Kala itu rintik-rintik
hujan jatuh perlahan. Udara begitu
dingin, tampak awan mendung di atas menutupi langit yang seharusnya biru
cerah. Sore hari di Desember itu,
seorang pria berjalan perlahan menembus rintik hujan. Memegang gagang payung
hitam pada tangan kirinya sementara sebuah buku catatan kecil ia pegang pada
tangan kanannya. Pakaian sederhana, hanya menggunakan celana jeans panjang berwarna biru polos –
seakan meminta langit untuk serupa – dan kemeja berwarna hitam gelap, senada
dengan warna payungnya.
Hembusan angin cukup
kencang, namun tak sedikitpun pria itu tampak merasakan kedinginan. Ia justru semakin memperlambat langkahnya,
seakan ingin menikmati terpaan angin itu sebelum ia tak bisa lagi
merasakannya. Di pinggir jalan ia
berhenti, menengadahkan wajahnya ke atas. Melepas payungnya dan membiarkan dua
lensa kacamata dan wajahnya basah terkena rintik hujan. Orang-orang
disekitarnya heran melihat tingkah pria itu. Namun tak seorangpun menegur dan
menyapa, mereka sibuk dengan diri sendiri dan lebih memilih untuk membiarkan
pria itu sibuk dengan kenikmatannya.
Merasa cukup, ia
kembali berjalan dengan kacamata yang basah dan menghalangi pandangannya. Entah
apa yang ada di pikirannya, ia urung membersihkan kacamata itu hingga akhirnya
ia berhenti pada sebuah kursi panjang di sebuah taman kecil di depan sebuah
pusat perbelanjaan ramai. Ia duduk di kursi itu setelah ia rasa cukup kering
untuk tidak membasahi celana bagian belakangnya.
Masih dengan buku catatan di tangan kanannya
dan payung di tangan kirinya, kali ini dia mencoba membuka buku itu dan
membalik setiap halaman-halamannya seraya membaca perlahan isinya. Apa yang ia tulis di dalamnya adalah tentang
banyak kenangan akan seorang wanita yang pernah lama singgah di hatinya. Wanita
yang sanggup membuat pria itu rela berjalan kaki berkilo-kilo meter ke sebuah
taman dan berhenti untuk menunggunya datang. Itu ia lakukan setiap hari selama bulan
Desember di setiap tahun sejak ia
memutuskan untuk tetap setia menanti wanita itu.
Wanita itu, baginya
wanita itu begitu berarti. Sesuatu yang
sangat spesial yang pernah Tuhan berikan padanya, begitu pikirnya. Hubungan mereka terbentuk di saat mereka
berdua masih remaja, di saat mereka baru
saja mengenal apa itu cinta, namun seakan telah mengerti makna cinta
sebenarnya. Mesra, ya..mereka bisa
dikatakan sangat mesra, meski tak pernah secara resmi mereka benar-benar
menjalin cinta. Mereka bukan sepasang
kekasih, hanya keadaan saling butuhlah yang membuat mereka begitu mesra. Namun seakan ada hal yang tak dapat
dimengerti oleh pria itu, berkali-kali ia katakan cinta pada wanita pujaannya
itu, namun berkali-kali juga lah wanita itu enggan untuk mengatakan ‘ya’.
Namun bukan soal baginya, ia tetap mencintai dan
menyayangi wanita itu dengan terus berharap dan meminta pada Tuhan agar ia
dapat memiliki sosok wanita itu sepenuhnya.
Sesuatu yang teramat spesial baginya, hingga ia tak pernah sekalipun
berpikir untuk menyia-nyiakannya.
Tahun demi tahun
berlalu, mereka tetap begitu. Mesra
namun tak terikat. Resah yang dirasa
pria itu semakin menjadi setiap harinya.
Ia takut ia akan kehilangan wanita yang benar-benar ia sayangi dengan
cara yang menyakitkan karena keadaan yang mereka jalani ini. Tapi wanita itu selalu meyakinkannya bahwa
mereka akan terus bersama biar bagaimanapun keadaannya.
Genggaman tangan di
suatu sore 20 tahun yang lalu di sebuah taman dimana pria itu kini duduk di
bawah rintik hujan, masih sangat jelas ia ingat dan ia rasakan. Waktu itu cuaca
mendung dan udara sangat dingin. Mereka
berdua sepakat untuk bertemu di taman itu karena ada sesuatu yang hendak
disampaikan oleh wanita itu. Dengan perasaan sedikit heran dan bertanya-tanya,
pria itu menuruti keinginan wanita itu. Tergambar di benaknya bahwa ini bisa
menjadi kali terakhir mereka bersama. Entah kenapa waktu itu ia memiliki suatu
perasaan yang buruk akan pertemuan mereka ini. Pria itu cukup gugup saat mempersiapkan
segala sesuatunya dengan sangat
sempurna, ia mencoba mengesankan wanita itu dengan penampilannya.
Mereka berdua bertemu
di taman itu, duduk di sebuah kursi panjang yang sekarang pria itu tempati.
Perasaan tak enak dan gugup luar biasa dirasakan olehnya. Pria itu benar-benar
tak dapat menguasai dirinya. Meski udara sangat dingin kala itu, namun rasa
gerahlah yang terus ia rasakan. Sejak awal ia memang merasakan akan ada sesuatu
yang buruk.
