Jumat, 30 Maret 2012

Demonstrasi Ini Pahit, Teman


Beberapa hari belakangan ini, kita tau sendiri kan berita yang selalu jadi headline di televisi ataupun di surat cinta...eh, surat kabar maksudnya, ya itu.. cuman tentang demonstrasi mahasiswa menuntut dibatalin naiknya harga bahan bakar minyak. Tanggal 1 April nanti pemerintah rencananya bakal naikin harga BBM sebesar 1500 rupiah per liternya. Alhasil, itu menyulut kemarahan dari seluruh rakyat Indonesia yang kondisi ekonominya ada di bawah. Dan hal itu juga pasti menyulut kegalauan untuk para remaja yang sering satnite bareng pacarnya naik motor, mobil ataupun becak dayung. Karena ada kalanya kita satnite dengan berduka dan kantong menjerit mikirin ongkos minyak, nah..untungnya aku jarang satnite, he’eh..jarang bukan gak pernah.
Karena hal itu pulalah, banyak teman-teman mahasiswa dari berbagai kota di Indonesia serentak ngelakuin unjuk rasa yang lumayan besar. Mereka turun ke jalan dengan semangatnya, bawa spanduk-spanduk gede, bawa bendera Merah-Putih dan bawa nyali besar untuk menuntut pemerintah ngebatalin rencana naikin harga BBM itu. Cuma satu yang gak mereka bawa-bawa, pacarnya..mungkin sih.
Demonstrasi yang dilakuin teman-teman mahasiswa itu katanya sih untuk menyampaikan aspirasi rakyat negara ini yang makin lama makin tercekik kemelaratan. Tapi sayangnya, apa yang mereka niatin untuk damai, malah sering berakhir dengan bentrokan. Siapa lagi lawannya kalau bukan pihak aparat keamanan...

Ya bener, mahasiswa dan aparat keamanan sekarang lebih keliatan seperti musuh. Mirip kayak dua orang yang pacaran, begitu putus, karena satu dua hal  mereka gak pernah lagi berkomunikasi sedikit pun, persis seperti musuh. Nah lhoo...
Gak tau siapa yang mau disalahkan dalam hubungan buruk mahasiswa-aparat keamanan ini selama terjadi demonstrasi-demonstrasi itu, yang pasti kayak apa yang udah kita lihat di televisi, setiap demonstrasi yang dilakuin mahasiswa itu ujung-ujungnya pasti berakhir dengan lempar-lemparan batu antara kedua pihak.
Kalau aku sih dulu waktu SD pernah juga tu lempar-lemparan, bedanya aku gak make batu, tapi make segepok surat cinta, dan yang aku lemparin itu adalah sosok bidadari kecil.....

Dari pihak aparat keamanan yang katanya pengayom masyarakat, ada beberapa hal yang jelas-jelas mesti mereka evaluasi lagi. Salah satunya adalah bagaimana sikap dan tindakan mereka untuk meredam massa demonstran. Bukan rahasia lagi, kalau mereka sering gak sabaran dan bertindak sewenang-wenang ke massa demonstran. Cara-cara kekerasan seperti main pukul dan keroyokan udah biasa terjadi.
Tindakan mereka yang kayak gitu bisa ngebuat para demonstran bertindak lebih anarkis. Mahasiswa-mahasiswa pendemo jelas punya solidaritas yang tinggi. Sewaktu seorang  mahasiswa ditangkap dan dikeroyokin sama aparat, teman-teman mahasiswa yang lain pasti gak bisa ngerelain gitu aja. Kalau kamu belum pernah ikut demo dan gak tau solidaritas demo itu gimana, kamu bisa bayangin kayak waktu pacar kamu digaet sama orang lain, kamu pasti gak rela kan? Nah itu dia.. Itu pun kalau kamu punya pacar, kalau enggak... Ya derita lo.

Sewaktu sedang ngelakuin demonstrasi, tingkat kesensitifan orang-orang yang ikut bergabung di demo itu mendadak meningkat berpuluh-puluh kali lipat. Adrenalin rasanya terpacu lebih cepat (gaya sok, padahal gak pernah ikutan demo), lebih cepat dari adrenalin kita waktu mau ketemu sama calon mertua lengkap dengan Pak RT nya. Dan hal kecil yang dilakukan sama pihak keamanan untuk meredam aksi mereka bisa berujung petaka besar. Contohnya ni, waktu massa pendemo ngebakar ban di tengah-tengah jalan raya, jelas aja itu  mengganggu lalu lintas pengguna jalan kan.. dan hal itu mengundang aparat untuk bertindak, yaitu dengan memadamkan api yang membakar ban, contoh tindakan pencegahan. Tapi massa pendemo gak terima dan langsung terpancing emosinya dan melawan aparat. Karena mendapat perlawanan dari massa pendemo, jelas aja aparat makin getol bales ngelawanin lagi dan akhirnya..bentrok deh.
Itu kenapa cowok-cowok dilarang untuk ngelawanin cewek-cewek yang lagi PMS. Bisa-bisa bentrokan antara cowok pengganggu dan cewek PMS yang diganggu bakal ngegunain senjata nuklir...atau yang lebih melemahkan bagi cowok, adalah senjata air mata.

Adu fisik, adu mulut mulai berkobar, sampai akhirnya aparat menahan beberapa orang pendemo yang ngebuat teman-teman pendemo lainnya jadi makin berang. Dan kelanjutannya, ya itu...mahasiswa dan aparat mulai terlibat bentrok lempar-lemparan batu.
Emosi dan kejengkelan aparat gak bisa terbendung lagi sewaktu mereka akhirnya bisa menangkap beberapa pendemo. Pukulan, tendangan, sabitan dari kayu pun melayang ke badan pendemo yang malang itu.

Sedangkan di pihak massa pendemo, mahasiswa, mereka juga gak sepenuhnya benar dan bisa dibela. Banyak aksi anarkis seperti ngebakar pos polisi, ngebakar mobil plat merah dan membajak mobil tangki BBM dan lain-lainnya yang mereka lakuin selama berdemo.
Karena ngebakar hati cewek lebih berbahaya daripada ngebakar benda mati lainnya.

Demonstrasi bukanlah hal yang harus dilakukan dengan aksi-aksi fandalisme kayak gitu. Masih banyak teman-teman mahasiswa yang belum sepenuhnya bisa untuk menahan emosinya sewaktu berdemo. Itulah salah satu sebab polisi bertindak keras.
Mahasiswa yang terlalu keras memang sulit dibendung. Kerasnya mereka muncul karena tuntutan untuk hidup sejahtera gak juga bisa dipenuh oleh pemerintah. Tapi yang salah adalah sikap keras mereka lebih menjurus kepada aksi kekerasan dan anarkisme. Mudahnya jiwa-jiwa muda teman-teman mahasiswa terpancing emosinya juga jadi faktor utama mereka berdemo dengan merusuh.

Misalnya saat seorang provokator dari pihak pendemo -entah itu mahasiswa atau memang orang yang kerjanya memprovokatori-  mengajak massa demonstran untuk menyerang aparat yang berjaga. Spontan aja, karena terpancing maka mereka pun beramai-ramai menyerang aparat.
Untuk orang-orang yang berprofesi sebagai provokator, sudah selayaknyalah kelamin mereka itu dimutilasi supaya mereka gak bisa lagi grepeh-grepeh sama pasangan mesumnya.

Sebenarnya gak ada yang bisa disalahkan dari mahasiswa dan aparat keamanan ini. Yang harus disalahkan adalah pemerintah yang telah salah mengambil kebijakan untuk menyelamatkan negara dari kemelaratan. Pemerintah kurang peka terhadap apa yang diderita rakyat selama ini dan jeritan-jeritan kesengsaraan mereka. Ya menaikkan harga BBM contohnya, dengan alasan pemerintah mengurangi beban subsidi, tapi justru menambah drastis beban hidup masyarakat level bawah.
Jika harga BBM naik, otomatis seluruh harga kebutuhan pokok kita juga pasti naik, lalu gimana dengan emak-emak kita yang mau masakin sayur enak untuk anaknya? Ongkos angkot juga pasti naik, lalu gimana dengan anak sekolahan yang berangkat naik angkot dengan uang pas-pasan? Apa mereka mesti jalan kaki ke sekolah? Dan..ongkos pacaran juga pasti naik, lalu gimana dengan nasib orang-orang yang terlanjur pacaran? Apa mereka mesti putus?
Pemerintah mungkin pekak, bukan peka.

Klimaksnya, demonstrasi berujung bentrokan, tidakan anarkisme selalu jadi pemandangan kelam negara ini. Rakyat seakan frustasi dan gak tau lagi gimana caranya agar pemerintah lebih memerhatikan mereka. Dan dengan demonstrasilah, teman-teman mahasiswa menunjukkan  dan mewakili kekecewaan rakyat kita terhadap pemerintah.
Kita gak bisa sepenuhnya menyalahkan aparat keamanan yang bertugas meredam aksi demonstrasi para pendemo. Biarpun mereka memang terbukti melakukan aksi kekerasan terhadap pendemo, tapi lihat juga dari sisi massa demonstrannya. Mungkin memang benar mahasiswa melakukan aksi anarkisme sehingga aparat bertindak terlalu keras terhadap mereka. Tapi aksi anarkisme itu merupakan kekecewaan yang besar terhadap pemerintah.
Ya, lagi-lagi pemerintah. Memang pemerintah lah yang seharusnya bertanggung jawab atas apa yang terjadi dengan negara ini sekarang. Sudah wajib bagi pemerintah untuk duduk sama rendah dengan rakyat kecil dan menuruti permintaan mereka. Bukan berdiri dengan gagah di singgasananya dan lebih mementingkan kepentingan kelompoknya.
Kita lihat aja nanti, apakah pemerintah bersama kita atau hanya mau bersama egoisme mereka.
Karena kita, rakyat Indonesia, gak mau lagi melihat demonstrasi-demonstrasi yang kemudian terasa semakin pahit.

Rabu, 28 Maret 2012

Surprise Ini Surprise Itu


“Happy Birthday.. Happy Birthday.. Happy Birthday To You...”

Yap! Tanggal 21 Maret kemarin aku genap berumur 19 tahun. Itu artinya aku udah tua, jenggot di dagu tumbuhnya makin kenceng, kumis di atas bibir udah ngimbang-ngimbangin kumis Pak Raden dan bisa dijadiin kait buat ngegantungin jemuran, dan wajah...ternyata gak makin ganteng juga.
Di ulang tahunku kali ini, aku dapat dua surprise yang unyu banget. Maklum sih, selama ini jarang banget dapat surprise ulang tahun. Paling juga itu kado-kado kecil biasa. tapi itu aja udah bersyukur kok, yang terpenting tetap dipanjangin umur sama Yang Kuasa.

Surprise yang pertama aku dapat pas di hari H, di tanggal 21 Maret nya sepulang ngampus, aku dikerjain habis-habisan sama teman-teman sekelasku di kampus. Kunci kereta diumpetin gak tau dimana. Mereka bilang kalau kuncinya dibawa Dhanty, temen sekelasku yang udah duluan pulang. Mereka ngajakin aku nyusulin Dhanty sampe depan stadion bola USU yang kebetulan emang deket sama kampusku, Politeknik Negeri Medan, katanya Dhanty nungguin di sana. Aku tinggalin deh tu kereta di parkiran sendirian kayak jomblo yang nungguin pasangan homonya. Pas nyampe di depan stadion, ternyata Dhanty gak ada di sana, gitu juga sama kunci keretaku. Yang aku dapet malah serangan telur ayam membabi buta ke kepalaku dari temen-temen yang kompak pada masang muka senyum unyu anarkis.


“Plak pluk plok!!”
Kepalaku pun kena libas.

Kuning sama putih telur meler dari atas kepala ke muka. Rasanya geli-geli aneh gitu. Belum puas di situ, gak tau duluan siapa yang mulai, tiba-tiba ada yang nyerang pake bubuk kopi.

“Sssrrrrrr...”
Bercampurlah leleran telur sama serbuk kopi tadi. Kalau misalnya waktu itu ada yang laper, pasti kepalaku udah habis diemutin. Terus, mendadak aku sadar kalau kepalaku udah botak karena rambutku ketelen mereka. Untungnya gak ada, mereka malah jijik, aku dijauhin, dan ekspresi kegirangan jelas keliatan dari muka-muka pengeroyok itu.
Rasanya, dunia suram. Gimana gak suram coba, dua lensa kacamata yang senantiasa nyelamatin pandanganku juga ketutup leleran telur. Terpaksa aku ngelepas kacamata dan... klop! Aku gak bisa ngeliat dengan jelas ekspresi gila mereka waktu ngeliat aku kayak gitu. Aku cuma bisa ngerasain ada hawa-hawa gila di sana.

Karena gak ikhlas dikorbanin sendiri gitu, aku mulai bertingkah kayak sapi rabies yang gak ikhlas dipotong di Hari Raya Kurban. Aku lari ke sana kemari buat nyerudukin mereka semua satu persatu dengan mata memicing supaya bisa ngeliat dengan jelas, lidah menjulur, dan ludah bertebaran.. aku udah cocok untuk dimasukin ke RSJ waktu itu.
Gak banyak yang bisa aku tangkep. Cuma beberapa temen cewek yang waktu itu nasibnya lagi jelek aja yang bisa aku serudukin pake leleran kopi dangdut, eh kopi telur maksudnya. Sementara temen-temen yang cowok susah banget ditangkep. Lari mereka kencengnya ngalah-ngalahin atlet panahan. Ya iyalah...

Udah capek, aku diem duduk gak berdaya kayak habis diperkosa. Gak taunya tiba-tiba aku dianiaya lagi untuk yang kedua kalinya. Tanganku dipegang dari belakang gak tau sama siapa, tiba-tiba anggota pengeroyok yang lain nyerbu masih dengan style membabi buta mereka.
Mereka mulai aksi keroyokannya. Ada yang ngerogohin kantong celanaku buat ngambil handphone sama uang. Ada yang ngambil dompet busuk di kantong belakang celana. Dan ada yang ngelepasin sepatu sama kaus kaki yang aku pake. Aku udah gak berdaya dibully  gitu sama mereka, aku cuma bisa pasrah.
Semua itu mereka lakuin dengan satu tujuan. Iya... ngebuang aku ke parit besar yang ada di depan stadion. Aku diangkat dan.... “cbuuuuurrr....”   Aku masuk ke parit dengan muka nyungsep duluan. Gilee.. airnya gak sengaja kejilat dikit. Rasanya kayak...ah, udah ah males ngebahas yang itu.

Satu yang ngebuat aku pasrah aja waktu digotong dan diceburin gitu adalah karena ada beberapa mahasiswi sekampusku dan orang-orang lainnya yang nontonin kejadian itu. Mereka dengan antusiasnya malah berhenti dengan wajah excited  nungguin anak kecil ini nyungsep ke parit. Jadinya aku gak mau berontak menggelinjang kayak orang-orang di luar sana yang kena razia Satpol PP. Itu bisa ngejatuhin image sok cool  aku sebagai seorang cowok jomblo, biarpun mereka gak kenal aku siapa.

Aku bangkit dari dalam parit dengan perasaan campur aduk. Semua badan basah kuyup, bau amis dan menjijikkan. Aku jalan muter dari jalan depan stadion gak make sepatu. Aku persis kayak tuna susila yang ketangkep basah di gorong-gorong. Orang-orang pada ngeliatin aku dengan ekspersi wajah kayak mau nyiram aku pake minyak tanah terus dibakar.

Dua hari berlalu sejak kejadian surprise itu. Jujur, aku seneng banget teman-teman udah ingat ulang tahunku dan udah ngeikhlasin waktunya buat ngerjain aku habis-habisan gitu. Ini pertama kalinya aku dilemparkan ke dalam parit, dan kalau bukan mereka yang ngelakuin, siapa lagi? gak mungkin kan Mama ku sendiri tega ngelakuin yang kayak gitu.  

Ini ucapan selamat ulang tahun dari teman-teman, lengkap dengan tanda tangan dan do'a cepet dapet jodohnya... :')




...........


Surprise kedua yang aku dapat adalah surprise dari tiga orang ABG yang udah ngeramein hatiku selama aku ngejomblo dan ngebuat banyak perubahan dalam diriku selama ini. Bener, mereka adalah Luluk, Isma dan Suci. Mereka bertiga udah kuanggap kayak adikku sendiri.  Oiya, tentang mereka itu siapa dan apa aja keanehannya, udah pernah aku ceritain di postinganku sebelumnya.

Jadi, karena mau ngasih surprise yang ‘wah’ banget buat aku, mereka sampe bikin rencana ngediemin aku selama hampir sebulan. Bayangin aja..didiemin hampir sebulan sama mereka itu rasanya kayak jadi jomblo sekarat yang dipasangin lima belas  infus di bokong dan di bibir. Karena ya yang selama ini memang suka bikin rame ya cuma mereka. Mereka tu kayak udah ngerti banget kesengsaraan aku selama jadi jomblo gini. Karena mereka semacam spesies dukun dengan bungkus ABG.

Awal mulanya mereka ngediemin itu sewaktu aku ngemention mereka bertiga di Twitter. Kalau gak salah isi mention ku cukup jelas dan gak bikin jiwa labil mereka tersinggung, aku cuma bilang kalau aku kangen, tapi gak taunya tu mention gak dibalas-balas juga sama mereka.
Aku tungguin seharian, karena kupikir mereka lagi gak sempet ngebalas mention ku. Eh..lewat sehari malah gak ada juga balesannya. Dari situ aku udah mulai mikir, emang mereka kenapa ya kok gak mau balas mention... Lagi galau? Gak mungkin... Mereka itu adalah satu persen dari jumlah ABG yang hampir gak pernah ngerasain galau. Mungkin karena hatinya udah terlanjur sakit kali ya..

Males disangka pintar karena mikir-mikir terus, akhirnya aku ngesms Luluk buat nanya, dan gak ada balasan satupun dari beberapa sms yang aku kirim. Aku juga ngesms Suci, juga gak dibalas. Aku pikir, mungkin waktu itu Suci lagi sibuk ngerjain PR pacarnya. Aku ngesms Isma juga gak dibalas, belakangan aku tau kalau handphone Isma udah jadi bangkai...kasian hp nya.
Dan aku mikir, apa gini ya rasanya kalau kita nyatain cinta ke seseorang tapi gak berbalas? Sebenernya aku udah tau sih rasanya, karena  emang kalau aku nyatain cinta ke cewek pasti selalu berbalas, gak pernah enggak, selalu dibalas dengan kalimat : “Gak, aku gak bisa nerima kamu. Aku rasa kita cuma cocok temenan aja...”

Seharian aku panik banget. Di otakku mulai berseliweran pertanyaan kayak “aku salah apa...?”  “mereka ini kenapa...?”  “mereke udah keramas belum...?”  “rumahnya mati lampu gak..?”

Aku sempet marah-marah juga waktu itu, karena aku dengan sengaja ngeliat foto mereka bertiga lagi di rumah Cokro, teman sekomplekku. Yang artinya mereka datang ke komplek tapi gak bilang-bilang ke aku.
Emosi, aku ngelempar hp, eh.. maksudnya ngambil hp, buat ngesms Luluk. Aku tanyain ke Luluk kenapa gak bilang-bilang kalau datang ke komplek dan aku sindir-sindir dia, ternyata gak ada balasan apa-apa. Aku marah dan yang jadi sasaran kemarahanku cuma Luluk doang, kasian dia.

Beberapa hari berikutnya, aku udah bosen marah-marah, jadi aku biarin aja mereka tetap dalam kebisuannya. Aku tetap ngetwit kayak biasa, yang beda cuma gak pernah ada lagi mention mereka yang menuhin timeline orang lain itu.

Tetap aja aku masih penasaran kenapa mereka ngediemin aku. Jadi, aku tanya ke Pina, temen mereka yang juga tetangga aku di komplek. Pina bilang dia gak tau apa-apa, tapi aku curiga waktu Pina ngomong ke aku dengan muka yang gak begitu polos, yang artinya ada sesuatu yang disembunyiin.
Gak puas nanya ke Pina, aku mulai nanya-nanya ke Ayak, temen sekelas Luluk. Dan Ayak juga sama kayak Pina yang katanya gak tau apa-apa, bedanya aku gak tau muka Ayak waktu dia bilang gitu polos apa enggak. Aku juga nanya ke Cut, temennya Suci, dan hasilnya tetep sama. Dan lagi, belakangan aku tau kalau aku ternyata udah dizalimi sama Pina, Ayak dan Cut.

Aku sempet juga mikir jangan-jangan mereka ngediemin aku cuma karena aku gak ngeinvite pin Blackberry mereka. Iya, waktu itu aku baru make Blackberry, dan sekarang ini baru sekitar sebulan aku make hp itu. Aku tau orang-orang bakal ngatain aku sebagai bocah item telat gaul, tapi itu lebih baik daripada aku dikatain sebagai bocah item telat datang bulan yang digauli.....

Pas aku konfirmasi ke Pina, katanya sih bukan karena itu. Aku mulai mikir lagi. Dan kali ini mukaku jatuh jadi lebih tua dari beberapa hari yang lalu.

Berhari-hari berlalu tetap aja gak ada tanda-tanda mereka bakal balik jadi normal lagi. Aku mulai gak ambil pusing sama mereka dan mulai menjalani hari-hari normal sebagai jomblo lapuk.

Di hari ulang tahunku, aku pikir mereka bakal ngasih surprise besar-besaran dengan irng-iringan musik rebana plus pertunjukan ondel-ondel atau paling gak ya ucapan ulang tahunnya aja udah cukup. Ternyata enggak. Aku tungguin, tungguin, tungguin dan enggak juga.

Di tengah-tengah kekalutan itu, ternyata surprise yang aku tunggu-tunggu datang dua hari berikutnya, yap.. hari Jum’at tanggal 23 Maret. Waktu itu sekitar jam 10 pagi aku jemput teman-teman kampusku di Polmed, karena ada acara makan-makan di rumahku, ya syukuranlah. Aku jemput mereka karena gak ada yang tau rumahku yang letaknya di pelosok.
Sampai di rumah sekitar jam 12 siang, Mama langsung nyambut teman-teman yang berdiri di luar. Aku masuk ke rumah naruh helm, dan begitu aku mau keluar, tiba-tiba..... “BANG ADIIIITTT!!!”   
Suara yang gak asing itu kedengaran kenceng banget. Ya, itu adalah suara Luluk, Isma dan Suci yang teriak begitu ngeliat aku. Mereka muncul dari kamar adikku setelah sebelumnya sembunyi di sana.
Aku terkejut.
Mulut menganga.
Mata berbinar-binar.
Muka makin jelek karena keringetan kesenengan.

Aku gak nyangka kalau mereka ternyata ngasih surprise yang kayak gitu. Kata Mama mereka udah di rumah nungguin aku pulang sejak aku berangkat tadi, dan langsung sembunyi di kamar begitu denger rombongan suara kereta datang.

Mereka langsung nyodorin kue tart yang udah dihias nama aku dan angka umurku, lengkap sama lilin yang menyala. Nyanyi-nyanyi bentar, aku niup lilin itu setelah sebelumnya make a wish dulu.
Mereka juga langsung nyodorin tas yang isinya hadiah ulang tahunku. Sumpah, aku gak nyangka banget aku dikasih yang beginian. Kado ulang tahun..langsung dari mereka bertiga.
Aku buka. Aku excited  banget.
Isma ngasih kado berupa kaos yang kalau aku pake pasti nampak agak kegedean, karena badanku yang kelewat kecil. Warnanya kaosnya putih, seputih hatiku.
Suci ngasih gelas yang ditempelin foto-toto kami dan satu foto gede muka aku yang sok paten, padahal aslinya kayak muka trotoar. Gelasnya keren, warnanya hitam persis kayak warna kulitku.
Luluk ngasih dompet ke aku. Iya, dompet terakhir yang aku punya udah 4 tahun lebih aku pake, alhasil dompet itu udah hancur lebur, busuk dan bau. Mungkin karena sering aku pantatin. Mereka bertiga prihatin ngeliat dompetku kayak gitu, jadinya dibeliin deh yang baru dari Luluk. Aku juga dapat gantungan kunci Angry Birds dari Luluk. Bentuknya kayak muka binatang gitu, lubang hidungnya sama besar sama lubang hidungku, bedanya muka gantungan kunci itu jauh lebih imut daru mukaku.

Ya, begitulah hari itu. Surprise dari mereka ngebuat  aku seneng banget. Sampe-sampe aku gak sadar kalau mulutku nganga terus dan ences netes-netes ke lantai. Mereka bertiga memang unyu-unyu banget semuanya. Karena itu, sekarang aku makin makin makin sayang banget sama mereka. Mudah-mudahan hubungan abang-adik ini bakal terus, terus, terus, terus sampai Tuhan merasa itu cukup. 

  
Ini ucapan selamat ulang tahun yang mereka hias dengan kalimat-kalimat yang..... :')

 

Apalagi, kalau bukan soal jomblo dan jodoh yang jadi topik utama, tetep...  :')



Aku keliatan agak oke ya..

 


Aku gak tau apa yang spesial dari bocah jelek ini. Tapi kehadiran mereka bertiga cukup ngebuat aku jadi ngerasa spesial, karena mereka terlalu berharga buat aku dan Tuhan udah ngizinin aku punya adik-adik kayak mereka.
Makasih banget buat adik-adikku Palupi Kustriandini, Isma Dewiliana, Suci Armayani... tetaplah jadi adik yang imut buat abang dan jangan tumbuh tinggi lebih cepat dari abang, pliss.... :))



Selasa, 20 Maret 2012

JENI SELESAI NELOR!!!



“JENI SELESAI NELOR!!!” - Kalimat pertama yang kuucapin begitu ngeliat binatang yang dengan susah payah merangkak pelan-pelan dari semak-semak. Jeni,dia adalah binatang yang mukanya datar, gak bisa berekspresi, jelek, botak dan kemana-mana ngebawa benda bulet sebagai pelindungnya yang kita sebut dengan cangkang. 

Jeni adalah seekor kura-kura Brazil betina yang udah kupelihara selama kurang lebih 9 tahun. Dia tu lucu banget menurut aku, gak tau bisa diliat lucunya dari mana. Awalnya aku melihara si Jeni ya dari sekitar 9 tahun lalu, atau pas aku masih kelas empat SD, pas aku masih sering ingusan meler. Waktu itu sore-sore, aku sama papa pergi beli pelet ikan di tempat langganan kami. Pas nyampe di sana, aku ngeliat ada yang ijo-ijo mirip gasing gitu di dalam akuarium petak. Pas aku deketin, eh, gak taunya itu anak kura-kura yang kata penjualnya masih berumur setengah bulan. Aku langsung naksir. Buru-buru aku minta papa buat ngebeliin kura-kura itu. Kebetulan sisa tinggal dua ekor, sepasang pula jantan betina. Dan kebetulannya lagi ternyata papa juga suka ngeliat anak-anak unyu itu. Yaudah, papa langsung bilang ke yang empunya toko buat nyimpen kura-kura itu dulu, karena papa cuma bawa uang pas-pasan. Jadi kami pulang ngambil duit baru balik lagi ke toko pelet tadi.

Kami pulang ke rumah dan langsung nyemplungin dua anak tadi ke dalam kolam yang isinya ikan nila sama ikan gurami, banyak, gede-gede lagi. Aku sempat mikir, kura-kura itu pasti bakal frustasi begitu tau temen-temennya punya peluang nelen mereka bulat-bulat. Tapi papa sok enjoy, dia bilang kalau itu udah biasa di kehidupan liar.....
Aku gak yakin. Jadi kupindain dua kura-kura tadi ke dalam bak semen yang agak gedek. Selamat. Mereka gak perlu ngerasa frustasi akut dan memperlambat proses kematiannya.

......

Sekitar kurang lebih 3,5 tahun kemudian mereka berdua udah gedek. Udah bisa dikolaborasikan bareng ikan-ikan lain di kolam. Padahal cuma dikasih makan pelet ikan, yang buat mereka itu cuma semacam cemilan sampingan. Tapi ya itu untungnya mereka gak pernah nuntut lebih, ya gimana mau nuntut, ngomong aja gak bisa.

Dan satu yang aku gak tau, ternyata kura-kura peliharaanku itu udah ngelakuin perkimpoian tanpa seizin aku. Ujung-ujungnya ya..yang betina hamil deh. Awal kehamilan si betina gak ada yang tau kapan.
Oiya, kolam ikan yang ada di rumahku lumayan bagus, hasil karya mama yang ngedesain. Bentuk kolamnya bunder memanjang meliuk-liuk gitu  dan di tengah-tengahnya ada dibuat semcam taman kecil yang ditanamin rumput teki sama beberapa bunga. jadi kalau bisa disimpulin, kolamnya mirip Danau Toba yang ada Pulo Samosirnya.

Belakangan, aku sadarin kalau taman di tengah kolam itu punya kegunaan lain. Yaitu jadi tempat berjemur kura-kura peliharaanku. Tau kan kalau kura-kura itu binatang amfibi berdarah dingin? Yang artinya mereka perlu berjemur untuk menstabilkan suhu tubuhnya.
Sejak itu, setiap siang sepulang sekolah aku selalu naruh dua kura-kura itu di taman kolam dan sampai sore datang baru deh mereka nyemplung lagi ke dalam air. Dan tiba satu sore, si betina gak kunjung nyemplung ke kolam. Aku pikir kenapa ni anak..apa udah bosen sama air atau gimana.. Eh gak taunya pas aku liatin, ternyata kaki belakangnya kayak nendang-nendangin tanah gitu. Dan ya! Aku baru sadar kalau kura-kura betina ku ini lagi ngegali lubang buat bertelur!
Bener aja, setelah sekitar dua jam aku tungguin sambil ngelarang orang-orang rumah buat gak berisik, kura-kura itu pun nyemplung ke kolam. Aku buru-buru manggil papa dan ngebingkar tanah bekas galiannya tadi dan wah...ada tujuh telur di dalamnya. Aku seneng banget waktu itu.

Aku mulai baca-baca buku dan dapat info kalau telur kura-kura bakal netas kurang lebih dalam waktu 3 bulan dalam keadaan normal.

....

Tiga bulan berlalu dan gak ada tanda kehidupan baru di atas tanah itu. Frustasi nungguin, akhirnya aku mutusin ngebongkar tanah yang di dalamnya ada telur itu dan ternyata...semua telurnya busuk.
Kecewa berat.

Tapi kecewanya cuma bentar aja. Beberapa hari setelah aku bongkar lubang telur yang pertama, si kura-kura betina jadi rajin bertelur. Setiap hampir sebulan sekali dia pasti bertelur. Kalau ditotalin, udah ada enam kali kura-kura itu bertelur dalam kurun waktu setahun. Tapi semua telurnya gagal, gak ada yang netas jadi anak.
Aku udah nyoba banyak cara buat nyelamatin calon-calon anak itu. Mulai dari telur-telurnya yang aku pindain ke pasir, aku simpen di dalam bak sampai yang aku biarin gitu aja tapi akhirnya telur-telur itu malah dirampok sama tikus.

