Senin, 05 Desember 2011

Penantian di Desember


Kala itu rintik-rintik hujan jatuh perlahan.  Udara begitu dingin, tampak awan mendung di atas menutupi langit yang seharusnya biru cerah.  Sore hari di Desember itu, seorang pria berjalan perlahan menembus rintik hujan. Memegang gagang payung hitam pada tangan kirinya sementara sebuah buku catatan kecil ia pegang pada tangan kanannya. Pakaian sederhana, hanya menggunakan celana jeans panjang berwarna biru polos – seakan meminta langit untuk serupa – dan kemeja berwarna hitam gelap, senada dengan warna payungnya.

Hembusan angin cukup kencang, namun tak sedikitpun pria itu tampak merasakan kedinginan.  Ia justru semakin memperlambat langkahnya, seakan ingin menikmati terpaan angin itu sebelum ia tak bisa lagi merasakannya.  Di pinggir jalan ia berhenti, menengadahkan wajahnya ke atas. Melepas payungnya dan membiarkan dua lensa kacamata dan wajahnya basah terkena rintik hujan. Orang-orang disekitarnya heran melihat tingkah pria itu. Namun tak seorangpun menegur dan menyapa, mereka sibuk dengan diri sendiri dan lebih memilih untuk membiarkan pria itu sibuk dengan kenikmatannya.

Merasa cukup, ia kembali berjalan dengan kacamata yang basah dan menghalangi pandangannya. Entah apa yang ada di pikirannya, ia urung membersihkan kacamata itu hingga akhirnya ia berhenti pada sebuah kursi panjang di sebuah taman kecil di depan sebuah pusat perbelanjaan ramai. Ia duduk di kursi itu setelah ia rasa cukup kering untuk tidak membasahi celana bagian belakangnya.

 Masih dengan buku catatan di tangan kanannya dan payung di tangan kirinya, kali ini dia mencoba membuka buku itu dan membalik setiap halaman-halamannya seraya membaca perlahan isinya.  Apa yang ia tulis di dalamnya adalah tentang banyak kenangan akan seorang wanita yang pernah lama singgah di hatinya. Wanita yang sanggup membuat pria itu rela berjalan kaki berkilo-kilo meter ke sebuah taman dan berhenti untuk menunggunya datang.  Itu ia lakukan setiap hari selama bulan Desember  di setiap tahun sejak ia memutuskan untuk tetap setia menanti wanita itu.

Wanita itu, baginya wanita itu begitu berarti.  Sesuatu yang sangat spesial yang pernah Tuhan berikan padanya, begitu pikirnya.  Hubungan mereka terbentuk di saat mereka berdua masih remaja, di  saat mereka baru saja mengenal apa itu cinta, namun seakan telah mengerti makna cinta sebenarnya.  Mesra, ya..mereka bisa dikatakan sangat mesra, meski tak pernah secara resmi mereka benar-benar menjalin cinta.  Mereka bukan sepasang kekasih, hanya keadaan saling butuhlah yang membuat mereka begitu mesra.  Namun seakan ada hal yang tak dapat dimengerti oleh pria itu, berkali-kali ia katakan cinta pada wanita pujaannya itu, namun berkali-kali juga lah wanita itu enggan untuk mengatakan ‘ya’.

Namun  bukan soal baginya, ia tetap mencintai dan menyayangi wanita itu dengan terus berharap dan meminta pada Tuhan agar ia dapat memiliki sosok wanita itu sepenuhnya.  Sesuatu yang teramat spesial baginya, hingga ia tak pernah sekalipun berpikir untuk menyia-nyiakannya.

Tahun demi tahun berlalu, mereka tetap begitu.  Mesra namun tak terikat.  Resah yang dirasa pria itu semakin menjadi setiap harinya.  Ia takut ia akan kehilangan wanita yang benar-benar ia sayangi dengan cara yang menyakitkan karena keadaan yang mereka jalani ini.  Tapi wanita itu selalu meyakinkannya bahwa mereka akan terus bersama biar bagaimanapun keadaannya. 

Genggaman tangan di suatu sore 20 tahun yang lalu di sebuah taman dimana pria itu kini duduk di bawah rintik hujan, masih sangat jelas ia ingat dan ia rasakan. Waktu itu cuaca mendung dan udara sangat dingin.  Mereka berdua sepakat untuk bertemu di taman itu karena ada sesuatu yang hendak disampaikan oleh wanita itu. Dengan perasaan sedikit heran dan bertanya-tanya, pria itu menuruti keinginan wanita itu. Tergambar di benaknya bahwa ini bisa menjadi kali terakhir mereka bersama. Entah kenapa waktu itu ia memiliki suatu perasaan yang buruk akan pertemuan mereka ini. Pria itu cukup gugup saat mempersiapkan segala  sesuatunya dengan sangat sempurna, ia mencoba mengesankan wanita itu dengan penampilannya.

Mereka berdua bertemu di taman itu, duduk di sebuah kursi panjang yang sekarang pria itu tempati. Perasaan tak enak dan gugup luar biasa dirasakan olehnya. Pria itu benar-benar tak dapat menguasai dirinya. Meski udara sangat dingin kala itu, namun rasa gerahlah yang terus ia rasakan. Sejak awal ia memang merasakan akan ada sesuatu yang buruk.

Begitu juga dengan wanita itu, ia seakan merasa berdosa. Ia sadar apa yang akan disampaikannya dapat sangat mengejutkan pria itu dan mengguncang hatinya. Wanita itu mencoba mencairkan suasana dengan mengajak pria itu mengobrol dan mencoba menjauhkan ketegangan dari permasalahan sebenarnya.

Wanita itu paham apa yang dirasakan oleh lawan bicaranya. Ia menghentikan kata-katanya dan sejenak menghela nafas panjang. Mempersiapkan dirinya untuk apa yang segera ia utarakan. Tatapannya dalam kearah dua bola mata pria itu namun tetap sayu, seakan menunjukkan ketidaksiapan dirinya. Pria itu semakin gugup. Namun tiba-tiba wanita itu menjulurkan kedua tangannya dan kemudian menggenggam tangan kanan pria itu. Mata yang tadinya sayu kini berubah berkaca-kaca. Genggaman tangannya itu seakan menunjukkan betapa ia tak kuat harus mengatakan apa yang tidak seharusnya ia katakan.

Pria itu terkejut dan membalas tatapan wanita itu dengan tak kalah khawatirnya. Ekspresi wajah yang sangat gugup terlihat jelas darinya. Bahkan bukan rasa gerah lagi yang ia rasakan, tanpa ia sadari keringatnya pun membasahi pakaian yang ia kenakan, seakan udara dingin waktu itu samasekali tak sedikitpun menyentuh tubuhnya.

Sekali lagi, wanita itu menghela nafas panjangnya. Genggaman tangannya semakin kuat terasa. Ia merasakan bibirnya kaku, enggan mengikuti maunya untuk berkata. Ia sangat takut kala itu, ya, takut. Dan saat ia membuka kata, mengatakan apa yang sedari tadi ingin ia sampaikan, air matanya mengalir di pipi merahnya. Sejenak keadaan menjadi hening. Tak terdengar sepatah katapun keluar dari mulut mereka berdua setelah wanita itu selesai mengatakan apa yang ingin ia sampaikan.

Wanita itu merasa lega namun berdosa. Ia lega karena telah dapat menguasai diri untuk membuka kata. Namun merasa berdosa karena apa yang ia sampaikan seperrti sebuah pengkhianatan.

Sementara pria itu, ia diam dalam sunyi yang ia rasakan sendiri. Seakan tak percaya dengan apa yang baru ia dengar. Menutup mata dan berharap itu hanya mimpi begitu ia mebukanya kembali. Namun sayang itu bukanlah mimpi. Mendapati orang yang disayang ternyata telah akan menjalin kasih dengan orang lain, cukup membuat pikirannya melarung jauh tanpa terkendali.

Ya, wanita itu, yang tak pernah mau menerima cinta pria itu, yang tidak pernah mau mengatakan ‘ya’, kini sudah menemukan orang yang benar-benar ia cintai. Bukan seseorang yang ada dihadapannya, namun orang yang terpisah samudra dengannya kala itu.

Benar saja itu adalah pertemuan terakhir mereka. Setelahnya wanita itu akan meninggalkan kota tempat dimana ia dan pria yang sangat menyayanginya itu bertemu untuk pertama kali dan menjalin sebuah hubungan tak pasti. Ia memutuskan untuk memulai sebuah kehidupan baru.

Tak ingin melepasnya begitu saja, pria itu bersumpah akan tetap mengunjungi taman kecil tempat mereka berpisah, setiap tahun selama bulan Desember, hanya untuk menunggu kedatangan wanita itu lagi dan menjumpainya di sana. Wanita itu melarang rencananya, karena ia tau bahwa ia tak akan pernah kembali ke kota itu apapun keadaannya.

Tak goyah dengan apa yang wanita itu katakana, ia bersikeras untuk tetap menjalankan sumpahnya. Dan kini, sudah tahun kedua puluh ia menjalankan sumpahnya. Buat sebagian orang, apa yang ia lakukan adalah hal yang sangat bodoh. Menanti seorang wanita di sebuah taman kecil setiap tahun, yang bahkan wanita itu seakan tidak lagi mengharapkan kehadirannya.

Namun sekali lagi, ia tak goyah dengan anggapan orang atas dirinya. Baginya, apa yang ia lakukan itu adalah hal yang sangat dinikmatinya. Meski terkadang ia juga sadar, itu adalah hal yang sangat sia-sia.

Kembali ia menatap lembaran buku yang ia pegang, menatap masa lalu dan kenangan-kenangannya. Tak pernah bisa lepas dari ingatannya akan sosok wanita yang masih ia anggap terlalu spesial bagi dirinya.

Jam tangannya sudah menunjukkan waktu yang memintanya untuk segera kembali. Dan lagi, sejak pertama ia menjalankan kebiasaannya ini, tak sekalipun ia dapati wanita itu di taman yang sama. Dan akan terus begini, hingga mungkin ia tak sanggup lagi berjalan untuk menjangkau kursi taman itu.

Desember, bulan penghujung tahun yang selalu terasa berat bagi pria setengah baya itu lewati dengan harapan penuh untuk dapat sekali saja memandang wajah wanita yang ia sayang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar