Dan ketika aku mencoba hingga aku berhasil mendaratkan tatapan kaku wajahku tepat pada wajahnya, aku jelas melihat sebuah wajah yang sungguh-sungguh telah sangat lama aku rindukan rautnya.
Tatapan sedikit canggung yang kuterima darinya, kubalas dengan tatapan enggan senyum namun rindu. Aku jelas merindukan wajah itu, wajah dari seseorang yang teramat istimewa buatku. Yang selalu kubayangkan dalam anganku tiap malam dan selalu kuharapkan kehadirannya tak peduli dimana pun aku berada. Wajah yang tak bisa aku bandingkan dengan apapun, sungguh, telah kutempatkan ia pada singgasana di hatiku.
Saat dimana kedua pasang bola mata kami bertemu, sangat terasa gejolak perasaanku. Membuat tanganku liar ingin merambah merah pipinya dan kemudian memeluknya. Tapi sejenak aku tersadar, dan kami seakan berada di suatu tempat yang berbeda karena ketidaksanggupanku untuk menggapainya.
Hanya mampu menyapa lirih dengan segala upaya keras dari lidah lembutku. Aku mencoba untuk tetap tenang, meski tersayat hatiku tak bisa sejengkal pun kujangkau dia yang ku rindu.
Untunglah Tuhan mengerti apa bebanku. Kudapatkan kekuatan dari-Nya untuk menguasai dia yang ku rindu dengan rangkaian kalimat yang terucap dari bibirku.
Aku rindu, aku menginginkannya kembali. Tapi sudahlah, aku gagal. Dia yang ku rindu sudah sangat teramat sulit kugapai meski terlihat nyata sangat dekat sekalipun.
Pertemuan kala petang tenang itu berakhir dengan kebuntuan jalan cerita. Intrik yang tak kunjung temu ini memang tak akan pernah selesai meski beribu kata kami lontarkan. Hanya kata rindu yang kini selalu menghantui. Rindu kan tetap rindu, wajah itu kan semakin sulit terjangkau seiring waktu yang tak sudi untuk menunggu. Pada akhirnya, kami tak pernah berkata dalam jumpa, karena kami mampu berbicara tanpa kata meski raga tak pernah bertemu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar