Jumat, 27 Januari 2012

NEGERI PARA PERAMAH YANG PEMARAH





“Tuhan menganugerahi sebuah negeri indah di atas bumi yang Ia ciptakan dengan sekumpulan manusia penuh keramahan yang menjadi wajah mereka. Sayang, kini justru kemarahan yang menjadi wajah dibalik wajah mereka.”

Itu sepenggal kalimat yang aku karang sendiri. Wujud dari keprihatinanku sebagai seorang anak bangsa yang ngerasa miris ngeliat keadaan di Indonesia sekarang ini.

Jelas banyak kita liat di tayangan berita tv ataupun dari media cetak yang ngeberitain tentang kerusuhan, kericuhan, bentrokan antar warga, bentrokan antara warga dan aparat, konflik antar warga dan lain segala macamnya. Heran, kenapa sering banget kejadian kayak gitu muncul di negara yang dikenal ramah tamah ini.

Kita semua pasti tau kan kalau Indonesia itu terkenalnya karena keramah tamahan orang-orangnya yang jadi karakter bangsa ini. Sikap dan sifat asli kita yang paling menonjol di mata dunia dan jadi nilai jual negara ini. Negara kita memang dikenal sebagai negara yang paling ramah menyambut turis-turis luar negeri yang datang ke Indonesia.

Tapi itu dulu. Sekarang, kayak yang aku bilang tadi..liat aja tu berita tv, koran, majalah yang setiap hari selalu aja ngeberitain tentang gimana anarkisnya orang-orang kita sekarang.

Manusia modern Indonesia sekarang gampang banget terpancing emosinya. Padahal cuma karena hal-hal sepele yang sebenarnya bisa diselesein pake cara kekeluargaan. Kayak misalnya saling ejek, selisih paham dan yang parahnya cuma karena pemuda kampung sok keren yang saling pandang atau bereng bisa ngebuat sampe jadi perang antar kampung. Bukannya lebih bagus kalau pandang-pandangan itu diterusin jadi saling cinta? Biarin cinta sesama jenis, yang penting hidup tetap damai.

Itu cuma sebagian kecil contoh. Kalau diliat secara keseluruhan, memang bener kata sebagian orang dan media di negara ini kalau Indonesia udah kehilangan sifat aslinya, yaitu keramahan manusia-manusianya.

Kita gak bisa lagi dibilang negara yang penuh keramahan. Dunia tau gimana kita sekarang. Mulai dari anak ingusan sampe para orangtua demen banget sama yang namanya musuh-musuhan.

Anak sekolah yang masih doyan merengek minta goceng dari emaknya aja udah pande anggar jago di depan anak sekolahan lain. Liat tu berapa banyak kasus tawuran antar sekolah yang sering diperanin sama anak-anak SMA. Mereka ngandelin senjata tajam, kayak pisau, parang, celurit.

Apa coba motivasinya? Apa udah bosan hidup? Atau mau dibilang keren karena udah pernah ikut tawuran?

Aku bener-bener heran ngeliat mereka. Udahlah mereka tu bego, kayak otaknya dipasang di pantat, jelek-jelek lagi mukanya..tapi kok sok jago gitu.. Kasian juga sih sebenernya, kasian karena mereka gak mampu make akal dengan baik sebaik binatang yang bahkan gak punya akal.

Mereka itu pantesnya dikarungin, terus dibuang ke kali Ciliwung biar makin jelek mukanya.  Merekalah anak-anak muda yang ngebuat wajah negara ini jadi serem. Pemuda yang seharusnya bisa nerusin kepemimpinan negara justru malah betingkah hina gitu. Ntar kalaupun ada dari mereka yang jadi anggota dewan, mungkin mereka bakal terus tawuran kayak zaman SMA nya tapi kali ini senjatanya duit.

Oke, itu tadi dari sisi anak-anak muda yang mikir pake telapak kaki. Gimana dengan yang tua-tua?

Dan ternyataaa.. sama aja. Para orangtua di negara ini sering betingkah di luar kewajaran. Mereka yang seharusnya jadi contoh baik buat kawula muda yang galauan justru jadi contoh eek gitu.

Sedikit selisih paham bisa jadi ngebuka peluang bentrok yang sebesar-besarnya. Misalnya ni contohnya: Jono, seseorang dari kampung A keserempet motor Bono (bukan vokalis U2), orang dari kampung B. Dan..yah udah pasti pada taulah apa yang terjadi selanjutnya. Ya jelas..perang antar kampung yang kemudian terjadilah lempar-lemparan, pukul-pukulan, bacok-bacokan, mati-matian dan akhirnya, kubur-kuburan.

Karena yang ada di otak mereka cuma pikiran primitif semacam : ‘orang itu pasti niatnya mau ngebunuh si Jono’, ‘Bono pasti mau ngerebut bini si Jono, pasti!’ atau yang pikirannya  polos tapi primitif dia bakal bilang: ‘tu orang pasti lagi panik nyari WC karena udah kebelet banget,jadi deh dia nyerempet si Jono’. Dan masih banyak lagi.

Dan kenapa itu bisa terjadi? Kenapa rakyat Indonesia ini bisa jadi kayak gitu? Apa yang salah? Salahnya apa?

Kalau menurut aku, ada banyak faktor yang ngebuat bangsa kita jadi kayak gini sekarang. Pertama, ekonomi. Kenapa ekonomi? Jelas aja, negara ini masih dihuni sama jutaan orang miskin yang tersebar di seluruh pulau-pulau kita. Sementara gak sedikit juga orang kaya raya yang hidup di negara ini. Contohnya pejabat pemerintah yang doyan memperkaya diri dengan korupsi, iya, yang kayak jalang gitu deh, yang biasa dipanggil dengan sebutan koruptor.

Disaat banyak rakyat yang hidup mati nyari recehan cuma untuk bisa nelan sesuap nasi, mereka yang di sana malah enak-enakan duduk manis di ruangan tanpa ngelakuin apa-apa dan nerima gaji di awal bulan yang besarnya bikin kantong celana bahkan sempak mereka jebol buat nampung tu duit.

Rakyat tau apa yang mereka lakuin, rakyat tau apa yang mereka perbuat selama berstatus sebagai wakil rakyat. Dan itulah yang membuat sebagian rakyat negara ini jadi beringas. Mereka jenuh dengan kehidupan yang gak kunjung membaik bahkan sejak mereka belum diizinkan Tuhan untuk lahir ke dunia.

Kesenjangan ekonomi memang jelas banget di negara ini. Para buruh yang bekerja dengan gaji di bawah standar sering nuntut ke pemilik kaya perusahaan tempat mereka kerja supaya gaji mereka dinaikin. Karena memang gaji mereka rendah banget. Tapi pemilik perusahaan gak mau nurutin dengan berbagai alasan mereka, yah..jadilah kericuhan, bentrok antar buruh dan aparat yang ngebeckingin pengusaha tadi.

Coba kalau seandainya gak ada kesenjangan ekonomi di negara ini. Rakyat juga gak bakalan mau demo-demoan, ricuh-ricuh gitu. Buat apa coba capek-capek rusuh begituan.. mereka ngelakuin itu karena tuntutan hidup. Biar gak tragis mati kelaparan.

Yang kedua, gampangnya kita di adu domba. Kita ini negara majemuk termajemuk di dunia. Suku bangsa kita terbanyak di dunia, ada sekitar 300-an lebih, gitu juga dengan bahasa daerah juga yang paling banyak. Dan negara ini punya 5 agama besar dunia yang sangat dilindungi dan dihargai, dulu sih..

Jadi masalah sensitifitas di negara ini sering banget muncul. Perang antarsuku, saling benci antarsuku itu udah jadi hal biasa di negara ini sekarang.

Malah yang menyangkut masalah kuburan juga saudara-saudara kita ini gak segan buat ngelakuin tindakan kekerasan.

