutnya jadi botak selama di Ospek, khusus untuk yang berjenis kelamin pria dan bukan untuk wanita haha. 

Aku datang ke tempat pangkas itu tanpa perasaan aneh, canggung atau pun takut. Aku ingat kalau waktu itu aku tenang kayak udah sering datang ke tempat pangkas padahal ini untuk pertama kalinya. Dan aku berkaca untuk terakhir kalinya memandangi rambut gondrong yang udah kupelihara selama 3,5 bulan libur sekolah di kursi pangkas waktu aku duduk dan siap diproses. Abang tukang pangkas segera nutupin badan ku pake kain hijau dan ngidupin alat pangkas yang entah apa namanya. Aku bilang kea bang itu kalau aku ini maba dan kepalaku harus dibotakin, dia ngerti dan mulai bersiap untuk ngebotakin kepalaku. “sreeeeeekk……” kira-kira gitu bunyi alatnya dan tanpa aba-aba si abang itu langsung ngelibas rambut ku dari arah depan. Dan…… aku lihat lahan kepala ku terbuka sebagian. Dengan pasrah aku ngeliatin rombongan helai rambut panjang jatuh ke atas kain penutup warna hijau yang aku pakai.

Gak nyampe 10 menit, selesai. Dan untuk pertama kalinya, aku harus menyadari dan menerima kenyataan kalau kepala ku saat itu adalah.. botak, dengan kriteria kebotakannya adalah satu sisir.

Untungnya waktu itu kesan pertama ku tentang sebuah tempat pangkas sangat baik. Pelayanan memuaskan, tukang pangkas dan kasir nya sama-sama ramah. Tapi aku masih ragu untuk selanjutnya kalau rambut ini mulai beranjak gondrong, apa aku harus datang ke tempat pangkas rambut atau meminta si Ayah untuk mangkasin rambutku kayak yang selalu dia lakuin selama ini.

Minggu, 18 September 2011

Pembicaraan Kecil di Sebuah Warung Makan

Sabtu, 17 September 2011.

Hari itu adalah hari yang biasa saja dan tidak terlalu istimewa buatku. Kecuali satu, pagi itu ada sebuah acara temu ramah di kampus ku yang baru, Politeknik Negeri Medan. Acara yang sejatinya digelar untuk mengundang para orang tua dari mahasiswa-mahasisiwi baru untuk bersilaturahmi dan mengenal lebih dekat kampus anak-anak mereka.

Bukan hanya para orangtua, tapi kami para mahasiswa baru juga diwajibkan hadir di acara itu. Aku datang ke acara itu bersama beberapa teman yang juga mahasiswa baru di kampus itu, yang juga kebetulan rumahnya satu komplek denganku. Sejak pagi, kami cuma duduk di kursi yang sudah disiapkan panitia, saling mengobrol dan mendengarkan pidato dari pejabat-pajabat kampus sembari diselingi dengan hiburan lagu-lagu, juga menikmati kue yang dibagikan.

Acara temu ramah berakhir menjelang tengah hari. Aku dan 3 orang teman sekomplek ku memutuskan untuk pulang bersama. Tapi sebelum pulang kami berempat makan siang di sebuah warung makan yang sebagian besar pelanggannya adalah anak kuliahan. Karena memang lokasi warung makan ini berdekatan dengan lokasi kampus USU.

Kami berempat duduk di dalam dan segera memesan makanan. Kebetulan waktu itu kantong lagi tipis, jadi aku memesan makanan yang harga standard, cukup seporsi martabak telur dan sebotol  fruit tea plus dengan segelas penuh es batu. Total harga...aku rasa gak perlu aku kasih tau hehe.

Dan entah siapa yang memulai, tiba-tiba kami berempat masuk terjerembab ke dalam sebuah pembicaraan. Awal dari pembicaraan ini juga tidak begitu jelas. Namun bisa dibilang pembicaraan yang kami bahas ini adalah suatu pokok permasalahan yang sangat serius. Mulai dari masalah agama, dunia, nasional sampai ancaman bagi kita kaum muda bangsa ini.

