Minggu, 18 September 2011

Pembicaraan Kecil di Sebuah Warung Makan

Sabtu, 17 September 2011.

Hari itu adalah hari yang biasa saja dan tidak terlalu istimewa buatku. Kecuali satu, pagi itu ada sebuah acara temu ramah di kampus ku yang baru, Politeknik Negeri Medan. Acara yang sejatinya digelar untuk mengundang para orang tua dari mahasiswa-mahasisiwi baru untuk bersilaturahmi dan mengenal lebih dekat kampus anak-anak mereka.

Bukan hanya para orangtua, tapi kami para mahasiswa baru juga diwajibkan hadir di acara itu. Aku datang ke acara itu bersama beberapa teman yang juga mahasiswa baru di kampus itu, yang juga kebetulan rumahnya satu komplek denganku. Sejak pagi, kami cuma duduk di kursi yang sudah disiapkan panitia, saling mengobrol dan mendengarkan pidato dari pejabat-pajabat kampus sembari diselingi dengan hiburan lagu-lagu, juga menikmati kue yang dibagikan.

Acara temu ramah berakhir menjelang tengah hari. Aku dan 3 orang teman sekomplek ku memutuskan untuk pulang bersama. Tapi sebelum pulang kami berempat makan siang di sebuah warung makan yang sebagian besar pelanggannya adalah anak kuliahan. Karena memang lokasi warung makan ini berdekatan dengan lokasi kampus USU.

Kami berempat duduk di dalam dan segera memesan makanan. Kebetulan waktu itu kantong lagi tipis, jadi aku memesan makanan yang harga standard, cukup seporsi martabak telur dan sebotol  fruit tea plus dengan segelas penuh es batu. Total harga...aku rasa gak perlu aku kasih tau hehe.

Dan entah siapa yang memulai, tiba-tiba kami berempat masuk terjerembab ke dalam sebuah pembicaraan. Awal dari pembicaraan ini juga tidak begitu jelas. Namun bisa dibilang pembicaraan yang kami bahas ini adalah suatu pokok permasalahan yang sangat serius. Mulai dari masalah agama, dunia, nasional sampai ancaman bagi kita kaum muda bangsa ini.

Awalnya aku bersikap biasa, sampai akhirnya 3 orang teman sejak kecil ku itu terlihat serius mengikuti pembicaraan yang kami mulai. Aku senang melihat mereka begitu antusias. Jadi aku memutuskan untuk mengutarakan segala apa yang aku tahu mengenai inti pembicaraan kami. Bukan bermaksud menyombongkan diri di depan mereka dan kalian yang sedang membaca ini, tapi aku memang banyak tau tentang apa yang sedang kami bahas. Dan aku lihat mereka juga tidak keberatan kalau aku banyak bicara memberitahu ini itu kepada mereka.

Aku juga semakin semangat bercerita waktu itu. Sampai-sampai aku lupa kalau suaraku terdengar semakin keras saat bercerita. Padahal aku harus menjaga suara agar tidak banyak orang yang mendengar pembicaraan kami. Karena memang, seperti yang aku bilang tadi kalau pembicaraan kami tergolong serius dan sensitif. Aku takut kalau pembicaraan kami saat itu terdengar oleh orang yang salah mengartikan maksud sebenarnya.

Terlepas dari masalah itu, hampir selama 2 jam kami terus melanjutkan pembicaraan itu. Pembicaraan kecil namun memiliki perhatian besar. Karena sudah seharusnya memang, sebagai remaja Indonesia yang punya kepedulian untuk keselamatan bangsa ini, diskusi kecil seperti inilah yang harus terus dikembangkan demi menjaga rasa persatuan dan kepedulian sesama.

Menjelang pukul 3 sore, setelah selesai makan kami memutuskan untuk pulang ke rumah. Dan pembicaraan kecil itu kami tutup. Aku merasa senang kala itu. Ternyata aku mengenal orang-orang yang juga punya rasa nasionalisme dan kepedulian yang besar. Aku harap aku mengenal banyak orang yang sama seperti ku dan mereka. Mengenal orang dengan visi yang sama adalah satu penyemangat untuk kaum muda saat ini. Dan saling berbagi, berdiskusi membahas permasalahannya adalah satu wadah penting yang sangat mungkin memfasilitasi semangat itu.

Dan aku sadar pembicaraan kami saat itu mengandung unsur kesensitifan yang tinggi, jadi aku gak serta merta menceritakan apa yang kami bahas di tulisanku ini. Hal ini aku lakukan untuk menghindari perdebatan diantara pihak yang kontra dan aku tidak ingin memanacing kotroversi dari pembahasan ini.

Tapi bagi kalian yang sedang membaca ini dan penasaran tertarik ingin mengetahui isi pembicaraan kami, kalian bisa contact langsung ke aku melalui e-mail bismoko.adityo@yahoo.co.id .
Aku hanya mau berbagi cerita ke orang yang benar-benar serius ingin tau dan punya kepedulian tinggi. Aku tidak akan bercerita jika maksud orang tersebut adalah untuk memprovokasi suatu pihak tertentu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar