Kadang, waktu kita mulai ngerasa sendiri dan benar-benar sendiri, kita mulai sering berkhayal punya seseorang yang bisa ngilangin rasa kesendirian itu. Khayalan yang sering muncul itu macam-macam, mulai dari yang standard kayak sekedar pegangan tangan sama pacar, jalan bareng, suap-suapan, sampe yang ekstrim ; numpahin sebotol penuh saos di mata pacarnya. Biasanya yang satu ini sering kejadian waktu si cewek mergokin cowoknya yang lagi asik sama tante-tante uzur, misalnya.
Dan
buat remaja zaman sekarang, salah satu cara ampuh buat ngilangin rasa sendiri
itu ya dengan pacaran. Buat kebanyakan orang, kalau gak punya pacar itu serasa
kayak orang yang berasal dari masa beribu tahun sebelum masehi. Mereka selalu ngerasa
asing di antara orang-orang yang terlihat jalan bareng sama pacar atau
boncengan motor beduaan dengan posisi duduk ceweknya kayak posisi joget trio
macan yang membeku.
Gak
bisa dipungkiri lagi kalau kehadiran seorang pacar itu memang penting. Pacar,
selain jadi orang yang bisa paling deket sama kehidupan kita dan paling ngerti
kita selain keluarga sendiri, terkadang bisa juga jadi orang yang rela
ngeluarin duitnya untuk makanan kita sewaktu kita lagi gak punya uang atau
pura-pura gak punya uang.
Dan
seorang jomblo, atau dalam bahasa halusnya : orang yang kerjanya hanya tinggal
menunggu waktu untuk pacaran, bakal sering dan sangat sering mengigau tentang
kapan mereka punya pacar. Tentu aja ini gak baik untuk kesehatan psikologis
seorang jomblo, karena bisa aja saking seringnya mereka berkhayal dan mengigau
tentang enaknya punya pacar, mereka justru jadi tertekan dan frustasi karena
ternyata kenyataan gak seperti yang diharapkan. Memang sih gak semua jomblo
bakal kayak gitu, masih banyak juga yang sanggup mikir waras atau yang sekedar
pura-pura mikir waras.
Banyak
orang menganggap mencintai dan dicintai adalah hal yang sangat penting, apalagi
di usia remaja-remaja labil gitu, yang kita kenal sebagai masa berpacaran buat
mereka yang belum mau untuk melihara seorang anak di antara mereka. Penting,
karena di balik kontroversinya, banyak hal yang bisa didapat dalam berpacaran.
Salah satunya adalah bagaimana kita belajar untuk mencintai seseorang dan
belajar untuk menghargai jika dicintai seseorang.
Tapi
selain dari satu tujuan yang paling mulia itu, ada juga kita kenal
tujuan-tujuan lainnya yang gak ada mulia-mulianya samasekali, misalnya :
Karena kepingin menghemat ongkos pulang pergi
ke sekolah/kampus, maka dia buru-buru nyari pacar seorang cowok yang bermotor.
Singkat cerita, dia akhirnya punya seorang pacar yang kemana-mana ngendarain
motor keren. Satu hal yang gak diketahuin sama si cowok itu adalah kenyataan
kalau dia cuma dijadikan seorang ‘pacar’ dalam implementasinya menjadi seorang
tukang ojek.
Atau
contoh lain, seorang cowok yang punya hasrat buru-buru pacaran karena dia risih
kalau jok motornya kosong terus di bagian belakang. Akhirnya dia punya pacar
cantik dan membiarkan ceweknya itu duduk terus dan meluk badannya dari belakang
selama boncengan. Satu hal yang gak diketahun sama si pacar cewek adalah
kenyataan bahwa dia disamain fungsinya sebagai mesin penghangat selama si cowok
ngendarain motornya.
Keinginan
untuk punya pacar itu sangat besar sampai-sampai banyak dari mereka yang
memaksa teman-teman lainnya untuk mengenalin mereka ke teman-teman yang ada
kemungkinan bisa dijadiin pacar.
Sebenarnya,
di balik nafsu besar seseorang untuk mencari seorang pacar itu adalah bagaimana
dia sangat pingin untuk mencintai seseorang dengan tulus. Dan juga bagaimana
dia sangat pingin dicintai dengan tulus juga.
Semua
keinginan itu akhirnya kita sadari sebagai sesuatu yang merupakan keharusan.
Bagaimana berpacaran itu adalah status yang sangat penting di zaman sekarang
ini. Malah, bisa ngalahin status seseorang walau dia anak pejabat. Misalnya
gini, anak pejabat itu mukanya pas-pasan aja dan dia harus nerima kenyataan bahwa dia jomblo. Maka
orang-orang yang kenal dengan dia pasti sering mencibir dengan menyinggung soal
jomblo nya itu.
Dan
karena tulisan ini ada kaitan eratnya dengan para jomblo-jomblo yang mungkin
lagi ngebaca ini, maka penting buat kita (karena aku juga jomblo) untuk gak
terlalu buru-buru memilih seorang pacar.
Apa
ada yang salah dengan status jomblo? Tentu aja enggak. Jomblo, kayak yang aku
bilang tadi, adalah orang-orang yang dalam kehidupan nyatanya belum memiliki
pacar dalam waktu yang lama, maksudnya mereka menunggu waktu memberikan
jalan. Gak buruk kok. Justru ini baik,
karena tanpa sadar kita udah ngasih kesempatan buat hati kita memilih mana yang
terbaik dan mengurangi resiko akan menyakiti perasaan orang lain.
Liat
aja yang napsuan pingin punya pacar itu, mereka gak mikirin apa mereka
benar-benar sayang ke orang itu. Yang ada di pikiran mereka cuma mencintai
orang itu, dengan resikonya cepet bosan. Dan akhirnya, dalam waktu yang singkat
aja mereka udah putus.
Haus
mencintai seseorang, tapi buta melihat saying yang sebenarnya. Dan mereka
dengan mudah bakal nyakitin perasaan orang lain.
Setelah
kurang lebih enam bulan ngejomblo, aku juga suka sering naksir cewek-cewek
cantik di lingkungan kampus ataupun cewek-cewek yang sering mangkal, mangkal di
rumah maksudnya..cewek baik-baik maksudnya..
Tapi
gak sekalipun aku nyoba untuk nembak dan nyatain cinta ke salah satu dari mereka.
Karena aku belum yakin kali kalau aku benar-benar sayang atau sekedar nafsu
pingin mencintai dan dicintai dan menjadikannya seorang pacar.
Aku
takut kalau seandainya aku mutusin buat macarin salah satu aja dan dikemudian
hari aku sadarin kalau aku ternyata gak bener-bener sayang sama dia maka yang
bakalan ngerasa sakit ya cewek itu, kan kasian.
Jangan
biarin diri kita diperbudak sama nafsu yang kayak begituan. Semakin kita
dewasa, kita harus semakin sadar bahwa mencintai dan dicintai itu butuh sebuah
keseriusan dan komitmen.
Kalau
belum siap untuk ngejalanin, lebih baik gak usah. Biarin orang terus-terusan
ngatain “hihh jomblo hihh” karena gak pernah ngegandeng tangan
seorang cewek/cowok, yang penting kita pasti jauh lebih baik daripada orang-orang
yang bernafas cuma untuk mencari dan mencari seorang pacar tanpa keseriusan.
Kehausan
mencintai dan dicintai, pasti dialami oleh semua orang. Tinggal bagaimana kita
menikmatinya tanpa harus menyakiti perasaan orang lain. Sudah cukuplah cinta itu
menyakitkan bagi mereka yang pernah merasakan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar