Rabu, 04 April 2012

GAYA HIDUP dan CINTA MATREALISTIK


Di zaman modern kayak sekarang ini, semua-semua jelas keliatan serba modern dan keren. Fasilitas apapun mudah kita dapat berkat dukungan teknologi yang diciptain orang-orang pintar dari penjuru dunia. Zaman modern ini juga membuat kita mengenal banyak hal-hal baru, mulai dari lingkup pertemanan dan pergaulan, makanan dan hiburan, informasi dan gaya hidup dan lainnya.
Herannya, di zaman yang katanya udah modern ini justru makin banyak kita lihat cewek-cewek yang make pakaian serba terbuka dan serba minim. Aku gak tau apa alasan mereka make yang begituan, mungkin mereka pingin dibilang sexy  dan cantik dengan pakaian kayak gitu, tapi kenyataannya mereka bakal dibilang napsuin oleh banyak pria. Atau mungkin mereka pingin menghidupkan lagi style zaman purba yang sangat populer di kalangan manusia homo saphiens, kalau emang iya gitu..ntar pas lagi jalan ke mall mending mereka gak usah pake baju aja sekalian.

Oke, bukan masalah pakaian yang dipake cewek-cewek itu yang bakal aku bahas kali ini. Toh, aku gak munafik, aku juga sering nikmatin apa yang mereka pake kok (bukan ikutan make lho yaa,) yah wajarlah nikmatin, namanya juga pria normal kan..

Jadi gini, zaman modern ternyata juga nentuin besar kecilnya peluang seseorang untuk bisa punya pacar. Bener, ada beberapa faktor paling populer yang sekarang ini sangat berpengaruh dalam proses seseorang untuk ngedapetin pacar. Biarpun mungkin kalian udah pada tau apa aja faktornya itu dan udah sering dibahas, tapi gak apa dong aku ulangin lagi di sini untuk sekedar mengingatkan betapa bahanya usaha pergaulan dan mencari pacar itu sebenarnya. Oke deh langsung aja ya.



Pertama, ber-Blackberry. Anak zaman sekarang mana sih yang gak make Blackberry, atau minimalnya cuma sekedar tau aja.. Ya, handphone  yang satu ini emang udah jadi primadona utama di kalangan anak muda sekarang. Jarang banget kita temuin, baik dimanapun itu, anak muda yang gak ngegenggam Blackberry di tangannya atau di lubang hidungnya.
Kenapa Blackberry? Kita tau Blackberry adalah smartphone  keren yang punya fasilitas BBM atau Blackberry Messenger.  Fasilitas chatting yang.... rasanya gak perlu lagi deh dijelasin ya. Toh kalian juga udah pada tau kan? Entar aku malah dikira sok pintar lagi, kan males.
Blackberry yang di awal pemasarannya ditujukan untuk kalangan pebisnis untuk memudahkan mereka mendapat informasi justru mendadak berubah jadi patokan status sosial remaja masa kini di Indonesia. Entah siapa yang mulai, tiba-tiba aja demam menggunakan Blackberry di seluruh negeri ini dimotori oleh para remaja dan anak muda. Beramai-ramai make Blackberry supaya dibilang gaul dan beramai-ramai mereka akan segera digauli.

Dengan dalih fasilitas BBM lebih nyenengin daripada fasilitas SMS yang udah bertahan lama dan dianggap kuno, saling tukar nomor PIN BB pun berlangsung teramat kencang. Mulai dari yang terang-terangan minta PIN BB ke orang lain : “eh, boleh minta PIN BB nya gak?”  dan dijawab dengan : “gak, elu jelek!” . Sampai yang dengan keponya nyebar-nyebarin PIN BB pribadinya sendiri di tembok-tembok sekolah ataupun di poster layanan sedot WC.

It’s so crazy.

Terus, apa yang salah emang dari itu?
Yang salah adalah perilaku para penggunanya yang umunya masih dijerat kelabilan tingkat Menara Burj Dubai. Saking diagungkannya barang yang satu ini, serentak muncul perilaku menghindari orang yang gak ber-BB. Iya, pengguna Blackberry yang mayoritas anak muda ini mendadak punya semacam sikap anti-sosial. Bagi sebagian dari mereka, orang yang make Blackberry itu mereka anggap sebagai anak orang kaya, cakep, keren, gaul dan bisa digauli. Dan yang gak make Blackberry itu berarti anaknya kismin, cupu, jelek, jamuran, kutuan, korengan, jigongan, katrok dan mainnya bareng kecebong. Dan kemudian, ababil pengguna Blackberry ini pun mulai membuat benteng pertemanan. Mereka sibuk saling invite PIN BB dan mengupdate setiap pembahasan balckberry Messenger  mereka di status jejaring sosialnya dan melupakan teman-teman mereka yang gak ber-BB.

Pernah suatu kali aku ngebaca status Facebook ababil yang isinya :
“Hari gini masih minta nomor hp, gak lakulah..minta PIN BB dong hahahahah”
Mungkin setelah dia ngupdate statusnya itu, Blackberrynya gak sengaja ketelen mulutnya yang terbuka selebar mulut kuda nil waktu dia lagi ketawa, dan dia koma berhari-hari sebanyak jumlah digit PIN BB nya.

Dan pengalamanku dengan seorang teman ber-BB sebelum aku juga make Blackberry :
Aku : “eh, kok jarang banget mau bales SMS aku?”
Kunyuk : “iyaa, males aja rasanya kalau SMS-an gitu..”

Akhir kata, dia memang pantas disebut kunyuk.

Jadi apa hubungannya Blackberry dengan proses ngedapetin pacar? Apa yang aku jabarin di atas tadi udah jelas kok. Ababil-ababil akan mengincar cowok/cewek yang mereka anggap keren yang dengan hanya bermodal segenggam Blackberry. Maksudnya simpel, fasilitas Sort Message Service  udah mati di mata mereka, jadi Blackberry Messenger lah yang lebih asoy untuk dipake. Dan ya itu tadi, orang yang gak make Blackberry dianggap sebagai anak cupu buat mereka.
Mereka yang mendapat pacar yang diawali dari pandangan pertamanya ke Blackberry orang itu, adalah orang-orang yang sukanya mengeloni cinta palsu. Biar dibilang gaul, maka mereka akan buru-buru pacaran dengan orang yang sederajat se-Blackberry-an. Kalau memang niat pacaran sama yang kayak gitu, silahkan aja datangin pangkalan becak terdekat, dan pilih deh salah satu abang becaknya. Kan udah banyak tu ya tukang becak yang ber-BB.

Gak ada yang salah dari kita yang dalam kesehariannya menggunakan Blackberry untuk berkomunikasi, tapi, lagi-lagi yang salah adalah sikap perilaku kita yang hina yang ngebuat kita semakin terjerumus dalam hinanya perilaku berteman dan perilaku dalam mendapatkan cinta.

Dalam cinta palsu, ada terlalu banyak gengsi yang berbicara.


Kedua, ber-behel. Pernah nonton serial televisi Betty La Pea kan? (gak tau tulisannya bener apa enggak). Ya, serial TV yang diperanin cewek bernama Betty-entah juga Sutiyem mungkin-punya ciri khasnya sendiri, yaitu gigi-giginya yang dipagerin pake kawat dan kacamata minusnya yang kelewat gede itu.
Gaya kayak gitu, menurut perkembangan zaman, adalah gaya yang paling dihindari oleh anak-anak di daratan Amerika dan Eropa karena mereka menganggap itu adalah style tercupu di zaman modern ini.

Tapi sayangnya, lagi-lagi, entah siapa yang mulai duluan..gaya cupu yang begituan justru diadaptasi salah oleh banyak ababil di Indonesia. Iya, mereka cenderung bangga kalau udah bisa magarin gigi-giginya entah pake kawat jenis apapun itu, kawat behel asli, kawat jemuran, atau mungkin kawat untuk berburu babi hutan.

Kenapa mereka bangga?
Trend bodoh ini mendadak jadi booming banget di kalangan anak zaman yang berduit banyak. Karena biaya pemasangan kawat gigi normalnya itu berkisar 2-4 jutaan lah paling enggak, biarpun sekarang udah banyak banget pasar-pasar yang ngebuka kios behel murah dengan slogan tersembunyi “resiko tanggung sendiri”. Nah, dengan besarnya biaya yang dikeluarin cuma untuk magarin gigi mereka itu, muncul sikap perilaku angkuh mereka untuk nunjukkin status sosial mereka di masyarakat.
Karena dengan terpasangnya kawat di barisan gigi-gigi mereka, orang-orang bakal nganggep mereka itu anak orang kaya, keren dan gaul. Entah apa yang ada di pikiran mereka, terutama para cewek ababil yang bisanya cuma ngikutin gaya gak nggenah kayak gitu. Padahal ya, gigi mereka samasekali gak boneng dan gak boneng-boneng amat, tapi mereka rela ngeluarin duit segitu banyak cuman buat hal yang sia-sia itu. Mending juga tu duit dibeliin pembalut banyak-banyak supaya gak kehabisan stok kalau-kalau nantinya banyak cowok melambai yang juga kena gejala PMS.

Dan dengan bangganya, setelah mereka sukses masang kawat gigi itu, mereka akan selalu menyengir lebar setiap ketemu sama orang. Dan orang-orang itu akan bilang : “wahhh..berbehel..wahhh”, kemudian : “wahhh..menjijikkan juga ya wahhh..” , setelah ngeliat liurnya yang netes gak karuan karena mulutnya yang terbuka terus, sulit mingkem.

Gaul. Itulah yang ada di benak mereka yang cuma sekedar ikut-ikutan masang behel di barisan gigi-gigi mereka. What a fuckin’ stupid you are!  Mereka yang cantik, begitu make behel bakal jauh keliatan lebih boneng dari normalnya, iya kan? Karena mulut mereka dibebani sama kawat gigi yang ngebuat mulut mereka susah nutup dan nampak maju lima senti.
Mereka yang gak berbehel dan yang gak berdosa bakal ngerasa minder dengan keadaan teman-teman sepergaulin, eh sepergaulan mereka yang pada masang behel itu. Ditambah lagi dengan bisikan-bisikan khas setan dari teman-temannya yang bilang : “udah deh, buruan pasang behel, biar kita jadi The Behel Gengzz.. kalo gak punya duit, pake aja kawat jemuran emak lo...” . Ya, itu memang kalimat bisikan setan, setan banget.  
Begitu ia terpengaruh, The Behel Gengz pun mulai menjamah seluruh penjuru kota dengan membuka nyengir lebar-lebar yang kemudian membuat orang yang ngeliatnya langsung menyiramkan bensin dan melempar tabung elpiji ke arah mereka, kemudian membakarnya.

Sebenarnya sih gak ada yang salah dari behel ini, yang salah adalah kita, sebagai konsumen yang bodoh yang terlalu mengaggungkan status sosial lewat berapa duit yang kita punya. Wajar-wajar aja kalau mau pasang behel karena emang giginya boneng, tapi gak wajar kalau niatnya masang behel supaya bisa ngegaet cowok/cewek keren. Yap, cowok pun sekarang udah banyak yang make behel. Entahlah.
Buat sebagian dari mereka, barisan kawat gigi itu udah lebih dari cukup untuk nunjukkin siapa mereka dan bagaimana status sosial mereka di masyarakat. Dan imbalan yang mereka dapat adalah pasangan atau pacar yang punya derajat sepadan dengan mereka. Yang hanya melihat mereka dari berapa banyak duit yang mereka punya, bukan dari cinta.
Tapi mereka justru bangga dengan keadaan kacau kayak gitu, buat mereka cinta itu nomor dua, yang terpenting adalah “aku keren dan gaul dan aku anak orang kaya”. Dengan begitu, setibanya mereka putus dari pasangan sederajat se-berbehel-an itu, mereka gak bakal susah payah lagi buat nyari cewek/cowok pengganti. Dan siklus itu akan berlangsung terus menerus sampai mulut mereka terpaksa dioperasi karena kawat gigi itu berkembangbiak.
Karena cinta palsu sekarang ini sangat bergantung dari mahalnya kawat jemuran di barisan gigi-gigimu.


Ketiga, ber-mobil. Udah tau lah ya kenapa mobil jadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi seseorang untuk ngedapetin pacar. Iya, mobil seakan udah jadi komoditas atau senjata utama anak muda negeri ini khususnya yang cowok, untuk menggaet cewek-cewek cantik sexy yang tersebar di penjuru negeri sampai di kedalaman gua.
Kenapa mobil berpengaruh, ya ini gak terlepas dari semakin meningkatnya taraf berpacaran di kalangan anak muda Indonesia, terutama buat cewek-cewek gaul. Karena merasa dirinya keren dan gaul, otomatis mereka juga menyesuaikan standar dirinya dengan kendaraan yang bakal mereka nikmatin selama masa berpacaran dengan pasangannya, salah satunya ya dengan mobil.

Jelas aja kan, yang namanya cewek pasti pinginnya disayang dan disanjung. Mobil, buat mereka adalah salah satu cara agar mereka bisa merasa tersanjung sebagai seorang cewek. Entah mungkin ini pernah ada di salah satu episode sinetron Tersanjung atau apalah, tapi yang pasti..mobil sangat berpengaruh.

Zaman sekarang, cewek mana yang mau barengan sama cowoknya nyetop angkot di pinggir jalan pas hari lagi panas-panasnya yang bikin air netes-netes dari ketek mereka? Cewek mana yang mau dijemput cowoknya naik becak dayung karena si cowok itu gak punya kendaraan? Cewek mana yang mau berdiri di dalam busway sama cowoknya dengan resiko dipegang-pegang sama om om? Cewek mana?
Yah, biarpun gak semua cewek kayak gitu, tapi kali ini di sini aku ngebahas tentang perilaku cewek yang gak tau diri. Perilaku cewek labil yang antipati memilih pasangan untuk pacaran dengan ngeliat dulu tunggangan apa yang si cowok itu pake.
Secara halusnya, sebenarnya para cewek gaul yang siap digauli dengan perilaku hinanya itu udah ngerendahin derajat diri mereka sendiri. Gimana enggak coba, mereka jauh lebih mementingkan kendaraan yang bakal ngebawa mereka kemana-mana itu. Mereka tampil cantik dan sexy setiap jalan di mall, dengan harapan seorang cowok keren kaya raya ngelirik-ngelirik mereka dengan lidah menjulur, liur dan congek meleler dan lalu mengajak kenalan kemudian  mengantarkan mereka pulang ke rumah. Ya, itulah yang dicari cewek labil yang gak tau diri itu.

Buat sekedar informasi, biaya pacaran di negeri ini emang mahal banget. Orang-orang dengan standar wajah yang teramat rendah aja sekarang mulai berani bikin patokan SNI (Standar Nasional Indonesia) untuk pacar yang bakal mereka nikmatin, iya nikmatin. Ya, itu, minimal kalau pergi kemana-mana bisa dianterin naik mobil lah ya, biarpun cuma punya bos nya, asal dia memang bukan supir pribadi aja.

Dan mirisnya, buat para cowok yang punya tampang lumayan, kesempatan mereka untuk ngedapetin cewek yang lumayan itu juga tipis banget kalau mereka pulang sekloah/ngampus tiap hari naik angkot. Biarpun wajah cowok itu keren, tapi kalau dia udah berdiri kayak manekin cupu di pinggir jalan yang nungguin angkot, dijamin deh, mata cewek-cewek gaul itu seakan pura-pra mengalami buta sesaat sehingga gak bisa ngeliat tu cowok, yang akhirnya cewek-cewek itu nyungsep ke got karena kepura-puraannya itu.

Kan masih ada motor?
Aduh, motor sih gak bisa dibanggain untuk ngegaet cewek gaul labil gitu. Kalau lah kita (cowok) ngarep banget pingin punya cewek cantik sexy yang asal kemana-mana make hotpants, ya apa mau tu cewek diboncengin naik motor? Ya gak maulah, yang ada mereka mikir entar tu paha kuda nil mereka jadi keling sebelum sempet ditoel-toel sama om-om di lampu merah.
Tapi apa iya pingin punya cewek labil kayak gitu? .......

Cewek-cewek zaman sekarang yang gak tau diri itu emang suka banget ngerendahin derajat cowok-cowok yang sederhana tapi dengan hati yang luar biasa. Mereka menganggap kita (karena aku juga gak bermobil), sebagai cowok cupu yang gak pantes buat gandengan tangan bareng mereka. Itulah kenapa cowok sederhana susah ngedapetin cewek dengan spesifikasi fisik yang komplit.
Tapi keuntungan buat cowok-cowok sederhana itu adalah mereka gak akan pernah bisa diperalat sama cewek-cewek matre itu, yang standar hidupnya emang tinggi tapi gak punya standar hati. Cowok sederhana bakal punya pacar sederhana di fisik, tapi luarbiasa di hatinya. Atau kalau Tuhan mengizinkan, mereka akan punya cewek dengan spesifikasi fisik super dengan hati yang duper, super duper girlfriend.

Lagi, sebenernya gak ada yang salah dengan gaya hidup anak muda bermobil. Ya kalau orangtua mereka emang mampu ngebeliin tu anak sebuah bemo, eh BMW maksudnya ya kenapa enggak.. Tapi, yang jadi masalah adalah kalau status mereka sebagai pengendara mobil di jalanan digunain untuk kepentingan menyombongkan diri di atas orang-orang yang ada di level di bawah mereka.
Kita tau lah, perkembangan pergaulan di Indonesia emang gak sehat. Apalagi kalau udah menyangkut kendaraan, motor gede punya gengnya sendiri, motor sport punya gengnya sendiri dan mobil juga punya gengnya sendiri.
Geng-geng itu perlahan tapi pasti, (kata seorang kawan), udah berhasil mengkotak-kotakkan pertemanan di kalangan anak muda. Iya kan? Memang iya. Buat mereka, merekalah yang terbaik. Sementara orang di luar geng mereka, geng pemburu ubur-ubur misalnya, gak layak untuk sekedar ngobrol bareng mereka, serem ya.

Karena cinta palsu memandang pasangannya dari jumlah empat buah kaki bayangan.

.....

Ya, itu lah ketiga faktor paling berpengaruh dalam hal pergaulan ataupun berpacaran di zaman modern ini. Sebenernya masih banyak lagi sih, tapi yaudalah, tiga aja udah banyak banget dan bikin males ngebacanya kan?
Mudah-mudahan dengan tiga faktor yang aku jabarin ini bisa menyadarkan kita akan pengaruh buruk dari gaya hidup dan cinta matrealistik yang sekarang makin gak malu-malu untuk menelanjangi kepalsuannya sendiri di antara kita yang masih bisa berpikir jernih untuk menghindarinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar