Di
zaman modern kayak sekarang ini, semua-semua jelas keliatan serba modern dan
keren. Fasilitas apapun mudah kita dapat berkat dukungan teknologi yang
diciptain orang-orang pintar dari penjuru dunia. Zaman modern ini juga membuat
kita mengenal banyak hal-hal baru, mulai dari lingkup pertemanan dan pergaulan,
makanan dan hiburan, informasi dan gaya hidup dan lainnya.
Herannya,
di zaman yang katanya udah modern ini justru makin banyak kita lihat
cewek-cewek yang make pakaian serba terbuka dan serba minim. Aku gak tau apa
alasan mereka make yang begituan, mungkin mereka pingin dibilang sexy dan cantik dengan pakaian kayak gitu, tapi
kenyataannya mereka bakal dibilang napsuin oleh banyak pria. Atau mungkin
mereka pingin menghidupkan lagi style zaman
purba yang sangat populer di kalangan manusia homo saphiens, kalau emang iya gitu..ntar pas lagi jalan ke mall
mending mereka gak usah pake baju aja sekalian.
Oke,
bukan masalah pakaian yang dipake cewek-cewek itu yang bakal aku bahas kali
ini. Toh, aku gak munafik, aku juga sering nikmatin apa yang mereka pake kok
(bukan ikutan make lho yaa,) yah wajarlah nikmatin, namanya juga pria normal
kan..
Jadi
gini, zaman modern ternyata juga nentuin besar kecilnya peluang seseorang untuk
bisa punya pacar. Bener, ada beberapa faktor paling populer yang sekarang ini
sangat berpengaruh dalam proses seseorang untuk ngedapetin pacar. Biarpun
mungkin kalian udah pada tau apa aja faktornya itu dan udah sering dibahas,
tapi gak apa dong aku ulangin lagi di sini untuk sekedar mengingatkan betapa
bahanya usaha pergaulan dan mencari pacar itu sebenarnya. Oke deh langsung aja
ya.
Pertama,
ber-Blackberry. Anak zaman sekarang mana sih yang gak make Blackberry, atau
minimalnya cuma sekedar tau aja.. Ya, handphone
yang satu ini emang udah jadi
primadona utama di kalangan anak muda sekarang. Jarang banget kita temuin, baik
dimanapun itu, anak muda yang gak ngegenggam Blackberry di tangannya atau di
lubang hidungnya.
Kenapa
Blackberry? Kita tau Blackberry adalah smartphone
keren yang punya fasilitas BBM atau Blackberry Messenger. Fasilitas chatting
yang.... rasanya gak perlu lagi deh dijelasin ya. Toh kalian juga udah pada
tau kan? Entar aku malah dikira sok pintar lagi, kan males.
Blackberry
yang di awal pemasarannya ditujukan untuk kalangan pebisnis untuk memudahkan
mereka mendapat informasi justru mendadak berubah jadi patokan status sosial
remaja masa kini di Indonesia. Entah siapa yang mulai, tiba-tiba aja demam
menggunakan Blackberry di seluruh negeri ini dimotori oleh para remaja dan anak
muda. Beramai-ramai make Blackberry supaya dibilang gaul dan beramai-ramai
mereka akan segera digauli.
Dengan
dalih fasilitas BBM lebih nyenengin daripada fasilitas SMS yang udah bertahan
lama dan dianggap kuno, saling tukar nomor PIN BB pun berlangsung teramat
kencang. Mulai dari yang terang-terangan minta PIN BB ke orang lain : “eh, boleh minta PIN BB nya gak?” dan dijawab dengan : “gak, elu jelek!” . Sampai yang dengan keponya nyebar-nyebarin PIN
BB pribadinya sendiri di tembok-tembok sekolah ataupun di poster layanan sedot
WC.
It’s so crazy.
Terus,
apa yang salah emang dari itu?
Yang
salah adalah perilaku para penggunanya yang umunya masih dijerat kelabilan
tingkat Menara Burj Dubai. Saking diagungkannya barang yang satu ini, serentak
muncul perilaku menghindari orang yang gak ber-BB. Iya, pengguna Blackberry
yang mayoritas anak muda ini mendadak punya semacam sikap anti-sosial. Bagi sebagian
dari mereka, orang yang make Blackberry itu mereka anggap sebagai anak orang
kaya, cakep, keren, gaul dan bisa digauli. Dan yang gak make Blackberry itu
berarti anaknya kismin, cupu, jelek, jamuran, kutuan, korengan, jigongan,
katrok dan mainnya bareng kecebong. Dan kemudian, ababil pengguna Blackberry
ini pun mulai membuat benteng pertemanan.
Mereka sibuk saling invite PIN BB
dan mengupdate setiap pembahasan balckberry Messenger mereka di status jejaring sosialnya dan
melupakan teman-teman mereka yang gak ber-BB.
Pernah
suatu kali aku ngebaca status Facebook ababil yang isinya :
“Hari gini masih minta nomor hp, gak lakulah..minta
PIN BB dong hahahahah”
Mungkin
setelah dia ngupdate statusnya itu,
Blackberrynya gak sengaja ketelen mulutnya yang terbuka selebar mulut kuda nil
waktu dia lagi ketawa, dan dia koma berhari-hari sebanyak jumlah digit PIN BB
nya.
Dan
pengalamanku dengan seorang teman ber-BB sebelum aku juga make Blackberry :
Aku
: “eh, kok jarang banget mau bales SMS
aku?”
Kunyuk
: “iyaa, males aja rasanya kalau SMS-an
gitu..”
Akhir
kata, dia memang pantas disebut kunyuk.
Jadi
apa hubungannya Blackberry dengan proses ngedapetin pacar? Apa yang aku jabarin
di atas tadi udah jelas kok. Ababil-ababil akan mengincar cowok/cewek yang
mereka anggap keren yang dengan hanya bermodal segenggam Blackberry. Maksudnya
simpel, fasilitas Sort Message Service udah mati di mata mereka, jadi Blackberry Messenger lah yang lebih asoy
untuk dipake. Dan ya itu tadi, orang yang gak make Blackberry dianggap sebagai
anak cupu buat mereka.
Mereka
yang mendapat pacar yang diawali dari pandangan pertamanya ke Blackberry orang
itu, adalah orang-orang yang sukanya mengeloni cinta palsu. Biar dibilang gaul,
maka mereka akan buru-buru pacaran dengan orang yang sederajat se-Blackberry-an.
Kalau memang niat pacaran sama yang kayak gitu, silahkan aja datangin pangkalan
becak terdekat, dan pilih deh salah satu abang becaknya. Kan udah banyak tu ya
tukang becak yang ber-BB.
Gak
ada yang salah dari kita yang dalam kesehariannya menggunakan Blackberry untuk
berkomunikasi, tapi, lagi-lagi yang salah adalah sikap perilaku kita yang hina yang
ngebuat kita semakin terjerumus dalam hinanya perilaku berteman dan perilaku
dalam mendapatkan cinta.
Dalam
cinta palsu, ada terlalu banyak gengsi yang berbicara.
Kedua,
ber-behel. Pernah nonton serial televisi Betty La Pea kan? (gak tau tulisannya
bener apa enggak). Ya, serial TV yang diperanin cewek bernama Betty-entah juga
Sutiyem mungkin-punya ciri khasnya sendiri, yaitu gigi-giginya yang dipagerin
pake kawat dan kacamata minusnya yang kelewat gede itu.
Gaya
kayak gitu, menurut perkembangan zaman, adalah gaya yang paling dihindari oleh
anak-anak di daratan Amerika dan Eropa karena mereka menganggap itu adalah style tercupu di zaman modern ini.
Tapi
sayangnya, lagi-lagi, entah siapa yang mulai duluan..gaya cupu yang begituan
justru diadaptasi salah oleh banyak ababil di Indonesia. Iya, mereka cenderung
bangga kalau udah bisa magarin gigi-giginya entah pake kawat jenis apapun itu,
kawat behel asli, kawat jemuran, atau mungkin kawat untuk berburu babi hutan.
Kenapa
mereka bangga?
Trend
bodoh ini mendadak jadi booming banget
di kalangan anak zaman yang berduit banyak. Karena biaya pemasangan kawat gigi
normalnya itu berkisar 2-4 jutaan lah paling enggak, biarpun sekarang udah
banyak banget pasar-pasar yang ngebuka kios behel murah dengan slogan
tersembunyi “resiko tanggung sendiri”. Nah, dengan besarnya biaya yang
dikeluarin cuma untuk magarin gigi mereka itu, muncul sikap perilaku angkuh
mereka untuk nunjukkin status sosial mereka di masyarakat.
Karena
dengan terpasangnya kawat di barisan gigi-gigi mereka, orang-orang bakal
nganggep mereka itu anak orang kaya, keren dan gaul. Entah apa yang ada di
pikiran mereka, terutama para cewek ababil yang bisanya cuma ngikutin gaya gak nggenah kayak gitu. Padahal ya, gigi
mereka samasekali gak boneng dan gak boneng-boneng amat, tapi mereka rela
ngeluarin duit segitu banyak cuman buat hal yang sia-sia itu. Mending juga tu
duit dibeliin pembalut banyak-banyak supaya gak kehabisan stok kalau-kalau
nantinya banyak cowok melambai yang juga kena gejala PMS.
Dan
dengan bangganya, setelah mereka sukses masang kawat gigi itu, mereka akan
selalu menyengir lebar setiap ketemu sama orang. Dan orang-orang itu akan
bilang : “wahhh..berbehel..wahhh”, kemudian
: “wahhh..menjijikkan juga ya wahhh..” ,
setelah ngeliat liurnya yang netes gak karuan karena mulutnya yang terbuka
terus, sulit mingkem.
Gaul.
Itulah yang ada di benak mereka yang cuma sekedar ikut-ikutan masang behel di
barisan gigi-gigi mereka. What a fuckin’
stupid you are! Mereka yang cantik,
begitu make behel bakal jauh keliatan lebih boneng dari normalnya, iya kan?
Karena mulut mereka dibebani sama kawat gigi yang ngebuat mulut mereka susah
nutup dan nampak maju lima senti.
Mereka
yang gak berbehel dan yang gak berdosa bakal ngerasa minder dengan keadaan
teman-teman sepergaulin, eh sepergaulan mereka yang pada masang behel itu.
Ditambah lagi dengan bisikan-bisikan khas setan dari teman-temannya yang bilang
: “udah deh, buruan pasang behel, biar
kita jadi The Behel Gengzz.. kalo gak punya duit, pake aja kawat jemuran emak
lo...” . Ya, itu memang kalimat bisikan setan, setan banget.
Begitu
ia terpengaruh, The Behel Gengz pun mulai menjamah seluruh penjuru kota dengan
membuka nyengir lebar-lebar yang kemudian membuat orang yang ngeliatnya
langsung menyiramkan bensin dan melempar tabung elpiji ke arah mereka, kemudian
membakarnya.
Sebenarnya
sih gak ada yang salah dari behel ini, yang salah adalah kita, sebagai konsumen
yang bodoh yang terlalu mengaggungkan status sosial lewat berapa duit yang kita
punya. Wajar-wajar aja kalau mau pasang behel karena emang giginya boneng, tapi
gak wajar kalau niatnya masang behel supaya bisa ngegaet cowok/cewek keren.
Yap, cowok pun sekarang udah banyak yang make behel. Entahlah.
Buat
sebagian dari mereka, barisan kawat gigi itu udah lebih dari cukup untuk
nunjukkin siapa mereka dan bagaimana status sosial mereka di masyarakat. Dan
imbalan yang mereka dapat adalah pasangan atau pacar yang punya derajat sepadan
dengan mereka. Yang hanya melihat mereka dari berapa banyak duit yang mereka
punya, bukan dari cinta.
Tapi
mereka justru bangga dengan keadaan kacau kayak gitu, buat mereka cinta itu
nomor dua, yang terpenting adalah “aku keren dan gaul dan aku anak orang kaya”.
Dengan begitu, setibanya mereka putus dari pasangan sederajat se-berbehel-an
itu, mereka gak bakal susah payah lagi buat nyari cewek/cowok pengganti. Dan
siklus itu akan berlangsung terus menerus sampai mulut mereka terpaksa
dioperasi karena kawat gigi itu berkembangbiak.
Karena
cinta palsu sekarang ini sangat bergantung dari mahalnya kawat jemuran di
barisan gigi-gigimu.
Ketiga,
ber-mobil. Udah tau lah ya kenapa mobil jadi salah satu faktor penting yang
mempengaruhi seseorang untuk ngedapetin pacar. Iya, mobil seakan udah jadi
komoditas atau senjata utama anak muda negeri ini khususnya yang cowok, untuk
menggaet cewek-cewek cantik sexy yang tersebar di penjuru negeri sampai di
kedalaman gua.
Kenapa
mobil berpengaruh, ya ini gak terlepas dari semakin meningkatnya taraf
berpacaran di kalangan anak muda Indonesia, terutama buat cewek-cewek gaul.
Karena merasa dirinya keren dan gaul, otomatis mereka juga menyesuaikan standar
dirinya dengan kendaraan yang bakal mereka nikmatin selama masa berpacaran
dengan pasangannya, salah satunya ya dengan mobil.
Jelas
aja kan, yang namanya cewek pasti pinginnya disayang dan disanjung. Mobil, buat
mereka adalah salah satu cara agar mereka bisa merasa tersanjung sebagai
seorang cewek. Entah mungkin ini pernah ada di salah satu episode sinetron
Tersanjung atau apalah, tapi yang pasti..mobil sangat berpengaruh.
Zaman
sekarang, cewek mana yang mau barengan sama cowoknya nyetop angkot di pinggir
jalan pas hari lagi panas-panasnya yang bikin air netes-netes dari ketek mereka?
Cewek mana yang mau dijemput cowoknya naik becak dayung karena si cowok itu gak
punya kendaraan? Cewek mana yang mau berdiri di dalam busway sama cowoknya
dengan resiko dipegang-pegang sama om om? Cewek mana?
Yah,
biarpun gak semua cewek kayak gitu, tapi kali ini di sini aku ngebahas tentang
perilaku cewek yang gak tau diri. Perilaku cewek labil yang antipati memilih
pasangan untuk pacaran dengan ngeliat dulu tunggangan apa yang si cowok itu
pake.
Secara
halusnya, sebenarnya para cewek gaul yang siap digauli dengan perilaku hinanya
itu udah ngerendahin derajat diri mereka sendiri. Gimana enggak coba, mereka
jauh lebih mementingkan kendaraan yang bakal ngebawa mereka kemana-mana itu.
Mereka tampil cantik dan sexy setiap jalan di mall, dengan harapan seorang
cowok keren kaya raya ngelirik-ngelirik mereka dengan lidah menjulur, liur dan
congek meleler dan lalu mengajak kenalan kemudian mengantarkan mereka pulang ke rumah. Ya,
itulah yang dicari cewek labil yang gak tau diri itu.
Buat
sekedar informasi, biaya pacaran di negeri ini emang mahal banget. Orang-orang
dengan standar wajah yang teramat rendah aja sekarang mulai berani bikin
patokan SNI (Standar Nasional Indonesia) untuk pacar yang bakal mereka
nikmatin, iya nikmatin. Ya, itu, minimal kalau pergi kemana-mana bisa dianterin
naik mobil lah ya, biarpun cuma punya bos nya, asal dia memang bukan supir
pribadi aja.
Dan
mirisnya, buat para cowok yang punya tampang lumayan, kesempatan mereka untuk
ngedapetin cewek yang lumayan itu juga tipis banget kalau mereka pulang sekloah/ngampus
tiap hari naik angkot. Biarpun wajah cowok itu keren, tapi kalau dia udah
berdiri kayak manekin cupu di pinggir jalan yang nungguin angkot, dijamin deh,
mata cewek-cewek gaul itu seakan pura-pra mengalami buta sesaat sehingga gak
bisa ngeliat tu cowok, yang akhirnya cewek-cewek itu nyungsep ke got karena
kepura-puraannya itu.
Kan masih ada motor?
Aduh,
motor sih gak bisa dibanggain untuk ngegaet cewek gaul labil gitu. Kalau lah
kita (cowok) ngarep banget pingin punya cewek cantik sexy yang asal kemana-mana
make hotpants, ya apa mau tu cewek
diboncengin naik motor? Ya gak maulah, yang ada mereka mikir entar tu paha kuda
nil mereka jadi keling sebelum sempet ditoel-toel sama om-om di lampu merah.
Tapi
apa iya pingin punya cewek labil kayak gitu? .......
Cewek-cewek
zaman sekarang yang gak tau diri itu emang suka banget ngerendahin derajat
cowok-cowok yang sederhana tapi dengan hati yang luar biasa. Mereka menganggap
kita (karena aku juga gak bermobil), sebagai cowok cupu yang gak pantes buat gandengan
tangan bareng mereka. Itulah kenapa cowok sederhana susah ngedapetin cewek
dengan spesifikasi fisik yang komplit.
Tapi
keuntungan buat cowok-cowok sederhana itu adalah mereka gak akan pernah bisa
diperalat sama cewek-cewek matre itu, yang standar hidupnya emang tinggi tapi
gak punya standar hati. Cowok sederhana bakal punya pacar sederhana di fisik,
tapi luarbiasa di hatinya. Atau kalau Tuhan mengizinkan, mereka akan punya
cewek dengan spesifikasi fisik super dengan hati yang duper, super duper girlfriend.
Lagi,
sebenernya gak ada yang salah dengan gaya hidup anak muda bermobil. Ya kalau
orangtua mereka emang mampu ngebeliin tu anak sebuah bemo, eh BMW maksudnya ya
kenapa enggak.. Tapi, yang jadi masalah adalah kalau status mereka sebagai
pengendara mobil di jalanan digunain untuk kepentingan menyombongkan diri di
atas orang-orang yang ada di level di bawah mereka.
Kita
tau lah, perkembangan pergaulan di Indonesia emang gak sehat. Apalagi kalau
udah menyangkut kendaraan, motor gede punya gengnya sendiri, motor sport punya
gengnya sendiri dan mobil juga punya gengnya sendiri.
Geng-geng
itu perlahan tapi pasti, (kata seorang kawan), udah berhasil mengkotak-kotakkan
pertemanan di kalangan anak muda. Iya kan? Memang iya. Buat mereka, merekalah
yang terbaik. Sementara orang di luar geng mereka, geng pemburu ubur-ubur
misalnya, gak layak untuk sekedar ngobrol bareng mereka, serem ya.
Karena
cinta palsu memandang pasangannya dari jumlah empat buah kaki bayangan.
.....
Ya,
itu lah ketiga faktor paling berpengaruh dalam hal pergaulan ataupun berpacaran
di zaman modern ini. Sebenernya masih banyak lagi sih, tapi yaudalah, tiga aja
udah banyak banget dan bikin males ngebacanya kan?
Mudah-mudahan
dengan tiga faktor yang aku jabarin ini bisa menyadarkan kita akan pengaruh
buruk dari gaya hidup dan cinta matrealistik yang sekarang makin gak malu-malu
untuk menelanjangi kepalsuannya sendiri di antara kita yang masih bisa berpikir
jernih untuk menghindarinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar