Senin, 27 Februari 2012

Hachiko


Hachiko
Gak bisa dipungkiri lagi kalau binatang peliharaan sejak dulu udah jadi kayak bagian dari keluarga kita sendiri. Mulai dari anjing, kucing, hamster, ayam sampe bekicot. Hampir di setiap satu rumah minimal punya satu binatang peliharaan. Binatang peliharaan itu punya sifat dan karakternya masing-masing, khas karakter binatang (ya iyalah). Ada kucing yang suka nangkepin tikus, ada ayam yang suka makan buah anggur dan ada juga hamster yang suka berenang bareng ikan lele. Dan masih banyak lagi, kalau aku jabarin semuanya, pasti bakal ngabisin waktu yang lama, mungkin sampe jari-jariku terpaksa diamputasi.   Dan kalian bakal males bacanya (segini aja udah males apalagi yang panjang).

Tapi ada satu binatang peliharaan yang kisah nyata kesetiannya tetap abadi sepanjang masa dan sangat dikagumi banyak orang. Dia adalah seekor anjing yang paling terkenal di dunia. Tau siapa? Oke, bakal aku ceritain tapi mesti janji dulu baca ini sampe habis..

Odate, Jepang – 1923..
Seekor anjing yang gak pernah tau kalau akhirnya kisah hidupnya sangat dikagumi banyak orang ini lahir pada 10 November 1923. Anjing lucu ini namanya Hachiko, terkenal karena kesetiannya kepada majikannya. Hachiko berasal dari ras Akita Inu, ras anjing asli Jepang. Menurut informasi, pemilik Hachiko adalah keluarga Saito yang tinggal di kota Odate, Prefektur Akita. Lahir dari induk betina yang namanya Goma-Go dan seekor anjing jantan Oshinai-Go.

Profesor Hidesaburo Ueno
Hachiko dipungut oleh seorang profesor dari Tokyo, Hidesaburo Ueno pada tahun 1924. Profesor Ueno memang suka melihara anjing dan dia senang banget bisa melihara Hachiko. Profesor Ueno yang saat itu umurnya 53 tahun selalu jalan kaki ke Stasiun Shibuya, sebuah stasiun kereta api, untuk berangkat kerja mengajar di Universitas Kekaisaran Tokyo, karena jarak rumah Profesor Ueno ke Stasiun Shibuya memang deket.



Awal Kesetiaan Itu..
Suatu pagi, untuk pertama kalinya, waktu Profesor Ueno jalan kaki berangkat ke Stasiun Shibuya untuk kerja, Hachiko ikut nganterin si profesor sampai ke stasiun. Selesai nganterin profesor ke stasiun dan ngucapin salam dengan gonggongan, Hachiko pun balik lagi ke rumahnya. Dan sore harinya, Hachiko yang udah hapal betul jadwal pulang si profesor, datang ke Stasiun Shibuya untuk ngejemput Profesor Ueno pulang kerja.
Menurut orang-orang di stasiun itu, Hachiko sering terlihat nungguin Profesor Ueno di depan pintu stasiun. Sampai akhirnya profesor itu keluar dari stasiun, Hachiko pun menyambut kedatangan profesor Ueno dengan gonggongan, seakan-akan dia udah kangen banget sama majikannya itu. Hal itu terus dilakuin Hachiko setiap hari. Dan orang-orang di stasiun pada waktu itu udah hapal betul dan terbiasa sama perilaku Hachiko.

Perpisahan..
Pagi hari pada 21 Mei 1925, seperti biasa Profesor Ueno dan Hachiko pergi barengan ke stasiun. Profesor Ueno pergi untuk memberikan pelajaran kepada mahasiswa-mahasiswinya sementara Hachiko pergi untuk memberikan kesetiaannya kepada majikannya.
Dan seperti biasa juga, profesor memberikan elusan lembut ke kepala Hachiko sebelum ia naik ke kereta api. Hachiko membalas dengan gonggongan dan terus ngeliatin Profesor Ueno sampai ia naik ke kereta api dan keretanya pergi jauh. Hachiko pun pulang lagi ke rumahnya. Berharap sore nanti dia bisa ketemuan lagi sama Profesor Ueno di stasiun waktu dia menjemputnya.
Tapi yang Hachiko gak tau, waktu itu adalah hari terakhir dia nganterin majikannya, Profesor Ueno, ke Stasiun Shibuya.
Di kampus pada hari itu, Profesor Ueno kena serangan jantung mendadak saat lagi mengajar, dan dia meninggal dunia tepat pada hari itu juga. Jenazah Profesor Ueno tidak dibawa ke rumahnya, tapi dibawa ke rumah kerabatnya untuk langsung dimakamkan.
Sore hari, masih di hari yang sama, Hachiko datang lagi ke stasiun untuk menjemput Profesor Ueno. Tapi setelah berjam-jam Hachiko di sana, sosok orang yang ditunggu-tunggunya gak juga muncul. Hachiko menunggui majikan yang sekaligus udah jadi sahabatnya itu sampai malam hari. Seorang petugas yang udah kenal dekat sama Profesor Ueno dan hapal betul sama perilaku Hachiko juga bingung kenapa Profesor Ueno gak juga sampai di stasiun. Akhirnya dia dapat informasi kalau profesor telah meninggal dunia dan dia mendatangi Hachiko untuk ngasih tau itu, berharap Hachiko mengerti dan segera kembali pulang. Tapi percuma, Hachiko hanya seekor anjing, dia gak mungkin tau apa yang dibilang sama petugas itu.