Awalnya aku bersikap biasa, sampai akhirnya 3 orang teman sejak kecil ku itu terlihat serius mengikuti pembicaraan yang kami mulai. Aku senang melihat mereka begitu antusias. Jadi aku memutuskan untuk mengutarakan segala apa yang aku tahu mengenai inti pembicaraan kami. Bukan bermaksud menyombongkan diri di depan mereka dan kalian yang sedang membaca ini, tapi aku memang banyak tau tentang apa yang sedang kami bahas. Dan aku lihat mereka juga tidak keberatan kalau aku banyak bicara memberitahu ini itu kepada mereka.

Aku juga semakin semangat bercerita waktu itu. Sampai-sampai aku lupa kalau suaraku terdengar semakin keras saat bercerita. Padahal aku harus menjaga suara agar tidak banyak orang yang mendengar pembicaraan kami. Karena memang, seperti yang aku bilang tadi kalau pembicaraan kami tergolong serius dan sensitif. Aku takut kalau pembicaraan kami saat itu terdengar oleh orang yang salah mengartikan maksud sebenarnya.

Terlepas dari masalah itu, hampir selama 2 jam kami terus melanjutkan pembicaraan itu. Pembicaraan kecil namun memiliki perhatian besar. Karena sudah seharusnya memang, sebagai remaja Indonesia yang punya kepedulian untuk keselamatan bangsa ini, diskusi kecil seperti inilah yang harus terus dikembangkan demi menjaga rasa persatuan dan kepedulian sesama.

Menjelang pukul 3 sore, setelah selesai makan kami memutuskan untuk pulang ke rumah. Dan pembicaraan kecil itu kami tutup. Aku merasa senang kala itu. Ternyata aku mengenal orang-orang yang juga punya rasa nasionalisme dan kepedulian yang besar. Aku harap aku mengenal banyak orang yang sama seperti ku dan mereka. Mengenal orang dengan visi yang sama adalah satu penyemangat untuk kaum muda saat ini. Dan saling berbagi, berdiskusi membahas permasalahannya adalah satu wadah penting yang sangat mungkin memfasilitasi semangat itu.

Dan aku sadar pembicaraan kami saat itu mengandung unsur kesensitifan yang tinggi, jadi aku gak serta merta menceritakan apa yang kami bahas di tulisanku ini. Hal ini aku lakukan untuk menghindari perdebatan diantara pihak yang kontra dan aku tidak ingin memanacing kotroversi dari pembahasan ini.

Tapi bagi kalian yang sedang membaca ini dan penasaran tertarik ingin mengetahui isi pembicaraan kami, kalian bisa contact langsung ke aku melalui e-mail bismoko.adityo@yahoo.co.id .
Aku hanya mau berbagi cerita ke orang yang benar-benar serius ingin tau dan punya kepedulian tinggi. Aku tidak akan bercerita jika maksud orang tersebut adalah untuk memprovokasi suatu pihak tertentu.

Sabtu, 03 September 2011

Keikhlasan di Jalannya (1.)

I.

Perempuan itu tertunduk lesu di bawah sebuah pohon besar di sebelah trotoar jalan. Ia duduk di bawahnya sambil menggendong seorang bayi, yang baru berusia 8 bulan. Siang itu memang sangat panas, maka itu ia memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan lagi pekerjaannya. Banyaknya kendaraan yang berhenti tepat di depannya menggugah hatinya untuk kembali bekerja. Ya, bekerja. Baginya, mobil-mobil mewah dan sepeda motor yang berjajar rapi setiap 3 menit sekali itu adalah harapannya untuk mendapatkan setidak-tidaknya beberapa keping uang logam. Karena memang, perempuan itu adalah satu dari sekian banyak pengemis jalanan yang terus menggantungkan hidupnya dari belas kasih banyak orang yang ia temui setiap hari di jalanan.

Sejak kematian suaminya karena penyakit setahun yang lalu, kini ia lah yang harus memenuhi segala kebutuhan dirinya dan anak-anaknya. Kadang, saat sedang termenung sendiri ia sering kali teringat akan almarhum suami nya, dan kadang pun ia merasa lemah menjalani semua ini tanpa seorang pria satu-satu nya yang sangat ia cintai.

Ia tergerak melangkah dari tempatnya duduk di trotoar tadi. Menghampiri satu persatu kendaraan para orang kaya yang bahkan ia tak mau sedikitpun menyentuhnya karena takut tubuhnya yang kotor menodai badan kendaraan itu. Ia berjalan mendekat ke tiap kaca mobil yang ia rasa akan mau memberinya selembar ataupun sekeping rupiah. Namun lagi-lagi dan seperti hari-hari sebelumnya, tak ada seorang pun dari mereka yang merelakan sedikit saja rupiahnya untuk perempuan itu.

Lampu menyala hijau, klakson kendaraan terdengar bersahutan menandakan betapa tak sabarnya para pengemudi kendaraan di perempatan lampu merah itu untuk segera memacu gas kendaraannya. Tapi perempuan itu merasa para pengemudi kendaraan mewah itu tak sabar untuk segera pergi karena sudah muak setiap hari harus melihat wajah kusam nya yang selalu meminta-minta lewat kaca mobil mereka.

Apa yang ia pikirkan memang benar. Pernah ia diberi selembar uang Rp. 5.000 oleh seorang wanita kaya dengan dandanan khas dari balik kaca mobilnya. Wanita itu selalu melewati jalan yang sama setiap hari pada jam 2 siang untuk menjemput pulang dua orang anaknya dari sebuah sekolah. Awalnya ia merasa wanita itu adalah orang yang baik sehingga ia memutuskan untuk meminta lagi pada keesokan harinya saat wanita itu kembali berhenti di perempatan lampu merah. Namun ia mendapati wanita itu mengacuhkannya begitu saja, bahkan samasekali tidak melihat ke arah nya. Sejak itu ia merasa bahwa orang-orang telah jenuh melihat wajahnya yang selalu meminta-minta.

Segera setelah ia lihat lampu menyala hijau, ia mempercepat langkahnya untuk segera mencapai trotoar jalan. Namun tiba-tiba datang sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi tepat ke arahnya. Sontak ia terkejut dan berteriak, tapi untungnya pengendara sepeda motor itu dapat mengerem tepat pada waktunya sehingga tidak menyebabkan perempuan dan bayinya itu celaka. Namun, pengendara motor itu sempat memaki  dengan segala kata-kata kasar yang terlintas dalam kepalanya sebelum meninggalkan perempuan itu yang tertunduk memeluk bayinya karena ketakutan.

Saat tengah mencoba menenangkan dirinya sendiri di bawah pohon yang ia tinggalkan tadi, tanpa sadar ia menangis tersedu-sedu dan menyebabkan air matanya jatuh tepat di pipi bayinya yang sedang ia gendong. Entah karena kontak batin antara ibu dan anak, semenit kemudian bayi perempuan itu pun ikut menangis sekencang-kencangnya. Kali ini perempuan itu beralih mencoba menenangkan bayi mungilnya itu yang langsung harus merasakan pahitnya hidup sejak ia dilahirkan. Ia mencoba dan mencoba, menggendong dan menggoyang-goyangkan tubuh bayinya persis seperti apa yang dilakukan setiap Ibu untuk menenangkan bayi mereka yang sedang rewel. Namun tetap saja bayi perempuan itu menangis sejadi-jadinya. Hingga ia akhirnya memutuskan memberikan ASI kepada anak ketiganya itu. Meski ia sadar ASI nya tidaklah cukup untuk mengenyangkan perut si bayi karena ia sendiri tidak mendapat cukup gizi makanan yang berguna untuk memproduksi ASI nya.

Namun setidaknya, itu cukup bisa untuk membuat bayinya lebih tenang dan tidak menangis lagi. Lelah, perempuan itu pun bersandar pada pohon yang selalu melindunginya dari panas matahari siang setiap hari. Lelah yang ia rasakan bukanlah lelah fisik, melainkan lelah hati dan pikirannya kerena harus setiap hari tertekan untuk segera mendapatkan rupiah demi memberi makan bayi mungilnya dan dua orang anaknya yang lain.

Sempat terlelap sejenak, tiba-tiba ia terbangun karena sebuah tangan kecil menggoyang-goyang bahu kanannya dan menggugah memanggilnya dengan sebutan ‘Ibu’. Ya, anak itu adalah anak keduanya. Seorang anak lelaki bertubuh mungil yang baru duduk di bangku sekolah dasar kelas 4. Anak itu merogoh kantong celana sekolahnya, mengambil beberapa keping uang logam dan dua lembar uang kertas. Dan langsung ia berikan kepada Ibu nya.

Apa yang dikerjakan perempuan itu jugalah yang dikerjakan oleh anak nya sepulang sekolah setiap hari. Anak itu memang sekolah, dan dia adalah anak satu-satunya yang disekolahkan oleh sang Ibu. Sementara kakak laki-laki nya memilih bekerja untuk ikut membantu Ibu nya mencari uang.

Dengan ekspresi wajah haru, perempuan itu menerima apa yang diberi oleh anak nya itu. Kemudian ia mengelus lembut kepala anaknya dan memberikan selembar uang Rp. 1.000 pada sang anak. Itu adalah apa yang selalu ia lakukan setiap hari saat anak kedua nya itu datang dengan beberapa jumlah uang di tangannya.

Kemudian anak itu pergi meninggalkan Ibu nya dan adik kecil nya di gendongan. Ia mendatangi beberapa orang temannya yang sudah menunggunya tak jauh dari sana. Mereka kemudian berlari dan menghilang di balik banyak mobil yang berhenti di lampu merah.


Keikhlasan di Jalannya (2.)


II.

Matahari kini sudah mulai enggan bersinar. Arahnya semakin condong ke Barat untuk kemudian digantikan oleh Bulan. Artinya, kini adalah waktu bagi perempuan itu untuk segera pulang ke suatu tempat yang enggan ia sebut sebagai rumah. Ia berjalan pulang menggendong bayi nya dengan beberapa lambar rupiah yang ia genggam hasil dari seharian ia bekerja meminta-minta. Melewati tempat dimana anak kedua nya bermain selepas memberikan hasil nya tadi siang.

Perempuan itu memanggil anak nya untuk ikut pulang bersama nya.  Segera bocah kecil itu berlari menghampiri sang Ibu dan menggandeng tangannya. Raut wajah sedikit ceria nampak di wajah anak itu namun tidak begitu dengan Ibu nya yang lebih menampakkan raut kekhawatiran dan kecemasan karena memikirkan makanan apa yang harus ia berikan pada anak-anak nya setibanya di rumah nanti.

Diperjalanan akhirnya perempuan itu memutuskan untuk membeli sebutir telur yang rencanya akan ia masak di rumah nanti. Dengan uang yang ia punya sekarang, ia hanya mampu membeli sebutir telur itu. Dan sisa uangnya ia pertahankan untuk keesokan harinya, kalau saja ia samasekali tak mendapat hasil apapun dari usaha nya meminta-minta.

Sampai di rumah, yang sebenarnya hanyalah beberapa papan tripleks yang ia padukan membentuk persegi berukuran 3 x 3 meter dan ditopang oleh sebuah dinding beton kokoh. Ya, itu adalah suatu tempat dimana ia dan anak-anaknya bisa berlindung selama malam hari. Tempat yang samasekali tak layak disebut rumah itu berada tepat di bawah sebuah jalan layang besar. Perempuan itu  tinggal dengan banyak orang yang persis senasib dengan dirinya.

Perempuan itu bergegas memasak telur yang ia beli tadi. Menggunakan sebuah kompor kecil yang telah bertahun lalu ia beli dan masih ia pertahankan sampai saat ini karena ketidaksanggupannya untuk membeli sebuah kompor kecil baru.

Perasaannya semakin menjadi saat itu. Anak sulungnya belum juga pulang dari bekerja, padahal jam sudah menunjukkan pukul  7.30. Beruntunglah perempuan itu masih bisa melihat waktu dari sebuah jam dinding berdebu yang ia gantung di dinding tripleks nya. Jam dinding itu menjadi satu-satunya hiasan yang tergantung di sana.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat dari arah luar. Pemilik suara langkah kaki itu menerobos masuk ke dalam rumah dengan tak sabarannya. Mengagetkan perempuan itu dan dua orang anaknya yang sedang menunggu makan dari sang Ibu. Nafasnya memburu seakan takut karena melihat hantu. Tapi perempuan itu justru menunjukkan wajah senang. Ekspresi wajah puas akan sesuatu yang telah lama ia tunggu.

Ya, pemilik suara langkah kaki itu memang orang yang sedari tadi ia tunggu kedatangannya. Dia lah anak sulung dari perempuan itu. Anak laki-laki yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya hari ini sebagai seorang montir di sebuah bengkel mobil kecil yang sudah hampir bangkrut dan hanya sanggup membayarnya tak lebih dari Rp. 5000 setiap harinya . Anak itu berusia 14 tahun sekarang, memang masih terlalu muda untuk bekerja di bidang otomotif. Tapi tidak begitu baginya, ia memiliki sifat dan sikap yang luar biasa, melebihi anak-anak sebayanya. Ia adalah seorang anak muda pekerja keras, memiliki jiwa luar biasa. Ia memutuskan untuk berhenti sekolah, mengurangi beban Ibu nya dan memilih untuk bekerja. Untunglah
akhirnya ia dapati pekerjaan yang memang ia gemari.

Dan saat itu, hal yang membuat Ibu nya lebih bahagia adalah sebuah plastik hitam berisi sebuah bungkusan nasi. Makanan yang sangat jarang bisa mereka nikmati. Dengan semangat, anak itu membuka nasi bungkus itu dan ia berikan kepada Ibu nya. Si Ibu terharu dan langsung memeluk erat anak sulung nya itu. Kesedihan perempuan itu semakin terasa mengingat anak sulung nya yang terpaksa bekerja demi terus dapat hidup. Sebagai seorang Ibu ia merasa gagal karena membiarkan anak nya bekerja seharian seperti itu. Tapi itu terpaksa ia lakukan agar mereka masih bisa leluasa menghirup udara di dunia yang tak berpihak pada mereka ini.

Saat sedang membiarkan adik laki-laki dan Ibu nya menikmati nasi bungkus, ia kemudian mengeluarkan uang hasil kerja nya hari ini dari kantong celana nya. Lagi, jumlah uang itu tidak seberapa, bahkan masih kurang untuk mereka.

Mendadak si Ibu heran dari mana anaknya ini bisa membeli nasi bungkus, padahal uang yang sehari-hari didapat tidaklah cukup bahkan untuk membeli sebuah botol air mineral. Kemudian anak itu menjelaskan kalau nasi bungkus itu ia dapat sore tadi dari seorang pelanggan bengkel yang berbaik hati memberikan itu kepadanya.

Malam semakin larut. Setelah mereka semua bersyukur dapat mengenyangkan perut malam ini, perempuan dan tiga orang anaknya itu bergegas untuk tidur. Mencoba memetik hikmah dari hari sulit yang mereka hadapi. Keesokan pagi, mereka harus kembali memulai apa yang mereka lakukan hari ini. Dan berharap mendapat sesuatu yang lebih berkah dari apa yang mereka dapatkan sebelumnya.

Dan begitulah, setiap hari akan terus berulang seperti ini bagi mereka. Sesuatu yang tak pernah bisa mereka tahu kapan akan berakhir. Bagi mereka, ini adalah sesuatu yang harus mereka perjuangkan setiap hari nya demi mendapat sesuatu yang lebih di kemudian hari. Mereka tak pernah sekalipun mengumpat Tuhan karena apa yang Ia takdirkan untuk kehidupan mereka. Mereka juga tak pernah sekalipun merasa iri kepada banyak orang yang ditakdirkan Tuhan lebih beruntung dari mereka.

Keikhlasan menerima adalah kunci bagi mereka untuk bisa tetap bertahan dalam keadaan yang sangat sulit seperti ini. Terus menjalani hari dengan do’a yang tak hentinya mereka panjatkan pada Tuhan. Mereka percaya, selama hari masih berganti, kehidupan mereka juga pasti akan berganti. Hanya menunggu kapan waktunya tiba. Mungkin kini, mereka menjalani hari yang samasekali tak pernah mereka ingini, tapi suatu saat hari mereka akan berganti menjadi lebih bahagia.