Beberapa
hari belakangan ini, kita tau sendiri kan berita yang selalu jadi headline di televisi ataupun di surat
cinta...eh, surat kabar maksudnya, ya itu.. cuman tentang demonstrasi mahasiswa
menuntut dibatalin naiknya harga bahan bakar minyak. Tanggal 1 April nanti
pemerintah rencananya bakal naikin harga BBM sebesar 1500 rupiah per liternya.
Alhasil, itu menyulut kemarahan dari seluruh rakyat Indonesia yang kondisi
ekonominya ada di bawah. Dan hal itu juga pasti menyulut kegalauan untuk para
remaja yang sering satnite bareng
pacarnya naik motor, mobil ataupun becak dayung. Karena ada kalanya kita satnite dengan berduka dan kantong
menjerit mikirin ongkos minyak, nah..untungnya aku jarang satnite, he’eh..jarang bukan gak pernah.
Karena
hal itu pulalah, banyak teman-teman mahasiswa dari berbagai kota di Indonesia
serentak ngelakuin unjuk rasa yang lumayan besar. Mereka turun ke jalan dengan
semangatnya, bawa spanduk-spanduk gede, bawa bendera Merah-Putih dan bawa nyali
besar untuk menuntut pemerintah ngebatalin rencana naikin harga BBM itu. Cuma
satu yang gak mereka bawa-bawa, pacarnya..mungkin sih.
Demonstrasi
yang dilakuin teman-teman mahasiswa itu katanya sih untuk menyampaikan aspirasi
rakyat negara ini yang makin lama makin tercekik kemelaratan. Tapi sayangnya,
apa yang mereka niatin untuk damai, malah sering berakhir dengan bentrokan.
Siapa lagi lawannya kalau bukan pihak aparat keamanan...
Ya bener,
mahasiswa dan aparat keamanan sekarang lebih keliatan seperti musuh. Mirip
kayak dua orang yang pacaran, begitu putus, karena satu dua hal mereka gak pernah lagi berkomunikasi sedikit
pun, persis seperti musuh. Nah lhoo...
Gak tau
siapa yang mau disalahkan dalam hubungan buruk mahasiswa-aparat keamanan ini
selama terjadi demonstrasi-demonstrasi itu, yang pasti kayak apa yang udah kita
lihat di televisi, setiap demonstrasi yang dilakuin mahasiswa itu ujung-ujungnya
pasti berakhir dengan lempar-lemparan batu antara kedua pihak.
Kalau aku
sih dulu waktu SD pernah juga tu lempar-lemparan, bedanya aku gak make batu,
tapi make segepok surat cinta, dan yang aku lemparin itu adalah sosok bidadari
kecil.....
Dari
pihak aparat keamanan yang katanya pengayom masyarakat, ada beberapa hal yang
jelas-jelas mesti mereka evaluasi lagi. Salah satunya adalah bagaimana sikap
dan tindakan mereka untuk meredam massa demonstran. Bukan rahasia lagi, kalau
mereka sering gak sabaran dan bertindak sewenang-wenang ke massa demonstran. Cara-cara
kekerasan seperti main pukul dan keroyokan udah biasa terjadi.
Tindakan
mereka yang kayak gitu bisa ngebuat para demonstran bertindak lebih anarkis.
Mahasiswa-mahasiswa pendemo jelas punya solidaritas yang tinggi. Sewaktu
seorang mahasiswa ditangkap dan
dikeroyokin sama aparat, teman-teman mahasiswa yang lain pasti gak bisa
ngerelain gitu aja. Kalau kamu belum pernah ikut demo dan gak tau solidaritas
demo itu gimana, kamu bisa bayangin kayak waktu pacar kamu digaet sama orang
lain, kamu pasti gak rela kan? Nah itu dia.. Itu pun kalau kamu punya pacar,
kalau enggak... Ya derita lo.
Sewaktu
sedang ngelakuin demonstrasi, tingkat kesensitifan orang-orang yang ikut
bergabung di demo itu mendadak meningkat berpuluh-puluh kali lipat. Adrenalin
rasanya terpacu lebih cepat (gaya sok, padahal gak pernah ikutan demo), lebih
cepat dari adrenalin kita waktu mau ketemu sama calon mertua lengkap dengan Pak
RT nya. Dan hal kecil yang dilakukan sama pihak keamanan untuk meredam aksi
mereka bisa berujung petaka besar. Contohnya ni, waktu massa pendemo ngebakar
ban di tengah-tengah jalan raya, jelas aja itu
mengganggu lalu lintas pengguna jalan kan.. dan hal itu mengundang
aparat untuk bertindak, yaitu dengan memadamkan api yang membakar ban, contoh
tindakan pencegahan. Tapi massa pendemo gak terima dan langsung terpancing
emosinya dan melawan aparat. Karena mendapat perlawanan dari massa pendemo,
jelas aja aparat makin getol bales ngelawanin lagi dan akhirnya..bentrok deh.
Itu
kenapa cowok-cowok dilarang untuk ngelawanin cewek-cewek yang lagi PMS.
Bisa-bisa bentrokan antara cowok pengganggu dan cewek PMS yang diganggu bakal
ngegunain senjata nuklir...atau yang lebih melemahkan bagi cowok, adalah
senjata air mata.
Adu
fisik, adu mulut mulai berkobar, sampai akhirnya aparat menahan beberapa orang
pendemo yang ngebuat teman-teman pendemo lainnya jadi makin berang. Dan
kelanjutannya, ya itu...mahasiswa dan aparat mulai terlibat bentrok
lempar-lemparan batu.
Emosi dan
kejengkelan aparat gak bisa terbendung lagi sewaktu mereka akhirnya bisa
menangkap beberapa pendemo. Pukulan, tendangan, sabitan dari kayu pun melayang
ke badan pendemo yang malang itu.
Sedangkan
di pihak massa pendemo, mahasiswa, mereka juga gak sepenuhnya benar dan bisa
dibela. Banyak aksi anarkis seperti ngebakar pos polisi, ngebakar mobil plat
merah dan membajak mobil tangki BBM dan lain-lainnya yang mereka lakuin selama
berdemo.
Karena
ngebakar hati cewek lebih berbahaya daripada ngebakar benda mati lainnya.
Demonstrasi
bukanlah hal yang harus dilakukan dengan aksi-aksi fandalisme kayak gitu. Masih
banyak teman-teman mahasiswa yang belum sepenuhnya bisa untuk menahan emosinya
sewaktu berdemo. Itulah salah satu sebab polisi bertindak keras.
Mahasiswa
yang terlalu keras memang sulit dibendung. Kerasnya mereka muncul karena
tuntutan untuk hidup sejahtera gak juga bisa dipenuh oleh pemerintah. Tapi yang
salah adalah sikap keras mereka lebih menjurus kepada aksi kekerasan dan
anarkisme. Mudahnya jiwa-jiwa muda teman-teman mahasiswa terpancing emosinya
juga jadi faktor utama mereka berdemo dengan merusuh.
Misalnya
saat seorang provokator dari pihak pendemo -entah itu mahasiswa atau memang
orang yang kerjanya memprovokatori-
mengajak massa demonstran untuk menyerang aparat yang berjaga. Spontan
aja, karena terpancing maka mereka pun beramai-ramai menyerang aparat.
Untuk
orang-orang yang berprofesi sebagai provokator, sudah selayaknyalah kelamin
mereka itu dimutilasi supaya mereka gak bisa lagi grepeh-grepeh sama pasangan
mesumnya.
Sebenarnya
gak ada yang bisa disalahkan dari mahasiswa dan aparat keamanan ini. Yang harus
disalahkan adalah pemerintah yang telah salah mengambil kebijakan untuk
menyelamatkan negara dari kemelaratan. Pemerintah kurang peka terhadap apa yang
diderita rakyat selama ini dan jeritan-jeritan kesengsaraan mereka. Ya menaikkan
harga BBM contohnya, dengan alasan pemerintah mengurangi beban subsidi, tapi
justru menambah drastis beban hidup masyarakat level bawah.
Jika
harga BBM naik, otomatis seluruh harga kebutuhan pokok kita juga pasti naik, lalu
gimana dengan emak-emak kita yang mau masakin sayur enak untuk anaknya? Ongkos
angkot juga pasti naik, lalu gimana dengan anak sekolahan yang berangkat naik
angkot dengan uang pas-pasan? Apa mereka mesti jalan kaki ke sekolah?
Dan..ongkos pacaran juga pasti naik, lalu gimana dengan nasib orang-orang yang
terlanjur pacaran? Apa mereka mesti putus?
Pemerintah
mungkin pekak, bukan peka.
Klimaksnya,
demonstrasi berujung bentrokan, tidakan anarkisme selalu jadi pemandangan kelam
negara ini. Rakyat seakan frustasi dan gak tau lagi gimana caranya agar
pemerintah lebih memerhatikan mereka. Dan dengan demonstrasilah, teman-teman
mahasiswa menunjukkan dan mewakili
kekecewaan rakyat kita terhadap pemerintah.
Kita gak
bisa sepenuhnya menyalahkan aparat keamanan yang bertugas meredam aksi
demonstrasi para pendemo. Biarpun mereka memang terbukti melakukan aksi
kekerasan terhadap pendemo, tapi lihat juga dari sisi massa demonstrannya.
Mungkin memang benar mahasiswa melakukan aksi anarkisme sehingga aparat
bertindak terlalu keras terhadap mereka. Tapi aksi anarkisme itu merupakan
kekecewaan yang besar terhadap pemerintah.
Ya,
lagi-lagi pemerintah. Memang pemerintah lah yang seharusnya bertanggung jawab
atas apa yang terjadi dengan negara ini sekarang. Sudah wajib bagi pemerintah
untuk duduk sama rendah dengan rakyat kecil dan menuruti permintaan mereka.
Bukan berdiri dengan gagah di singgasananya dan lebih mementingkan kepentingan
kelompoknya.
Kita
lihat aja nanti, apakah pemerintah bersama kita atau hanya mau bersama egoisme
mereka.
Karena
kita, rakyat Indonesia, gak mau lagi melihat demonstrasi-demonstrasi yang
kemudian terasa semakin pahit.