Menunggu dan Terus Menunggu..
Sore hari berikutnya, Hachiko masih tetap datang ke stasiun dengan terus berharap berjumpa sama Profesor Ueno. Tapi percuma, yang dilakukannya justru sia-sia, karena  sahabatnya itu gak akan pernah mengelus kepalanya lagi. Hachiko kembali pulang ke rumahnya.
Pada setelah kematian Profesor Ueno, keluarganya mutusin buat pindah ke rumah yang baru. Hachiko juga dibawa ikut pindah ke rumah baru. Tapi dia gak betah di sana, Hachiko kabur dari rumah dan kesehariannya terus diisi dengan nungguin kedatangan Profesor Ueno di Stasiun Shibuya, setiap hari.
Hachiko sering terlihat tidur di pojokan stasiun pada malam hari. Saat tiba sore hari, Hachiko pun tetap menunggu kedatangan Profesor Ueno di depan pintu stasiun. Hal itu terus dilakuinnya sampai kondisi tubuhnya melemah. Hachiko gak mau nerima makanan yang sering ditawarkan petugas stasiun dan orang-orang yang peduli kepadanya. Dia gak mau makan. Kondisi psikologis Hachiko saat itu juga sedang kacau karena tak kunjung berjumpa dengan Profesor Ueno. Kesetiaannya menunggu majikannya mengalahkan nafsunya untuk makan.
10 tahun. Selama 10 tahun Hachiko terus menunggu kedatangan Profesor Ueno di depan pintu Stasiun Shibuya. Setiap hari selama 10 tahun itu, Hachiko cuma punya satu pekerjaan yang samasekali gak buat dia bosan. Pekerjaan menunggu, menunjukkan kesetiaannya. Usianya kini sudah memasuki tahun ke-12 dan kondisi tubuhnya semakin jauh memburuk. Hachiko lebih keliatan seperti anjing liar yang gak terurus lagi.
Setiap sore cuma menunggulah yang ia lakukan di depan pintu stasiun itu. Saat malam datang, ia mencari perlindungan entah dimana. Dan saat sore, ia kembali lagi. Hachiko terus melakukan itu selama 10 tahun.

Hari Terakhir..
Pagi hari 8 Maret 1935, saat itu musim dingin. Hachiko, anjing yang setia itu, ditemukan mati dengan kondisi yang buruk dan membeku di jalan dekat jembatan Inari. Orang-orang yang mendengar berita itu gak kuat menahan kesedihan, karena selama 10 tahun Hachiko menunggu Profesor Ueno kembali pulang, ia udah dikenal banyak orang di sana. Hachiko kemudian dimakamkan di sebelah makam sahabatnya, Profesor Ueno di Pemakaman Aoyama. Dengan upacara pemakaman yang dibuat seperti upacara pemakaman manusia, banyak orang yang menghadiri upacara pemakaman Hachiko.
Kematian Hachiko membuat banyak orang tersentuh dengan kesetiaan yang ia tunjukkan.

Mengenangnya..
8 Juli 1935, empat bulan setelah kematian Hachiko, patung yang menggambarkan dirinya akhirnya didirikan di kota kelahirannya di Odate, tepatnya di depan Stasiun Odate. Namun karena keperluan perang yang saat itu sedang terjadi Perang Dunia II maka patung itu dilebur.
Dan pada Agustus 1948, patung pengganti Hachiko selesai dibuat. Patung yang berlokasi di depan Stasiun Shibuya ini adalah hasil karya seorang pematung bernama Takeshi Ando.
Dan sekarang, orang-orang di sana sering membuat janji bertemu di depan Stasiun Shibuya, tepatnya di lokasi dimana patung Hachiko itu berada. 
Di tahun 2009 kemarin dirilis film yang nyeritain tentang kesetiaan Hachiko ini, judul filmnya adalah Hachiko : A Dog’s Story, pemeran utamanya adalah Richard Gere yang meranin Profesor Ueno.  Mungkin kalian udah pada nonton, tapi bagi yang belum nonton, coba deh tonton filmnya. Dijamin kalian bakal terharu banget. Selain film itu, ada juga film versi Jepang asli yang dirilis tahun 1987 yaitu Hachiko Monogatari. 



Makam Profesor Ueno dan Hachiko di sebelahnya









Patung Hachiko di depan Stasiun Shibuya, Tokyo

 
Patung Hachiko di depan Stasiun Shibuya, Tokyo








Orang-orang berkumpul di sekitar patung Hachiko














Stasiun Shibuya pada masa itu










Film Hachiko : A Dog's Story (2009)













Dari kisah nyata kesetiaan Hachiko ini, kita bisa ngambil kesimpulan yang terbaik. Dan aku gak perlu lagi sok ngasih tau pelajaran apa yang bisa kita ambil dari ini.  








 referensi : http://id.wikipedia.org/wiki/Hachiko dan dari berbagai sumber.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar