Di dunia ini, Tuhan menciptakan berbagai makhluk dengan berbagai
ukuran yang berbeda beda. Misalnya manusia dengan serangga tomcat yang lagi
eksis di dunia pemberitaan. Dua makhluk berbeda jenis, berbeda ukuran dan berbeda
jodoh pastinya. Bayangin kalau jodoh tomcat itu adalah cewek-cewek model
pakaian dalam, pria-pria keren dan kaya raya di luar sana bakal gigit resleting
celana karena cewek-cewek itu pacaran sama tomcat. Gimana enggak, tomcat pasti
ngancem bakal ngecacatin kulit mereka kalau mereka nolak pinangan sang tomcat.
Oke, melenceng....
Jadi, jangankan untuk berbagai makhluk ciptaan Tuhan, untuk
kalangan manusia sendiri aja perbedaan yang mencolok itu banyak banget kan. Ada
yang warna kulitnya putih, kuning, coklat dan hitam. Ada yang rambutnya, lurus,
keriting dan gak berambut. Ada yang lubang hidungnya lebar, ada yang lubang
hidungnya mesti dicongkel dulu biar keliatan. Ada yang giginya penuh kawat, ada
yang giginya penuh jigong dan ada yang lain-lain.
Nah, dari sekian banyak perbedaan yang ada pada kita, ada satu
yang dari dulu lumayan jadi ganjalan buat aku. Apa itu? Yap, kalian pasti udah
tau, karena kalian curang baca judulnya duluan. Bener... ukuran tubuh.
Biar kalian tau kalau kalian mau, aku ini punya badan yang bisa
dibilang enggak tinggi, alias pendek. Aku sendiri gak tau tinggi badanku yang
pasti itu sebenarnya berapa, karena aku gak pernah ada niatan buat
ngukur-ngukur. Kalau gak salah sekitar setahun lalu diukur pake penggaris 30cm
yang disambung-sambung gitu, didapat angka 155cm. Gak tau juga itu bener apa
enggak.
Bisa dibayanginkan kecilnya aku untuk ukuran seorang bocah yang
udah berumur 19 tahun. Untung aja kumis tumbuh lumayan lebat di atas bibir,
jadi muka masih keliatan agak tua sedikit. Tapi ada juga ruginya kalau punya badan
kecil kumis lebat. Misalnya aku lagi mengadu nasib jadi tukang ojek payung di
pelataran mal-mal kota. Ada seorang ibu-ibu muda yang tertarik make payung Hello Kitty ku dan begitu aku sodorin tu payung sambil
nyengir, gak taunya tu ibu-ibu malah teriak panik : “TOLOOONG!! ADA BONCEL MESUUUM!!” , lalu dia lari-lari di tengah hujan sambil
nelpon Satpol PP, aku dikarungin orang-orang di sana dan dibuang ke kandang
siamang. Ibu-ibu itu pasti kaget waktu ngeliat ada bocah dengan kumis tebal
nyengir ke arah dia, karena dia mengira aku itu adalah seorang pria mata
keranjang yang kuntet yang siap menerkamnya di bawah guyuran hujan.
Ukuran tubuh yang pendek buat sebagian orang sering dirasakan
sebagai sebuah diskriminasi. Karena biasanya, orang-orang yang punya tubuh
lebih tinggi suka memandang rendah orang-orang bertubuh pendek (ya iyalah, masa
mereka yang tinggi ngeliat orang yang pendek ke arah atas).
Dulu di SMP ku ada liga sepakbola antar kelas yang rutin
diadakan tiap akhir semester. Aku yang waktu itu masih terlalu pendek untuk
naik sepeda BMX selalu dipercaya teman-teman sekelas buat ikut dan dipercaya jadi pemain belakang di tim. Nah, di
sebuah pertandingan yang aku lupa siapa lawannya, ada kejadian yang lumayan
lucu.
Kiper lawan nendang bola yang melambung tinggi ke daerah timku
dan jelas itu adalah makananku sebagai pemain belakang untuk menghalau bola.
Eh..gak taunya tiba-tiba ada seorang pemain lawan datang pingin merebut bola,
dan spontan kami duel udara, kami lompat barengan. Dan di tengah-tengah
lompatan itu, bocah tengil yang jadi lawanku itu bilang : “udahhh, gak nyampe kau itu” . Aku mengumpat : “kampret sialan” . Dan beberapa menit setelah kejadian itu, bocah
tengil tadi tiba-tiba jatuh sendiri tanpa sebab. Aku ketawa dalam hati.
Dan diskriminasi kecil yang aku alami sewaktu di SD dulu. Kami
yang berasal dari kelas-kelas unggulan ditugasin yayasan sekolah untuk jadi
penyambut tamu istimewa yang datang ke sekolah. Aku baris berdiri rapi di
deretan temen-temen sekelasku, waktu itu aku kelas 6 tapi badanku lebih mirip
anak playgroup.
Tiba-tiba tanganku ditarik seorang guru dan aku digiring masuk
ke barisan anak kelas 4. Aku bengong. Temen-temen sekelasku pada ngetawain aku.
Guru itu mindahin aku ke barisan anak kelas 4 karena ukuran
badanku yang gak pantes kalau ada di deretan anak kelas 6. Ada benernya juga
sih, tapi ya...
Tubuh pendek juga gak selamanya diartikan sebagai sebuah
diskriminasi. Justru dengan tubuh pendek, seseorang punya banyak kelebihan
lainnya.
Lincah. Ya, orang pendek dan orang kecil punya kelincahan
melebihi orang-orang tinggi dan besar. Kenapa gitu? Mikir sendiri deh..
Gak makan banyak tempat. Udah jelas kan? Orang pendek dan orang
kecil kalau duduk di angkot ya gampang aja. Biarpun keadaan angkot lagi sesak,
mereka masih bisa duduk dengan nyaman tanpa ngeganggu orang-orang di
sebelahnya. Atau kalau angkot itu benar-benar penuh sesak dengan formasi 86,
orang dengan ukuran mini bisa nyungsep di bawah kursi angkot.
Kreatif. Bukan kreak tapi aktif, biarpun sebagian orang pendek
memang gitu. Tapi dari kebanyakan orang-orang pendek, ternyata mereka menyimpan
sisi kreatifitas yang tinggi, entah itu seni, inovasi, ataupun imajinasi.
Pintar. Mau bukti? Tuh Pak B.J. Habibie dan Napoleon Bonaparte adalah
salah satu contohnya. Yang lainnya masih banyak, cuman aku lupa. Kalau untuk
kalangan orang-orang gak terkenal contohnya, aku (mungkin), teman SD ku, teman
SMP ku, teman SMA ku dan teman kuliahku. Ini bener lho, aku gak ngarang. Dari
beberapa orang pendek yang jadi temanku, ternyata kelebihan mereka ada di
otaknya.
Dan satu lagi, menghasilkan rezeki untuk tukang jahit. Orang
pendek kalau beli celana jeans baru pasti kepanjangan dan kegedean. Nah, untuk
itulah ada orang pendek supaya usaha “Tailor Swift” gak cepet gulung tikar
(jahit cepat maksudnya).
Sekarang, setelah aku mulai dewasa dan mulai tua tapi dengan
tubuh yang pendek kecil gini aku mulai bisa lebih percaya diri. Buatku ukuran
tubuh bukan segalanya yang menentukan kekerenan seseorang. Karena yang membuat
seseorang itu keren adalah bagaimana dia bisa memaksimalkan kemampuan otaknya
untuk berpikir dan bagaimana dia bisa bersikap santun di antara orang-orang
yang suka mengejeknya.
Ada yang bilang kalau cewek cantik suka sama cowok yang punya body oke, tinggi dan macho karena keliatan lebih
laki. Buatku itu semua gak ada artinya, buat apa punya badan bagus tapi doyan
selingkuh.. buat apa punya badan bagus tapi ternyata homo.
Ada yang bilang kalau cowok keren itu suka sama cewek yang punya
kaki jenjang, tubuh sexy, dan ramping. Buat apa? Apa bentuk dan ukuran tubuh
bisa menjamin kesetiaan?
Dari persoalan ukuran tubuh pendek untuk jodoh, kita harus
nyantai. Hubungan yang baik bukanlah hubungan yang didasari dari seberapa
tinggi kamu, seberapa macho kamu atau seberapa besar dada kamu. Tapi
didasari dari seberapa besar hati dan niat kamu untuk menyayangi orang itu.
Sekali lagi, kalau tubuh pendek gak bisa ngebuat kita keliatan keren,
mulailah maksimalkan kemampuan otak dan cara bersikap. Dijamin, orang-orang
yang bertubuh pendek bakal dielu-elukan lebih dari jerapah yang tingginya sampai
5meter itu. Orang-orang yang punya tubuh lebih tinggi pasti bakal mengarahkan
pandangannya ke atas jika bertemu orang-orang pendek yang udah mamapu
memaksimalkan otak dan sikapnya. Itu artinya orang pendek termasuk orang keren
dan dihormati.
Oiya, pendek itu artinya imut lho... Kayak yang aku alamin tadi
sore ini waktu lagi berobat ke rumah sakit. Aku disuruh masuk ke ruang periksa,
dan ada seorang suster yang megang kartu berobatku.
Spontan, dengan logat Batak, dia langsung ngomong histeris : “UDAH 19 TAHUN KO DEK!? KOK MASIH IMUT KALI
BADANMU!!? KALO KO SMA MASIH PERCAYALAH
AKU!”
Aku diam. Dia ketawa. Aku mulai ketawa. Suster lain dan sang
dokter pun ketawa. Kami ketawa bareng.
Aku senang, ternyata tubuh pendek bisa membuat orang terhibur
dan tertawa girang.
Dan bersyukur atas nikmat Tuhan ini bisa membuatku jauh lebih senang.
Dan bersyukur atas nikmat Tuhan ini bisa membuatku jauh lebih senang.
Assalamu'alaikum Wr. Wb
BalasHapusSaya sangat teemotivasi dengan cerita anda, karena saya juga mengalami masalah seperti anda :D .Semoga Berkah Aamiin.. Wassalamu'laikum Wr. Wb