Sabtu,
10 September 2011. Jadi hari yang paling kutandai selama hidup, kenapa? Karena
tepat di akhir minggu itu aku sebagai seorang remaja berusia 18 tahun yang udah
lumayan ngerti nano-nano nya hidup ini, untuk pertama kalinya masuk melangkah
menginjakkan kaki ke sebuah tempat pangkas rambut. Nama tempat pangkas yang beruntung jadi tempat
pangkas pertama yang kudatengin adalah "Pangkas Barde". Tempat pangkas
ini lokasinya gak jauh dari rumahku.
Ya,
itu memang pertama kalinya rambut ku dipangkas oleh orang selain Ayah ku.
Pasalnya, sejak aku lahir ke dunia dan rambut di kepala mulai tumbuh lebat,
satu-satu nya orang yang pernah memangkas dan merapikan model rambut ku ya cuma
Ayah.
Entah
kenapa, sekalipun aku gak pernah dibawa ke tukang pangkas rambut. Agaknya Ayah
ku ngerasa bertanggung jawab untuk kerapian rambut ku agar anaknya ini
kelihatan lebih tampan hehe. Tapi sampai sekarang aku gak pernah tau apa alasan
sebenarnya karena gak pernah kutanyakin.
Terlepas
dari apa alasannya, yang pasti selama ini aku ngerasa nyaman kalau si Ayah yang
mangkas rambut ku, ya paling enggak aku ngerasanya gitu karena aku belum pernah
ngerasain gimana rasanya dipangkas sama tukang pangkas professional sampai
datangnya hari Sabtu kedua di bulan September kemarin.Kenapa
akhirnya aku mutusin buat mangkas rambut di tempat pangkas?
Karena,
dua hari kemudian, Senin tanggal 12
September aku di Ospek selama 5 hari. Benar,
aku adalah seorang maba. Jadi, seperti tradisi dari tahun-tahun yang
lalu kalau mahasiswa baru itu wajib hukumnya untuk ngerubah tampilan rambutnya
jadi botak selama di Ospek, khusus untuk yang berjenis kelamin pria dan bukan
untuk wanita haha.
Aku
datang ke tempat pangkas itu tanpa perasaan aneh, canggung atau pun takut. Aku
ingat kalau waktu itu aku tenang kayak udah sering datang ke tempat pangkas
padahal ini untuk pertama kalinya. Dan aku berkaca untuk terakhir kalinya
memandangi rambut gondrong yang udah kupelihara selama 3,5 bulan libur sekolah
di kursi pangkas waktu aku duduk dan siap diproses. Abang tukang pangkas segera
nutupin badan ku pake kain hijau dan ngidupin alat pangkas yang entah apa
namanya. Aku bilang kea bang itu kalau aku ini maba dan kepalaku harus
dibotakin, dia ngerti dan mulai bersiap untuk ngebotakin kepalaku.
“sreeeeeekk……” kira-kira gitu bunyi alatnya dan tanpa aba-aba si abang itu
langsung ngelibas rambut ku dari arah depan. Dan…… aku lihat lahan kepala ku
terbuka sebagian. Dengan pasrah aku ngeliatin rombongan helai rambut panjang
jatuh ke atas kain penutup warna hijau yang aku pakai.
Gak
nyampe 10 menit, selesai. Dan untuk pertama kalinya, aku harus menyadari dan
menerima kenyataan kalau kepala ku saat itu adalah.. botak, dengan kriteria
kebotakannya adalah satu sisir.
Untungnya
waktu itu kesan pertama ku tentang sebuah tempat pangkas sangat baik. Pelayanan
memuaskan, tukang pangkas dan kasir nya sama-sama ramah. Tapi aku masih ragu
untuk selanjutnya kalau rambut ini mulai beranjak gondrong, apa aku harus
datang ke tempat pangkas rambut atau meminta si Ayah untuk mangkasin rambutku
kayak yang selalu dia lakuin selama ini.
Hari itu adalah hari yang biasa saja dan tidak terlalu istimewa
buatku. Kecuali satu, pagi itu ada sebuah acara temu ramah di kampus ku yang
baru, Politeknik Negeri Medan. Acara yang sejatinya digelar untuk mengundang
para orang tua dari mahasiswa-mahasisiwi baru untuk bersilaturahmi dan mengenal
lebih dekat kampus anak-anak mereka.
Bukan hanya para orangtua, tapi kami para mahasiswa baru juga diwajibkan
hadir di acara itu. Aku datang ke acara itu bersama beberapa teman yang juga
mahasiswa baru di kampus itu, yang juga kebetulan rumahnya satu komplek
denganku. Sejak pagi, kami cuma duduk di kursi yang sudah disiapkan panitia,
saling mengobrol dan mendengarkan pidato dari pejabat-pajabat kampus sembari diselingi
dengan hiburan lagu-lagu, juga menikmati kue yang dibagikan.
Acara temu ramah berakhir menjelang tengah hari. Aku dan 3 orang teman
sekomplek ku memutuskan untuk pulang bersama. Tapi sebelum pulang kami berempat
makan siang di sebuah warung makan yang sebagian besar pelanggannya adalah anak
kuliahan. Karena memang lokasi warung makan ini berdekatan dengan lokasi kampus
USU.
Kami berempat duduk di dalam dan segera memesan makanan. Kebetulan waktu itu
kantong lagi tipis, jadi aku memesan makanan yang harga standard, cukup seporsi
martabak telur dan sebotol fruit tea plus dengan segelas penuh es
batu. Total harga...aku rasa gak perlu aku kasih tau hehe.
Dan entah siapa yang memulai, tiba-tiba kami berempat masuk terjerembab ke
dalam sebuah pembicaraan. Awal dari pembicaraan ini juga tidak begitu
jelas. Namun bisa dibilang pembicaraan yang kami bahas ini adalah suatu pokok
permasalahan yang sangat serius. Mulai dari masalah agama, dunia, nasional
sampai ancaman bagi kita kaum muda bangsa ini.
Awalnya aku bersikap biasa, sampai akhirnya 3 orang teman sejak kecil ku itu
terlihat serius mengikuti pembicaraan yang kami mulai. Aku senang melihat
mereka begitu antusias. Jadi aku memutuskan untuk mengutarakan segala apa yang
aku tahu mengenai inti pembicaraan kami. Bukan bermaksud menyombongkan diri di
depan mereka dan kalian yang sedang membaca ini, tapi aku memang banyak tau
tentang apa yang sedang kami bahas. Dan aku lihat mereka juga tidak keberatan
kalau aku banyak bicara memberitahu ini itu kepada mereka.
Aku juga semakin semangat bercerita waktu itu. Sampai-sampai aku lupa kalau
suaraku terdengar semakin keras saat bercerita. Padahal aku harus menjaga suara
agar tidak banyak orang yang mendengar pembicaraan kami. Karena memang, seperti
yang aku bilang tadi kalau pembicaraan kami tergolong serius dan sensitif. Aku
takut kalau pembicaraan kami saat itu terdengar oleh orang yang salah
mengartikan maksud sebenarnya.
Terlepas dari masalah itu, hampir selama 2 jam kami terus melanjutkan pembicaraan
itu. Pembicaraan kecil namun memiliki perhatian besar. Karena sudah seharusnya
memang, sebagai remaja Indonesia yang punya kepedulian untuk keselamatan bangsa
ini, diskusi kecil seperti inilah yang harus terus dikembangkan demi menjaga
rasa persatuan dan kepedulian sesama.
Menjelang pukul 3 sore, setelah selesai makan kami memutuskan untuk pulang
ke rumah. Dan pembicaraan kecil itu kami tutup. Aku merasa senang kala itu.
Ternyata aku mengenal orang-orang yang juga punya rasa nasionalisme dan kepedulian
yang besar. Aku harap aku mengenal banyak orang yang sama seperti ku dan
mereka. Mengenal orang dengan visi yang sama adalah satu penyemangat untuk kaum
muda saat ini. Dan saling berbagi, berdiskusi membahas permasalahannya adalah
satu wadah penting yang sangat mungkin memfasilitasi semangat itu.
Dan aku sadar pembicaraan kami saat itu mengandung unsur kesensitifan yang
tinggi, jadi aku gak serta merta menceritakan apa yang kami bahas di tulisanku
ini. Hal ini aku lakukan untuk menghindari perdebatan diantara pihak yang
kontra dan aku tidak ingin memanacing kotroversi dari pembahasan ini.
Tapi bagi kalian yang sedang membaca ini dan penasaran tertarik ingin
mengetahui isi pembicaraan kami, kalian bisa contact langsung ke aku melalui
e-mail bismoko.adityo@yahoo.co.id .
Aku hanya mau berbagi cerita ke orang yang benar-benar serius ingin tau dan
punya kepedulian tinggi. Aku tidak akan bercerita jika maksud orang tersebut
adalah untuk memprovokasi suatu pihak tertentu.
Perempuan itu tertunduk lesu di bawah sebuah pohon besar di
sebelah trotoar jalan. Ia duduk di bawahnya sambil menggendong seorang bayi,
yang baru berusia 8 bulan. Siang itu memang sangat panas, maka itu ia
memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan lagi pekerjaannya.
Banyaknya kendaraan yang berhenti tepat di depannya menggugah hatinya untuk
kembali bekerja. Ya, bekerja. Baginya, mobil-mobil mewah dan sepeda motor yang
berjajar rapi setiap 3 menit sekali itu adalah harapannya untuk mendapatkan
setidak-tidaknya beberapa keping uang logam. Karena memang, perempuan itu
adalah satu dari sekian banyak pengemis jalanan yang terus menggantungkan
hidupnya dari belas kasih banyak orang yang ia temui setiap hari di jalanan.
Sejak kematian suaminya karena penyakit setahun yang lalu,
kini ia lah yang harus memenuhi segala kebutuhan dirinya dan anak-anaknya. Kadang,
saat sedang termenung sendiri ia sering kali teringat akan almarhum suami nya,
dan kadang pun ia merasa lemah menjalani semua ini tanpa seorang pria satu-satu
nya yang sangat ia cintai.
Ia tergerak melangkah dari tempatnya duduk di trotoar tadi.
Menghampiri satu persatu kendaraan para orang kaya yang bahkan ia tak mau
sedikitpun menyentuhnya karena takut tubuhnya yang kotor menodai badan
kendaraan itu. Ia berjalan mendekat ke tiap kaca mobil yang ia rasa akan mau
memberinya selembar ataupun sekeping rupiah. Namun lagi-lagi dan seperti
hari-hari sebelumnya, tak ada seorang pun dari mereka yang merelakan sedikit
saja rupiahnya untuk perempuan itu.
Lampu menyala hijau, klakson kendaraan terdengar bersahutan
menandakan betapa tak sabarnya para pengemudi kendaraan di perempatan lampu
merah itu untuk segera memacu gas kendaraannya. Tapi perempuan itu merasa para
pengemudi kendaraan mewah itu tak sabar untuk segera pergi karena sudah muak
setiap hari harus melihat wajah kusam nya yang selalu meminta-minta lewat kaca
mobil mereka.
Apa yang ia pikirkan memang benar. Pernah ia diberi selembar
uang Rp. 5.000 oleh seorang wanita kaya dengan dandanan khas dari balik kaca
mobilnya. Wanita itu selalu melewati jalan yang sama setiap hari pada jam 2
siang untuk menjemput pulang dua orang anaknya dari sebuah sekolah. Awalnya ia
merasa wanita itu adalah orang yang baik sehingga ia memutuskan untuk meminta
lagi pada keesokan harinya saat wanita itu kembali berhenti di perempatan lampu
merah. Namun ia mendapati wanita itu mengacuhkannya begitu saja, bahkan
samasekali tidak melihat ke arah nya. Sejak itu ia merasa bahwa orang-orang
telah jenuh melihat wajahnya yang selalu meminta-minta.
Segera setelah ia lihat lampu menyala hijau, ia mempercepat
langkahnya untuk segera mencapai trotoar jalan. Namun tiba-tiba datang sebuah
sepeda motor dengan kecepatan tinggi tepat ke arahnya. Sontak ia terkejut dan
berteriak, tapi untungnya pengendara sepeda motor itu dapat mengerem tepat pada
waktunya sehingga tidak menyebabkan perempuan dan bayinya itu celaka. Namun, pengendara motor itu sempat memaki dengan segala kata-kata kasar yang terlintas
dalam kepalanya sebelum meninggalkan perempuan itu yang tertunduk memeluk
bayinya karena ketakutan.
Saat tengah mencoba menenangkan dirinya sendiri di bawah
pohon yang ia tinggalkan tadi, tanpa sadar ia menangis tersedu-sedu dan
menyebabkan air matanya jatuh tepat di pipi bayinya yang sedang ia gendong.
Entah karena kontak batin antara ibu dan anak, semenit kemudian bayi perempuan
itu pun ikut menangis sekencang-kencangnya. Kali ini perempuan itu beralih
mencoba menenangkan bayi mungilnya itu yang langsung harus merasakan pahitnya
hidup sejak ia dilahirkan. Ia mencoba dan mencoba, menggendong dan menggoyang-goyangkan
tubuh bayinya persis seperti apa yang dilakukan setiap Ibu untuk menenangkan
bayi mereka yang sedang rewel. Namun tetap saja bayi perempuan itu menangis
sejadi-jadinya. Hingga ia akhirnya memutuskan memberikan ASI kepada anak
ketiganya itu. Meski ia sadar ASI nya tidaklah cukup untuk mengenyangkan perut
si bayi karena ia sendiri tidak mendapat cukup gizi makanan yang berguna untuk
memproduksi ASI nya.
Namun setidaknya, itu cukup bisa untuk membuat bayinya lebih
tenang dan tidak menangis lagi. Lelah, perempuan itu pun bersandar pada pohon yang selalu
melindunginya dari panas matahari siang setiap hari. Lelah yang ia rasakan
bukanlah lelah fisik, melainkan lelah hati dan pikirannya kerena harus setiap
hari tertekan untuk segera mendapatkan rupiah demi memberi makan bayi mungilnya
dan dua orang anaknya yang lain.
Sempat terlelap sejenak, tiba-tiba ia terbangun karena
sebuah tangan kecil menggoyang-goyang bahu kanannya dan menggugah memanggilnya
dengan sebutan ‘Ibu’. Ya, anak itu adalah anak keduanya. Seorang anak lelaki
bertubuh mungil yang baru duduk di bangku sekolah dasar kelas 4. Anak itu merogoh
kantong celana sekolahnya, mengambil beberapa keping uang logam dan dua lembar
uang kertas. Dan langsung ia berikan kepada Ibu nya.
Apa yang dikerjakan perempuan itu jugalah yang dikerjakan
oleh anak nya sepulang sekolah setiap hari. Anak itu memang sekolah, dan dia
adalah anak satu-satunya yang disekolahkan oleh sang Ibu. Sementara kakak
laki-laki nya memilih bekerja untuk ikut membantu Ibu nya mencari uang.
Dengan ekspresi wajah haru, perempuan itu menerima apa yang
diberi oleh anak nya itu. Kemudian ia mengelus lembut kepala anaknya dan
memberikan selembar uang Rp. 1.000 pada sang anak. Itu adalah apa yang selalu
ia lakukan setiap hari saat anak kedua nya itu datang dengan beberapa jumlah
uang di tangannya.
Kemudian anak itu pergi meninggalkan Ibu nya dan adik kecil
nya di gendongan. Ia mendatangi beberapa orang temannya yang sudah menunggunya
tak jauh dari sana. Mereka kemudian berlari dan menghilang di balik banyak
mobil yang berhenti di lampu merah.
Matahari kini sudah mulai enggan bersinar. Arahnya semakin
condong ke Barat untuk kemudian digantikan oleh Bulan. Artinya, kini adalah
waktu bagi perempuan itu untuk segera pulang ke suatu tempat yang enggan ia
sebut sebagai rumah. Ia berjalan pulang menggendong bayi nya dengan beberapa
lambar rupiah yang ia genggam hasil dari seharian ia bekerja meminta-minta.
Melewati tempat dimana anak kedua nya bermain selepas memberikan hasil nya tadi
siang.
Perempuan itu memanggil anak nya untuk ikut pulang bersama
nya. Segera bocah kecil itu berlari
menghampiri sang Ibu dan menggandeng tangannya. Raut wajah sedikit ceria nampak
di wajah anak itu namun tidak begitu dengan Ibu nya yang lebih menampakkan raut
kekhawatiran dan kecemasan karena memikirkan makanan apa yang harus ia berikan
pada anak-anak nya setibanya di rumah nanti.
Diperjalanan akhirnya perempuan itu memutuskan untuk membeli
sebutir telur yang rencanya akan ia masak di rumah nanti. Dengan uang yang ia
punya sekarang, ia hanya mampu membeli sebutir telur itu. Dan sisa uangnya ia
pertahankan untuk keesokan harinya, kalau saja ia samasekali tak mendapat hasil
apapun dari usaha nya meminta-minta.
Sampai di rumah, yang sebenarnya hanyalah beberapa papan
tripleks yang ia padukan membentuk persegi berukuran 3 x 3 meter dan ditopang
oleh sebuah dinding beton kokoh. Ya, itu adalah suatu tempat dimana ia dan
anak-anaknya bisa berlindung selama malam hari. Tempat yang samasekali tak
layak disebut rumah itu berada tepat di bawah sebuah jalan layang besar. Perempuan
itu tinggal dengan banyak orang yang
persis senasib dengan dirinya.
Perempuan itu bergegas memasak telur yang ia beli tadi. Menggunakan
sebuah kompor kecil yang telah bertahun lalu ia beli dan masih ia pertahankan sampai
saat ini karena ketidaksanggupannya untuk membeli sebuah kompor kecil baru.
Perasaannya semakin menjadi saat itu. Anak sulungnya belum
juga pulang dari bekerja, padahal jam sudah menunjukkan pukul 7.30. Beruntunglah perempuan itu masih bisa
melihat waktu dari sebuah jam dinding berdebu yang ia gantung di dinding
tripleks nya. Jam dinding itu menjadi satu-satunya hiasan yang tergantung di
sana.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat dari arah
luar. Pemilik suara langkah kaki itu menerobos masuk ke dalam rumah dengan tak
sabarannya. Mengagetkan perempuan itu dan dua orang anaknya yang sedang
menunggu makan dari sang Ibu. Nafasnya memburu seakan takut karena melihat
hantu. Tapi perempuan itu justru menunjukkan wajah senang. Ekspresi wajah puas
akan sesuatu yang telah lama ia tunggu.
Ya, pemilik suara langkah kaki itu memang orang yang sedari
tadi ia tunggu kedatangannya. Dia lah anak sulung dari perempuan itu. Anak laki-laki
yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya hari ini sebagai seorang montir di
sebuah bengkel mobil kecil yang sudah hampir bangkrut dan hanya sanggup membayarnya tak lebih dari Rp. 5000 setiap harinya . Anak itu berusia 14 tahun sekarang, memang masih terlalu
muda untuk bekerja di bidang otomotif. Tapi tidak begitu baginya, ia memiliki
sifat dan sikap yang luar biasa, melebihi anak-anak sebayanya. Ia adalah
seorang anak muda pekerja keras, memiliki jiwa luar biasa. Ia memutuskan untuk
berhenti sekolah, mengurangi beban Ibu nya dan memilih untuk bekerja. Untunglah
akhirnya ia dapati pekerjaan yang memang ia gemari.
Dan saat itu, hal yang membuat Ibu nya lebih bahagia adalah
sebuah plastik hitam berisi sebuah bungkusan nasi. Makanan yang sangat jarang
bisa mereka nikmati. Dengan semangat, anak itu membuka nasi bungkus itu dan ia
berikan kepada Ibu nya. Si Ibu terharu dan langsung memeluk erat anak sulung
nya itu. Kesedihan perempuan itu semakin terasa mengingat anak sulung nya yang
terpaksa bekerja demi terus dapat hidup. Sebagai seorang Ibu ia merasa gagal
karena membiarkan anak nya bekerja seharian seperti itu. Tapi itu terpaksa ia
lakukan agar mereka masih bisa leluasa menghirup udara di dunia yang tak
berpihak pada mereka ini.
Saat sedang membiarkan adik laki-laki dan Ibu nya menikmati
nasi bungkus, ia kemudian mengeluarkan uang hasil kerja nya hari ini dari
kantong celana nya. Lagi, jumlah uang itu tidak seberapa, bahkan masih kurang
untuk mereka.
Mendadak si Ibu heran dari mana anaknya ini bisa membeli
nasi bungkus, padahal uang yang sehari-hari didapat tidaklah cukup bahkan untuk
membeli sebuah botol air mineral. Kemudian anak itu menjelaskan kalau nasi
bungkus itu ia dapat sore tadi dari seorang pelanggan bengkel yang berbaik hati
memberikan itu kepadanya.
Malam semakin larut. Setelah mereka semua bersyukur dapat
mengenyangkan perut malam ini, perempuan dan tiga orang anaknya itu bergegas
untuk tidur. Mencoba memetik hikmah dari hari sulit yang mereka hadapi. Keesokan
pagi, mereka harus kembali memulai apa yang mereka lakukan hari ini. Dan berharap
mendapat sesuatu yang lebih berkah dari apa yang mereka dapatkan sebelumnya.
Dan begitulah, setiap hari akan terus berulang seperti ini
bagi mereka. Sesuatu yang tak pernah bisa mereka tahu kapan akan berakhir. Bagi
mereka, ini adalah sesuatu yang harus mereka perjuangkan setiap hari nya demi
mendapat sesuatu yang lebih di kemudian hari. Mereka tak pernah sekalipun
mengumpat Tuhan karena apa yang Ia takdirkan untuk kehidupan mereka. Mereka juga
tak pernah sekalipun merasa iri kepada banyak orang yang ditakdirkan Tuhan
lebih beruntung dari mereka.
Keikhlasan menerima adalah kunci bagi mereka untuk bisa
tetap bertahan dalam keadaan yang sangat sulit seperti ini. Terus menjalani
hari dengan do’a yang tak hentinya mereka panjatkan pada Tuhan. Mereka percaya,
selama hari masih berganti, kehidupan mereka juga pasti akan berganti. Hanya menunggu
kapan waktunya tiba. Mungkin kini, mereka menjalani hari yang samasekali tak
pernah mereka ingini, tapi suatu saat hari mereka akan berganti menjadi lebih
bahagia.