Akhirnya, aku sama kura-kura betina itu sama-sama frustasi. Aku jadi gak semangat, dia juga jadi gak semangat bertelur lagi kayaknya. Karena kelamaan gak nelur-nelur juga, aku malah sempet ngira kalau si betina ini udah masuk masa menopouse, emang bisa ya kura-kura pake menopouse segala??


.....

Lima tahun berlalu sejak si betina gak lagi bertelur. Aku makin yakin dia udah menopouse, yakin banget. Artinya ini udah tahun kesembilan aku melihara binatang yang katanya jalannya lambat banget ini, padahal enggak kok. Badan mereka sekarang udah segedek piring dan mukanya makin jelek aja. Dan di tahun kesembilan inilah aku baru ngasih mereka nama. Joni untuk si jantan dan Jeni untuk si betina.

Di tahun kesembilan ini juga aku mulai lagi disibukin sama tingkahnya Jeni yang mulai nendang-nendang tanah lagi persis kayak lima tahun yang lalu. Tapi sekarang aku udah pindah rumah, jadi gak ada lagi deh taman tengah kolam. Yang ada cuma sebidang tanah kecil yang tercampur sama batu-batu material bangunan.

Jeni mulai usaha bikin lubang di situ sejak pertama kali aku ngeletakin dia buat berjemur. Tapi karena kerasnya tanah yang ada, jadi usahanya sia-sia,  lubang gak kunjung terbentuk. Aku stres mikirin dimana Jeni mesti ditaruh supaya bisa bertelur. Tapi karena gak dapat tempat juga, jadi kubiarin aja deh.

Aku memang pindah rumah, tapi masih dalam satu lingkungan komplek. Rumah yang ada taman di tengahnya itu sampai sekarang masih kosong. Tapi, taman di tengah kolam itu udah gak ada, udah dijebol sama papa waktu itu. Tapi karena aku paksa, akhirnya papa mau nyisain sedikit buat kura-kura.

....

Selasa, 20 Maret 2012 ini, akhirnya aku mutusin buat ngebawa si Jeni ke kolam di rumah lama yang masih ada sisa sedikit tanahnya. Aku ngarepin dia mau bertelur di situ karena kasian ngeliatin dia tiap hari ngorek tanah keras terus. Aku letrak dia di situ dan kutinggalin bentar pulang ke rumah.
Sekitar setengah jam kemudian aku datang lagi ke sana. Tapi Jeni gak ada. Jeni gak ada di kolam dan gak ada di tanah kolam. Jeni ilang. Aku panik. Aku ngelilingin komplek naik kereta berharap bisa dapatin si Jeni, karena aku mikirnya kalau si Jeni dicuri orang dan dibawa lari. Aku tanyain ke tetangga tapi gak ada yang tau.
Mulai ngerasa frustasi dan bersalah. Aku diem sambil ngeliatin kolam. Aku juga mulai jalan mondar-mandir buat nenangin diri. Takut kena marah papa.
Pas aku lagi mondar-mandir di samping rumah, tiba-tiba aku ngeliat ada yang gerak-gerak di bawah sampah daun kering. Aku deketin dan ternyata..wualah..... Jeni lagi bikin lubang di sana! Aku kaget. Seneng. Mendadak perasaan berbalik 180°.
Dan yang aku heranin adalah...gimana caranya Jeni bisa sampe ke halaman samping rumah yang jaraknya lumayan jauh untuk ukuran kura-kura. Dan gimana caranya dia keluar dari kolam, padahal jaraknya tinggi. Gak mungkin kalau ada kura-kura yang bisa lompat.
Hening...... Aku mikir.......

Ah masa bodo. Yang penting sekarang Jeni udah dapat tempat yang cocok, pikirku. Aku tungguin dia selama dua jam bareng kucing-kucingku yang masih ada di sana. Tiba-tiba hujan, aku takut Jeni ngebatalin bertelur, tapi enggak.
Di sela-sela kebosenan, tiba-tiba Jeni nongol dari balik tembok pembatas halaman samping rumah, dan aku teriak “JENI SELESAI NELOR!!!” , dalam hati sih..
Terharu, seneng, aku nyengir-nyengir sendiri. Dan langsung bawa Jeni pulang... Aku tunjukkin ke papa sama mama kalau usaha aku dan Jeni gak sia-sia. Akhirnya.....

....

Sekarang, aku tinggal nunggu kurang lebih tiga bulan sampe anak-anak Jeni sukses keluar dari dalam tanah. Aku cuma bisa do’a mudah-mudahan kali ini telur-telurnya Jeni gak sia-sia. Semoga Jeni punya keturunan yang bisa terus hidup..hidup.. dan hidup..

Mohon do’anya ya semua, kita liat sebulan, dua bulan atau tiga bulan kemudian.....