“Tuhan menganugerahi sebuah negeri indah di atas bumi yang Ia ciptakan dengan sekumpulan manusia penuh keramahan yang menjadi wajah mereka. Sayang, kini justru kemarahan yang menjadi wajah dibalik wajah mereka.”
Itu sepenggal kalimat yang aku
karang sendiri. Wujud dari keprihatinanku sebagai seorang anak bangsa yang
ngerasa miris ngeliat keadaan di Indonesia sekarang ini.
Jelas banyak kita liat di
tayangan berita tv ataupun dari media cetak yang ngeberitain tentang kerusuhan,
kericuhan, bentrokan antar warga, bentrokan antara warga dan aparat, konflik
antar warga dan lain segala macamnya. Heran, kenapa sering banget kejadian
kayak gitu muncul di negara yang dikenal ramah tamah ini.
Kita semua pasti tau kan kalau
Indonesia itu terkenalnya karena keramah tamahan orang-orangnya yang jadi
karakter bangsa ini. Sikap dan sifat asli kita yang paling menonjol di mata
dunia dan jadi nilai jual negara ini. Negara kita memang dikenal sebagai negara
yang paling ramah menyambut turis-turis luar negeri yang datang ke Indonesia.
Tapi itu dulu. Sekarang, kayak
yang aku bilang tadi..liat aja tu berita tv, koran, majalah yang setiap hari
selalu aja ngeberitain tentang gimana anarkisnya orang-orang kita sekarang.
Manusia modern Indonesia sekarang
gampang banget terpancing emosinya. Padahal cuma karena hal-hal sepele yang
sebenarnya bisa diselesein pake cara kekeluargaan. Kayak misalnya saling ejek,
selisih paham dan yang parahnya cuma karena pemuda kampung sok keren yang
saling pandang atau bereng bisa ngebuat sampe jadi perang antar kampung.
Bukannya lebih bagus kalau pandang-pandangan itu diterusin jadi saling cinta?
Biarin cinta sesama jenis, yang penting hidup tetap damai.
Itu cuma sebagian kecil contoh.
Kalau diliat secara keseluruhan, memang bener kata sebagian orang dan media di
negara ini kalau Indonesia udah kehilangan sifat aslinya, yaitu keramahan
manusia-manusianya.
Kita gak bisa lagi dibilang
negara yang penuh keramahan. Dunia tau gimana kita sekarang. Mulai dari anak ingusan
sampe para orangtua demen banget sama yang namanya musuh-musuhan.
Anak sekolah yang masih doyan
merengek minta goceng dari emaknya aja udah pande anggar jago di depan anak
sekolahan lain. Liat tu berapa banyak kasus tawuran antar sekolah yang sering
diperanin sama anak-anak SMA. Mereka ngandelin senjata tajam, kayak pisau,
parang, celurit.
Apa coba motivasinya? Apa udah
bosan hidup? Atau mau dibilang keren karena udah pernah ikut tawuran?
Aku bener-bener heran ngeliat
mereka. Udahlah mereka tu bego, kayak otaknya dipasang di pantat, jelek-jelek
lagi mukanya..tapi kok sok jago gitu.. Kasian juga sih sebenernya, kasian
karena mereka gak mampu make akal dengan baik sebaik binatang yang bahkan gak
punya akal.
Mereka itu pantesnya dikarungin,
terus dibuang ke kali Ciliwung biar makin jelek mukanya. Merekalah anak-anak muda yang ngebuat wajah
negara ini jadi serem. Pemuda yang seharusnya bisa nerusin kepemimpinan negara
justru malah betingkah hina gitu. Ntar kalaupun ada dari mereka yang jadi
anggota dewan, mungkin mereka bakal terus tawuran kayak zaman SMA nya tapi kali
ini senjatanya duit.
Oke, itu tadi dari sisi
anak-anak muda yang mikir pake telapak kaki. Gimana dengan yang tua-tua?
Dan ternyataaa.. sama aja. Para
orangtua di negara ini sering betingkah di luar kewajaran. Mereka yang
seharusnya jadi contoh baik buat kawula muda yang galauan justru jadi contoh
eek gitu.
Sedikit selisih paham bisa jadi
ngebuka peluang bentrok yang sebesar-besarnya. Misalnya ni contohnya: Jono, seseorang
dari kampung A keserempet motor Bono (bukan vokalis U2), orang dari kampung B.
Dan..yah udah pasti pada taulah apa yang terjadi selanjutnya. Ya jelas..perang
antar kampung yang kemudian terjadilah lempar-lemparan, pukul-pukulan,
bacok-bacokan, mati-matian dan akhirnya, kubur-kuburan.
Karena yang ada di otak mereka
cuma pikiran primitif semacam : ‘orang
itu pasti niatnya mau ngebunuh si Jono’, ‘Bono pasti mau ngerebut bini si Jono,
pasti!’ atau yang pikirannya polos tapi primitif dia bakal bilang: ‘tu orang pasti lagi panik nyari WC karena
udah kebelet banget,jadi deh dia nyerempet si Jono’. Dan masih banyak lagi.
Dan kenapa itu bisa terjadi?
Kenapa rakyat Indonesia ini bisa jadi kayak gitu? Apa yang salah? Salahnya apa?
Kalau menurut aku, ada banyak
faktor yang ngebuat bangsa kita jadi kayak gini sekarang. Pertama, ekonomi.
Kenapa ekonomi? Jelas aja, negara ini masih dihuni sama jutaan orang miskin
yang tersebar di seluruh pulau-pulau kita. Sementara gak sedikit juga orang
kaya raya yang hidup di negara ini. Contohnya pejabat pemerintah yang doyan
memperkaya diri dengan korupsi, iya, yang kayak jalang gitu deh, yang biasa
dipanggil dengan sebutan koruptor.
Disaat banyak rakyat yang hidup
mati nyari recehan cuma untuk bisa nelan sesuap nasi, mereka yang di sana malah
enak-enakan duduk manis di ruangan tanpa ngelakuin apa-apa dan nerima gaji di
awal bulan yang besarnya bikin kantong celana bahkan sempak mereka jebol buat
nampung tu duit.
Rakyat tau apa yang mereka
lakuin, rakyat tau apa yang mereka perbuat selama berstatus sebagai wakil
rakyat. Dan itulah yang membuat sebagian rakyat negara ini jadi beringas.
Mereka jenuh dengan kehidupan yang gak kunjung membaik bahkan sejak mereka
belum diizinkan Tuhan untuk lahir ke dunia.
Kesenjangan ekonomi memang jelas
banget di negara ini. Para buruh yang bekerja dengan gaji di bawah standar
sering nuntut ke pemilik kaya perusahaan tempat mereka kerja supaya gaji mereka
dinaikin. Karena memang gaji mereka rendah banget. Tapi pemilik perusahaan gak
mau nurutin dengan berbagai alasan mereka, yah..jadilah kericuhan, bentrok
antar buruh dan aparat yang ngebeckingin pengusaha tadi.
Coba kalau seandainya gak ada
kesenjangan ekonomi di negara ini. Rakyat juga gak bakalan mau demo-demoan, ricuh-ricuh
gitu. Buat apa coba capek-capek rusuh begituan.. mereka ngelakuin itu karena
tuntutan hidup. Biar gak tragis mati kelaparan.
Yang kedua, gampangnya kita di
adu domba. Kita ini negara majemuk termajemuk di dunia. Suku bangsa kita
terbanyak di dunia, ada sekitar 300-an lebih, gitu juga dengan bahasa daerah
juga yang paling banyak. Dan negara ini punya 5 agama besar dunia yang sangat
dilindungi dan dihargai, dulu sih..
Jadi masalah sensitifitas di
negara ini sering banget muncul. Perang antarsuku, saling benci antarsuku itu
udah jadi hal biasa di negara ini sekarang.
Malah yang menyangkut masalah
kuburan juga saudara-saudara kita ini gak segan buat ngelakuin tindakan
kekerasan.
Dan yang jadi penyebab utama itu
semua karena mudahnya orang-orang kita di adu domba sama mereka, orang-orang
yang punya kepentingan merusak negara ini. Cara mereka ngadu domba kita itu ada
banyak, kita aja yang gak sadar karena kita sekarang lebih sering mentingin
kepentingan diri sendiri dan kelompok kita.
Gak ada lagi rasa persaudaran
kayak dulu dimana Indonesia ini dikenal sebagai negara yang sangat ngehargai
perbedaan antar sesama. Sekarang, perbedaan di antara manusia-manusia Indonesia
lebih pantas dijadiin bara untuk buka jalan banyak konflik di negeri ini bagi
mereka yang memang niatnya jelek.
Perbedaan di negara ini kayak: ‘hiih! tu anak kok item gitu ya, jelek
lagi.. matiin yok!’ atau ‘ehh dia
ngomong pake bahasa apaan sih? aku gak ngerti.. kita sumpel aja mulutnya
gimana!’
Mana Bhinneka Tunggal Ika yang jadi slogan bangsa ini?
Apa Cuma dijadiin slogan doang? Gak dilaksanain? Atau malah jangan-jangan gak
tau lagi tu artinya apaan..
Adu domba itu sebenarnya mirip
sama tindakan provokator. Mereka yang suka ngelakuin itu adalah mereka yang
kapasitas otaknya ada di bawah standard. Mereka sering muncul dan jadi orang
paling heboh begitu ada kejadian sepele yang kayak keserempet motor tadi.
Dengan gaya kayak lagi niruin
pidato Pak Karno yang berapi-api, mereka mulai ngeluarin kata-kata provokatif,
semisal mulai dari yang sederhana: ‘ayo!
kita balas dia!’ atau yang gini: ‘oke!
kalau gitu kita culik biniknya!!’ , nah kalau yang satu ini nampaknya udah
kebelet banget pingin kawin.
Dan karena, sekali lagi,
mudahnya orang-orang kita di adu domba dan kena provokasi kacangan macam itu,
mulai deh.. pada pulang ke rumah masing-masing. Bukan, bukan bubaran. Mereka
pulang buat langsung ke dapur. Bukan, bukan makan..mereka mau ngasah pisau dan
golok dan lain sebagainya. Alhasil, ini bakal ganggu banget buat istri-istri
mereka yang lagi asik ngeluarin air mata karena ngiris bawang di dapur.
Dua faktor ini adalah faktor
yang paling berpengaruh ke perilaku beringas orang Indonesia akhir-akhir ini
selain banyak faktor lainnya.
Dan rakyat gak bisa sepenuhnya
disalahkan tentang ini. Pemerintah, sebagai penguasa negara yang dipercaya
menjalankan kepemimpinan negara ini harusnya peka apa keinginan rakyat.
Andailah rakyat Indonesia punya kehidupan yang makmur, pasti ini semua gak
bakal kejadian. Ya, kita boleh bermimpi kayak gitu. Sambil berharap Tuhan
menjadikan nyata mimpi kita secara serempak.
Sekarang, kita harus sadar kalau
kita lagi tumbuh dewasa di atas tanah yang belum bisa dewasa sepenuhnya. Tentu
kita gak mau kan ikut-ikut beringasan kayak mereka-mereka itu.
Cuma rasa saling menghormati
sesamalah yang bisa bikin berita di negeri ini kehabisan laporan tentang
kerusuhan. Perbedaan itu mengindahkan orang-orang yang memilikinya.
Aku pingin berandai-andai..
Andaikan gak ada kontak fisik yang ngebuat luka, andaikan gak ada pandangan
mata yang membawa bara, mungkin negara ini bakal terlihat kayak di setiap
episode Teletubbies. Kontak fisik mereka adalah saling berpelukan dan pandangan
mata mereka membawa cinta.
Di atas negeri ini, izinkan hati
kita merasakan keharmonisan yang tertutup reruntuhannya. Maka, kemarahan kita
akan kembali menjadi keramahan yang istimewa.