Dan yang jadi penyebab utama itu semua karena mudahnya orang-orang kita di adu domba sama mereka, orang-orang yang punya kepentingan merusak negara ini. Cara mereka ngadu domba kita itu ada banyak, kita aja yang gak sadar karena kita sekarang lebih sering mentingin kepentingan diri sendiri dan kelompok kita.

Gak ada lagi rasa persaudaran kayak dulu dimana Indonesia ini dikenal sebagai negara yang sangat ngehargai perbedaan antar sesama. Sekarang, perbedaan di antara manusia-manusia Indonesia lebih pantas dijadiin bara untuk buka jalan banyak konflik di negeri ini bagi mereka yang memang niatnya jelek.

Perbedaan di negara ini kayak: ‘hiih! tu anak kok item gitu ya, jelek lagi.. matiin yok!’ atau ‘ehh dia ngomong pake bahasa apaan sih? aku gak ngerti.. kita sumpel aja mulutnya gimana!’


Mana Bhinneka Tunggal Ika yang jadi slogan bangsa ini? Apa Cuma dijadiin slogan doang? Gak dilaksanain? Atau malah jangan-jangan gak tau lagi tu artinya apaan..
Adu domba itu sebenarnya mirip sama tindakan provokator. Mereka yang suka ngelakuin itu adalah mereka yang kapasitas otaknya ada di bawah standard. Mereka sering muncul dan jadi orang paling heboh begitu ada kejadian sepele yang kayak keserempet motor tadi.

Dengan gaya kayak lagi niruin pidato Pak Karno yang berapi-api, mereka mulai ngeluarin kata-kata provokatif, semisal mulai dari yang sederhana: ‘ayo! kita balas dia!’ atau yang gini: ‘oke! kalau gitu kita culik biniknya!!’ , nah kalau yang satu ini nampaknya udah kebelet banget pingin kawin.

Dan karena, sekali lagi, mudahnya orang-orang kita di adu domba dan kena provokasi kacangan macam itu, mulai deh.. pada pulang ke rumah masing-masing. Bukan, bukan bubaran. Mereka pulang buat langsung ke dapur. Bukan, bukan makan..mereka mau ngasah pisau dan golok dan lain sebagainya. Alhasil, ini bakal ganggu banget buat istri-istri mereka yang lagi asik ngeluarin air mata karena ngiris bawang di dapur.

Dua faktor ini adalah faktor yang paling berpengaruh ke perilaku beringas orang Indonesia akhir-akhir ini selain banyak faktor lainnya.
Dan rakyat gak bisa sepenuhnya disalahkan tentang ini. Pemerintah, sebagai penguasa negara yang dipercaya menjalankan kepemimpinan negara ini harusnya peka apa keinginan rakyat. Andailah rakyat Indonesia punya kehidupan yang makmur, pasti ini semua gak bakal kejadian. Ya, kita boleh bermimpi kayak gitu. Sambil berharap Tuhan menjadikan nyata mimpi kita secara serempak.

Sekarang, kita harus sadar kalau kita lagi tumbuh dewasa di atas tanah yang belum bisa dewasa sepenuhnya. Tentu kita gak mau kan ikut-ikut beringasan kayak mereka-mereka itu.

Cuma rasa saling menghormati sesamalah yang bisa bikin berita di negeri ini kehabisan laporan tentang kerusuhan. Perbedaan itu mengindahkan orang-orang yang memilikinya.

Aku pingin berandai-andai.. Andaikan gak ada kontak fisik yang ngebuat luka, andaikan gak ada pandangan mata yang membawa bara, mungkin negara ini bakal terlihat kayak di setiap episode Teletubbies. Kontak fisik mereka adalah saling berpelukan dan pandangan mata mereka membawa cinta.

Di atas negeri ini, izinkan hati kita merasakan keharmonisan yang tertutup reruntuhannya. Maka, kemarahan kita akan kembali menjadi keramahan yang istimewa. 

Minggu, 15 Januari 2012

Menjadi Dewasa Bukan Sebuah Pilihan, Menjadi Dewasa Itu Adalah Sebuah Tuntutan



“Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan”
Pernah denger atau ngebaca kalimat yang semacam motivasi atau apalah itu kan? Pasti pernah dong.. atau jangan-jangan kamu malah yang addict banget sama kalimat yang satu ini. Kalimat itu jadi ngetrend di antara kaum muda Indonesia sekarang. Aku gak tau siapa orangnya yang nyebarin kalimat macam ini pertama kali.. atau mungkin kalimat ini memang udah ada dari zaman bapak-mamak kita lagi asik-asiknya cinta monyet. Yang pasti, kalimat itu ngundang keprihatinan buatku (cieh..prihatin.. kayak presiden aja pake prihatin-prihatin segala).

“Jadi, kenapa pulaklah ko prihatin Dit!?” - seseorang yang tak berwujud nanya sinis pake logat Bataknya yang kental sekental-kentalnya. Kenapa mesti logat Batak? Karena logat ini aku anggap keren.

Jawabnya sederhana, aku jawab tapi dengan sebuah pertanyaan : “So, kalau dewasa itu pilihan, berarti elo punya kemungkinan gak mau jadi dewasa dong?” - aku balesin pake style anak gaul Jekarda.

Udah dapet arah pembahasannya kan? Nah, dari judulnya aja udah jelas kita bisa ngartiin sendiri kalimat itu. Penggalan pertama : “MENJADI TUA ITU PASTI,” , jelas kita yang sekarang masih betingkah sok keren di depan lawan jenis atau mungkin sesama jenis, nampil dengan style terupdate masa kini, demen nongkrong berjam-jam cuma buat ngebuang duit orangtua dengan sia-sia..nantinya juga bakal keriput mampus, lupa nama binik sendiri, keseringan make sarung dan duduk di kursi goyang seharian, kalau udah dateng waktunya.

Benerkan? Itu yang namanya tua. Tua dalam arti angka usia makin nambah, fisik yang udah makin lemah, daya tahan yang udah diambang batas dan perut yang dulunya sixpack begitu tua jadi lebih mirip sama keset bekas. Kita pasti bakal ngalamin yang kayak gitu kalau Tuhan masih ngizinin paru-paru kita untuk lebih lama nyedot oksigen diantara banyaknya gas kentut kendaraan.



Lanjut kepenggalan kedua dari kalimat itu : “MENJADI DEWASA ITU PILIHAN.”
Ini ni yang jadi permasalahnya..kalau dewasa itu pilihan, berarti ngebuka peluang buat kamu untuk jadi dewasa atau gak jadi dewasa. Iyakan?

Aku heran, kenapa sih jadi dewasa itu dibilang merupakan suatu pilihan? Coba deh pikir, mau sampe kapan tetep jadi anak-anak terus? Mau sampe kapan mengkek-mengkek minta suapin sama emak terus? Mau sampe kapan dimandiin sama emak terus? Gak liat apa tu barang udah nakutin gitu bentuknya?

Dewasa itu muaranya ke pola pikir. Seseorang bisa dibilang dewasa kalau punya pola pikir yang baik, maju dan gak gampang nyerah dengan keadaan, punya banyak ide dan cara untuk nyelesein suatu permasalahan, bisa ngehargain orang lain, bisa nerima kenyataan dan bijak ngambil keputusan dan lain sebagainya.

Nah, kalau kamu yang udah 18+ dan yang udah diizinin nontonin orang main film yang gak pake baju masih nganut paham beginian, mau jadi apa coba? Kasihanilah diri sendiri, dewasa itu untuk kita sendiri bukan untuk orang lain.

Banyak dampaknya kalau kita make kalimat itu jadi pedoman hidup. Karena sikap dewasa itu adalah tuntutan hidup seseorang. Kalau dari sekarang udah dibiasain dengan suara hati yang bilang gak mau jadi dewasa, aku yakin ke depannya kamu bakal nemuin kesulitan beradaptasi.

Ada yang bilang umur gak nentuin kedewasaan seseorang. Bener banget itu. Memang umur gak nentuin kedewasaan seseorang, tapi paling enggak kita bisa coba ngatur pola pikir kita kearah yang lebih baik - mencoba lebih baik daripada menyesali-. Apalagi kalau kamu udah secara sah dinyatain dewasa sama agama. Berarti kamu punya tanggung jawab yang lebih. Dosa udah ditanggung sendiri.

Tapi lagi, kalau dibilang umur gak nentuin kedewasaan..orang yang udah 40-an tahun juga bisa dibilang gak dewasa kalau memang kenyataannya gitu. Yang jadi pertanyaan..apa kamu mau jadi yang kayak gitu? 40 tahun tapi masih netek sama mamak..

Memang jadi dewasa itu gak mudah. Kita butuh proses panjang untuk jadi orang yang bener-bener bisa dianggap dewasa. Aku yang nulis ini aja ngakuin kalau aku masih banyak celah  untuk bisa dibilang dewasa. Tapi seenggaknya ya itu tadi, dicoba. Alhasil, perlahan tapi pasti sikap mulai terbentuk dan aku nikmatin banget aku yang sekarang ini. Rasanya kalau kita punya pola pikir dewasa itu kita serasa jadi orang keren dan memang keren.

Lah terus gimana kalau sebagian dari kita, atau kamu mungkin..gak mau nyoba jadi dewasa? Hei hei..sadarilah..masa-masa kita main mobil-mobilan plastik di atas tumpukan pasir itu udah lewat..masa-masa kita main masak-masakan juga udah lewat, sekarang kita dituntut untuk bisa masak makanan yg betul-betul makanan, apalagi masa-masa kita main dokter-dokteran..sekarang kita bisa praketkin sendiri tu dokter-dokterannya. Eits! Jangan pada mikir jorok!

Jangan pernah sekalipun terlena dalam ketidakdewasaan diri sendiri. Jangan pernah minta sama Tuhan kalau gak mau diciptakan jadi dewasa cuma gara-gara tenggelem sama kenikmatan cinta monyet masa SMA. Ingat penggalan kalimat yang pertama : “MENJADI TUA ITU PASTI”.. nah kalau gitu berarti umur gak bisa distop kecuali Tuhan yang nyetop kan.. Jadi gimana pun kerasnya kita dengan gak mau jadi dewasa..kita tetep bakal jadi tua. Kita bakal pisah dari orangtua, kita bakal dituntut untuk hidup mandiri, kita juga bakal punya keluarga sendiri dan kita bakal punya anak. Apa gak malu coba seandainya anak kita ternyata lebih dewasa dari kita? Beli Barbie baru ehh gak taunya yang main malah emaknya. Mending tukaran aja siapa anak siapa bapak/mamak.

Mulai sekarang buang jauh-jauh pikiran yang ngotorin otak kita yang bilang gak mau jadi dewasa itu. Menjadi dewasa bukan sebuah pilihan, tapi menjadi dewasa itu adalah sebuah tuntutan. Kita gak bisa terus-terusan bertingkah alay lebay kayak jablay gitu.

Udah banyak orang yang ditinggalin orang lain karena gak pernah bisa jadi dewasa. Image mereka jadi jelek di antara orang-orang yang pola pikirnya lebih baik dari mereka.

Aku sadar ini hak asasi setiap orang untuk nentuin arah hidupnya sendiri. Aku cuma sekedar sharing dan memotivasi kita untuk jadi orang yang lebih baik, salah satunya dengan ningkatin kedewasaan kita. Aku gak nyalahin dan gak maksain orang-orang untuk ngikutin saran aku atau setuju dengan yang aku bilang. Sebelum diserap semuanya mungkin ada baiknya kalau kalian filter mana yang bener dan mana yang enggak.

Sekali lagi pesan dari aku, menjadi dewasa bukan sebuah pilihan, tapi menjadi dewasa itu adalah sebuah tuntutan. Biarpun nantinya kembali ke perspektif orangnya masing-masing, tapi ada baiknya liat lagi resiko kalau jadi orang yang gak pernah mau jadi dewasa. Karena sesal bukan ada di tangan ku apalagi di tangan Tuhan. Sesal ada di tangan kita sendiri yang tetep ikhlas jadi manusia gak dewasa.

Kamis, 12 Januari 2012

Nasionalisme Dalam Kacamata Minus Lima



“Eh..ngapain sih udah ganti tas juga gantungannya asik bendera ituuu aja.”

“Emang kenapa? Salah?” “Aku cinta Indonesia makanya ini aja yang kupake.”

Itu sepenggal percakapan singkat antara aku sama seseorang teman waktu kami barengan jalan masuk ke sebuah tempat makan sepulang dari kampus. Gak perlu dijelasin deh, privasi orang soalnya. Awalnya sih sempet kaget ditanyain gitu,. Emang kenapa coba? Kok kayaknya aneh gitu ya make gantungan bendera di tas? Ha?

Sebenernya sih aku baru-baru aja inisiatif make pita bendera Merah Putih untuk gantungan di tas. Pita itupun sebenernya punya adekku yang udah gak kepake lagi, bekas acara 17-an di sekolahnya. Aku liat sayang kan kalau tu pita dibuang gitu aja. Jadi aku pake dan aku iketin di kancing tas. Keren! Itu kalimat yang pertama kali keluar dari otakku waktu ngeliatnya.

Sejak make gantungan pita bendera itu aku makin pede nampil di depan orang banyak sambil ngegendong tas punggung hitam punyaku. Dan aku makin pede dengan NASIONALISME yang aku punya. Sampai akhirnya orang tadi yang mungkin punya alergi sama gantungan benderaku itu nanyain hal paling bodoh yang pernah kudengar. Seingatku, aku ngejawab pake nada agak tinggi, ya mirip-mirip orang nyolot gitulah.

Ya oke, mungkin sebagian orang bakal nganggep kalau tu pita bendera cuma sekedar pita bendera biasa. Dan mungkin malah dibuang karena dianggap sampah dan gak berguna pikirnya. Tapi buat aku pribadi, sulit ngelakuin yang kayak gitu. Aku ngehargain banget yang namanya simbol Negara dalam bentuk gimanapun itu. Contohnya pita bendera yang harganya cuma 2000 rupiah itu tadi.

Dari pertanyaan sampah yang aku terima itu, aku mulai yakin memang, sangat, bener, banget, kalau nasionalisme anak muda Indonesia sekarang tu udah gak ada. Temen-temen kita yang masih labil ini gak ngerti samasekali apa itu nasionalisme. Mereka heran ngapain sih pita bendera gituan dijadiin hiasan di tas.. Kampret! Telen tu binatang kampret bulet-bulet biar pada tau apa arti nasionalisme dan gimana caranya biar bisa cinta negara sendiri bukan negara orang lain, kayak negara yang ngelahirin boyband-boyband dan bisa ngebuat cewek-cewek di Indonesia jadi sakau tiap ngeliat mereka.

Ya gak salah sih kalau ngidolain orang-orang macam itu. Bukan..aku samasekali gak ngiri. Yang jadi masalahnya di sini, kita yang terlalu ngidolain mereka akhirnya jadi samasekali gak ngidolain negara sendiri. Sampe-sampe  lupa siapa nama presiden kita sekarang karena saking gak pedulinya sama negara ini. Dan lupa tempat lahirnya dimana karena pingin banget bisa dilahirin di negara orang, parah kan..

Apa pada gak ngerti ya kalau Kakek-Kakek buyud kita di zaman dulu itu berjuang setengah mati untuk ngebebasin negara bego ini dari penajajah? Gak ngerti?? Pernah sekolah kan? Udah sama-sama namatin SD kan? Pernah belajar sejarah kan? Makanya, kalau belajar sejarah tu yang serius. Ngerti gak sejarah itu penting?? Jangan itung-itungan aja yang ditelen. JASMERAH!! Itu kata Pak Soekarno.

Coba deh renungin bentar aja, kenapa sih kita segitu gak pedulinya sama negara ini.. Kenapa kita malah lebih milih ngedewain negara orang daripada Indonesia ini..

Gak ada yang salah sama negara ini sampai kita lah yang sebenernya ngelakuin kesalahan dan ngebuat Indonesia jadi semacam tempat yang hina. Tadi aku nulis ‘negara bego’.. ada yang ngerasa tersinggung aku nulis gitu? Kalau gak tersinggung berarti kamu cacat. Atau ada yang mungkin nanya gini : ‘Katanya punya nasionalisme, terus kenapa malah nulis negara bego macam gitu segala?’

Ada alasannya aku nulis gitu. Kalau kita bukan negara bego, gak akan ada manusia yang nanyain pertanyaan sampah yang aku tulis di awal itu tadi. Gak akan ada ababil-ababil yang ngedewain artis-artis luar negeri ngelebihin dari pemujaannya ke Tuhan. Gak akan ada anak sekolahan yang masih netek sama mamaknya gelar acara tauran massal yang ngundang preman-preman kampung yang bahkan gak pernah sekolah.

Pikir coba. Emang sulit ya numbuhin rasa nasionalisme di jiwa kita? Emang sulit ya ngebuat kita cinta negara sendiri? Mana coba yang lebih sulit, mencintai negara sendiri apa mencintai pacar orang?

Kita tinggal di Indonesia, negara yang tahun ini umurnya 67 tahun. Tua memang, kasian kan. Masa udah 67 tahun gak pernah sekalipun dicintai sama rakyatnya yang masih muda-muda ini.. Atau apa kita mau jadi kayak anak durhaka yang ninggalin orangtua gitu aja karena umurnya yang semakin tua?

Sadarilah, gimanapun jeleknya negara ini, gimanapun bobroknya sistem di negara ini, cuma kita yang mudalah yang bisa ngebenerinnya. Mereka yang tua-tua di gedung megah sana udah gak mampu lagi ngejalanin tugasnya dengan baik. Liat aja tu kalau rapat anggota dewan, berapa orang coba yang datang..cuman sedikit, banyakan bangku kosongnya tu di ruang rapat. Itu bukti kalau mereka yang tua udah gak mampu, mungkin jalan ke gedung buat rapat pun udah gak mampu karena saking tuanya. Kasian kan..

Nasionalisme. Harganya mahal lho ini. Kenapa aku bilang mahal? Bayangin coba kalau sekitar 230 juta jiwa rakyat Nusantara gak ditanamin bunga nasionalisme..mau jadi apa Negara ini. Udah dibayangin? Bayangin dong..aku serius ini.

Kenapa cuma waktu ada kontra sama negara tetangga aja semua pada heboh semangat nasionalisme? Liat tu waktu si maling ngelawanin Timnas kita di GBK. Stadion penuh sesak sama orang-orang yang make baju warna merah, dan mereka juga berjuang ngedapetin oksigen bebas yang masih mengudara. Mana coba orang Indonesia yang gak ngedukung Timnas waktu itu? Gak ada kan? Semua ngedukung dan teriak-teriak “INDONESIA-INDONESIA-INDONESIA”. Tapi begitu pertandingan buyar, beberepa bulan kemudian, kenapa malah negara boyband itu yang kita teriakin? Apa perlu Timnas kita tanding sama si maling tiap hari di GBK biar nasionalisme kita tetep ada tiap hari? Apa tega kita ngeliat bola ditendang terus-terusan gitu? Apa gak kasian sama pemain-pemain Timnas? Aku gak kasian, tapi sama pemain-pemain negara maling.

Ayolah sadar, negara ini butuh kita. Cuma kita para anak muda keren yang bakal jadi manusia lebih keren kalau kita sukses ngebuat negara ini jadi hebat. Hebatnya negara ini, hebatnya kita nanti cuma bisa terwujud dari satu modal awal..NASIONALISME.

Dan kita gak akan butuh sebuah kacamata untuk ngeliat gimana negara ini layak untuk kita cintai. Jangan jadikan diri kita kayak orang yang harus make kacamata minus baru bisa ngeliat dengan jelas. Nasionalisme adalah jiwa kita.


Ini tas punggung yang sering aku pake ngampus. Tuh liat pita benderanya..

 

 Dan ini, tas yang aku pake waktu orang itu ngomentarin si pita bendera..