Begitu juga dengan
wanita itu, ia seakan merasa berdosa. Ia sadar apa yang akan disampaikannya
dapat sangat mengejutkan pria itu dan mengguncang hatinya. Wanita itu mencoba
mencairkan suasana dengan mengajak pria itu mengobrol dan mencoba menjauhkan
ketegangan dari permasalahan sebenarnya.
Wanita itu paham apa
yang dirasakan oleh lawan bicaranya. Ia menghentikan kata-katanya dan sejenak
menghela nafas panjang. Mempersiapkan dirinya untuk apa yang segera ia
utarakan. Tatapannya dalam kearah dua bola mata pria itu namun tetap sayu,
seakan menunjukkan ketidaksiapan dirinya. Pria itu semakin gugup. Namun
tiba-tiba wanita itu menjulurkan kedua tangannya dan kemudian menggenggam
tangan kanan pria itu. Mata yang tadinya sayu kini berubah berkaca-kaca.
Genggaman tangannya itu seakan menunjukkan betapa ia tak kuat harus mengatakan
apa yang tidak seharusnya ia katakan.
Pria itu terkejut dan
membalas tatapan wanita itu dengan tak kalah khawatirnya. Ekspresi wajah yang
sangat gugup terlihat jelas darinya. Bahkan bukan rasa gerah lagi yang ia
rasakan, tanpa ia sadari keringatnya pun membasahi pakaian yang ia kenakan,
seakan udara dingin waktu itu samasekali tak sedikitpun menyentuh tubuhnya.
Sekali lagi, wanita
itu menghela nafas panjangnya. Genggaman tangannya semakin kuat terasa. Ia
merasakan bibirnya kaku, enggan mengikuti maunya untuk berkata. Ia sangat takut
kala itu, ya, takut. Dan saat ia membuka kata, mengatakan apa yang sedari tadi
ingin ia sampaikan, air matanya mengalir di pipi merahnya. Sejenak keadaan
menjadi hening. Tak terdengar sepatah katapun keluar dari mulut mereka berdua
setelah wanita itu selesai mengatakan apa yang ingin ia sampaikan.
Wanita itu merasa lega
namun berdosa. Ia lega karena telah dapat menguasai diri untuk membuka kata.
Namun merasa berdosa karena apa yang ia sampaikan seperrti sebuah
pengkhianatan.
Sementara pria itu, ia
diam dalam sunyi yang ia rasakan sendiri. Seakan tak percaya dengan apa yang
baru ia dengar. Menutup mata dan berharap itu hanya mimpi begitu ia mebukanya
kembali. Namun sayang itu bukanlah mimpi. Mendapati orang yang disayang
ternyata telah akan menjalin kasih dengan orang lain, cukup membuat pikirannya
melarung jauh tanpa terkendali.
Ya, wanita itu, yang
tak pernah mau menerima cinta pria itu, yang tidak pernah mau mengatakan ‘ya’, kini
sudah menemukan orang yang benar-benar ia cintai. Bukan seseorang yang ada
dihadapannya, namun orang yang terpisah samudra dengannya kala itu.
Benar saja itu adalah
pertemuan terakhir mereka. Setelahnya wanita itu akan meninggalkan kota tempat
dimana ia dan pria yang sangat menyayanginya itu bertemu untuk pertama kali dan
menjalin sebuah hubungan tak pasti. Ia memutuskan untuk memulai sebuah
kehidupan baru.
Tak ingin melepasnya
begitu saja, pria itu bersumpah akan tetap mengunjungi taman kecil tempat
mereka berpisah, setiap tahun selama bulan Desember, hanya untuk menunggu
kedatangan wanita itu lagi dan menjumpainya di sana. Wanita itu melarang rencananya, karena ia tau bahwa
ia tak akan pernah kembali ke kota itu apapun keadaannya.
Tak goyah dengan apa
yang wanita itu katakana, ia bersikeras untuk tetap menjalankan sumpahnya. Dan
kini, sudah tahun kedua puluh ia menjalankan sumpahnya. Buat sebagian orang,
apa yang ia lakukan adalah hal yang sangat bodoh. Menanti seorang wanita di
sebuah taman kecil setiap tahun, yang bahkan wanita itu seakan tidak lagi
mengharapkan kehadirannya.
Namun sekali lagi, ia
tak goyah dengan anggapan orang atas dirinya. Baginya, apa yang ia lakukan itu
adalah hal yang sangat dinikmatinya. Meski terkadang ia juga sadar, itu adalah
hal yang sangat sia-sia.
Kembali ia menatap
lembaran buku yang ia pegang, menatap masa lalu dan kenangan-kenangannya. Tak
pernah bisa lepas dari ingatannya akan sosok wanita yang masih ia anggap
terlalu spesial bagi dirinya.
Jam tangannya sudah
menunjukkan waktu yang memintanya untuk segera kembali. Dan lagi, sejak pertama
ia menjalankan kebiasaannya ini, tak sekalipun ia dapati wanita itu di taman
yang sama. Dan akan terus begini, hingga mungkin ia tak sanggup lagi berjalan
untuk menjangkau kursi taman itu.
Desember, bulan
penghujung tahun yang selalu terasa berat bagi pria setengah baya itu lewati dengan harapan penuh untuk dapat sekali saja memandang wajah
wanita yang ia sayang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar