Matahari kini sudah mulai enggan bersinar. Arahnya semakin condong ke Barat untuk kemudian digantikan oleh Bulan. Artinya, kini adalah waktu bagi perempuan itu untuk segera pulang ke suatu tempat yang enggan ia sebut sebagai rumah. Ia berjalan pulang menggendong bayi nya dengan beberapa lambar rupiah yang ia genggam hasil dari seharian ia bekerja meminta-minta. Melewati tempat dimana anak kedua nya bermain selepas memberikan hasil nya tadi siang.
Perempuan itu memanggil anak nya untuk ikut pulang bersama nya. Segera bocah kecil itu berlari menghampiri sang Ibu dan menggandeng tangannya. Raut wajah sedikit ceria nampak di wajah anak itu namun tidak begitu dengan Ibu nya yang lebih menampakkan raut kekhawatiran dan kecemasan karena memikirkan makanan apa yang harus ia berikan pada anak-anak nya setibanya di rumah nanti.
Diperjalanan akhirnya perempuan itu memutuskan untuk membeli sebutir telur yang rencanya akan ia masak di rumah nanti. Dengan uang yang ia punya sekarang, ia hanya mampu membeli sebutir telur itu. Dan sisa uangnya ia pertahankan untuk keesokan harinya, kalau saja ia samasekali tak mendapat hasil apapun dari usaha nya meminta-minta.
Sampai di rumah, yang sebenarnya hanyalah beberapa papan tripleks yang ia padukan membentuk persegi berukuran 3 x 3 meter dan ditopang oleh sebuah dinding beton kokoh. Ya, itu adalah suatu tempat dimana ia dan anak-anaknya bisa berlindung selama malam hari. Tempat yang samasekali tak layak disebut rumah itu berada tepat di bawah sebuah jalan layang besar. Perempuan itu tinggal dengan banyak orang yang persis senasib dengan dirinya.
Perempuan itu bergegas memasak telur yang ia beli tadi. Menggunakan sebuah kompor kecil yang telah bertahun lalu ia beli dan masih ia pertahankan sampai saat ini karena ketidaksanggupannya untuk membeli sebuah kompor kecil baru.
Perasaannya semakin menjadi saat itu. Anak sulungnya belum juga pulang dari bekerja, padahal jam sudah menunjukkan pukul 7.30. Beruntunglah perempuan itu masih bisa melihat waktu dari sebuah jam dinding berdebu yang ia gantung di dinding tripleks nya. Jam dinding itu menjadi satu-satunya hiasan yang tergantung di sana.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat dari arah luar. Pemilik suara langkah kaki itu menerobos masuk ke dalam rumah dengan tak sabarannya. Mengagetkan perempuan itu dan dua orang anaknya yang sedang menunggu makan dari sang Ibu. Nafasnya memburu seakan takut karena melihat hantu. Tapi perempuan itu justru menunjukkan wajah senang. Ekspresi wajah puas akan sesuatu yang telah lama ia tunggu.
Ya, pemilik suara langkah kaki itu memang orang yang sedari tadi ia tunggu kedatangannya. Dia lah anak sulung dari perempuan itu. Anak laki-laki yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya hari ini sebagai seorang montir di sebuah bengkel mobil kecil yang sudah hampir bangkrut dan hanya sanggup membayarnya tak lebih dari Rp. 5000 setiap harinya . Anak itu berusia 14 tahun sekarang, memang masih terlalu muda untuk bekerja di bidang otomotif. Tapi tidak begitu baginya, ia memiliki sifat dan sikap yang luar biasa, melebihi anak-anak sebayanya. Ia adalah seorang anak muda pekerja keras, memiliki jiwa luar biasa. Ia memutuskan untuk berhenti sekolah, mengurangi beban Ibu nya dan memilih untuk bekerja. Untunglah
akhirnya ia dapati pekerjaan yang memang ia gemari.
Dan saat itu, hal yang membuat Ibu nya lebih bahagia adalah sebuah plastik hitam berisi sebuah bungkusan nasi. Makanan yang sangat jarang bisa mereka nikmati. Dengan semangat, anak itu membuka nasi bungkus itu dan ia berikan kepada Ibu nya. Si Ibu terharu dan langsung memeluk erat anak sulung nya itu. Kesedihan perempuan itu semakin terasa mengingat anak sulung nya yang terpaksa bekerja demi terus dapat hidup. Sebagai seorang Ibu ia merasa gagal karena membiarkan anak nya bekerja seharian seperti itu. Tapi itu terpaksa ia lakukan agar mereka masih bisa leluasa menghirup udara di dunia yang tak berpihak pada mereka ini.
Saat sedang membiarkan adik laki-laki dan Ibu nya menikmati nasi bungkus, ia kemudian mengeluarkan uang hasil kerja nya hari ini dari kantong celana nya. Lagi, jumlah uang itu tidak seberapa, bahkan masih kurang untuk mereka.
Mendadak si Ibu heran dari mana anaknya ini bisa membeli nasi bungkus, padahal uang yang sehari-hari didapat tidaklah cukup bahkan untuk membeli sebuah botol air mineral. Kemudian anak itu menjelaskan kalau nasi bungkus itu ia dapat sore tadi dari seorang pelanggan bengkel yang berbaik hati memberikan itu kepadanya.
Malam semakin larut. Setelah mereka semua bersyukur dapat mengenyangkan perut malam ini, perempuan dan tiga orang anaknya itu bergegas untuk tidur. Mencoba memetik hikmah dari hari sulit yang mereka hadapi. Keesokan pagi, mereka harus kembali memulai apa yang mereka lakukan hari ini. Dan berharap mendapat sesuatu yang lebih berkah dari apa yang mereka dapatkan sebelumnya.
Dan begitulah, setiap hari akan terus berulang seperti ini bagi mereka. Sesuatu yang tak pernah bisa mereka tahu kapan akan berakhir. Bagi mereka, ini adalah sesuatu yang harus mereka perjuangkan setiap hari nya demi mendapat sesuatu yang lebih di kemudian hari. Mereka tak pernah sekalipun mengumpat Tuhan karena apa yang Ia takdirkan untuk kehidupan mereka. Mereka juga tak pernah sekalipun merasa iri kepada banyak orang yang ditakdirkan Tuhan lebih beruntung dari mereka.
Keikhlasan menerima adalah kunci bagi mereka untuk bisa tetap bertahan dalam keadaan yang sangat sulit seperti ini. Terus menjalani hari dengan do’a yang tak hentinya mereka panjatkan pada Tuhan. Mereka percaya, selama hari masih berganti, kehidupan mereka juga pasti akan berganti. Hanya menunggu kapan waktunya tiba. Mungkin kini, mereka menjalani hari yang samasekali tak pernah mereka ingini, tapi suatu saat hari mereka akan berganti menjadi lebih bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar