Sebentar lagi, tanggal 11 Juli tahun
ini Ibukota tercinta kita Jakarta, bakal ngadain pemilihan gubernur dan wakil
gubernur periode 2012-2017. Dan buat aku pribadi, momen ini sama luarbiasanya
dengan pemilihan presiden Indonesia. Dan masih buat aku pribadi, aku memang interest banget ke hal yang satu ini,
karena dampak dari perubahan yang nantinya mungkin bisa diwujudkan oleh
calon-calon pemimpinnya juga bisa ngerubah wajah Indonesia di mata dunia. Semoga.
Jakarta, sebagai Ibukota negara ini
banyak ngalamin dinamika kehidupan yang malah kunjung menjurus ke arah yang lebih
buruk sekarang ini. Siapapun tau, masalah di Jakarta ya cuma itu-itu aja. Gak jauh-jauh
dari macet, banjir, perumahan kumuh, kesehatan, pendidikan, kriminal dan
beberapa atau banyak masalah lain.
Masalah-masalah itulah yang akhirnya
dijadikan alat khusus dalam kampanye calon-calon pemimpin Jakarta untuk
ngedapetin suara sebanyak-banyaknya. Slogan ini itu udah mulai sering
diperdengarkan, ide-ide alternative pun mulai sering dipamerin. Ada yang mau
ngebikin alat transportasi umum baru, ada yang punya ide pengin ngebatesin
jumlah kendaraan, ada yang semangat ngebebasin biaya sekolah, ngasih asuransi
kesehatan dan sebagainya.
Semua ide dari para calon itu gak ada
yang jelek, semuanya bisa dibilang super. Entah itu bakal terwujud atau enggak
kita juga gak tau. Tapi paling gak ya kita, sebagai masyarakat bisa
mengapresiasikan apa yang mereka targetkan. Oke, aku tau kalian udah bosan
dengan janji-janji. Dan kalian bisa nyalahin calon pemimpin itu kalau mereka
ingkar karena udah nge-PHP-in kalian.
Dari semua suara perubahan yang
digembar-gemborkan para calon pemimpin Jakarta itu, ada satu masalah utama yang
mereka lupakan. Ya, perilaku kebiasaan warganya.
Kalau kita peratiin, ya itu pun kalau
kalian mau merhatiin..apa yang mereka suarakan kebanyakan masih terbatas ke
masalah teknis kota ini. Misalkan aja masalah kemacetan, para calon pemimpin
itu bersolusi untuk menambah moda transportasi baru, membuat jalan baru dan
lain-lain. Hal yang mereka lupakan adalah bagaimana mengatur gaya hidup warga
Jakarta dan mengajak mereka sama-sama untuk berpartisipasi mengurangi kemacetan
itu sendiri, bukan dengan mengeluarkan biaya berlebih yang membebani APBD untuk
pengembangan proyek-proyek yang juga besar potensi korupsinya.
Di sisi lain, kebiasaan orang-orang
kaya yang punya kendaraan pribadi lebih dari satu dalam sebuah keluarga lah
yang jadi faktornya. Suami, istri, anak, masing-masing punya kendaraan sendiri.
Dan dalam satu hari pada jam kerja/sekolah pagi dan jam pulang kantor di sore
hari, satu keluarga dengan tiga kendaraan secara bersamaan berada di jalanan.
Bayangkan, ada berapa banyak kepala keluarga kaya di Jakarta ini.
Seorang pemimpin yang baik adalah
orang yang dapat mempengaruhi orang lain untuk mengikuti pola pikirnya yang
baik. Pemimpin harus memiliki kesan di hati rakyatnya. Solusi dari hatilah yang
harus diutamakan. Bukan teknis aja.
Memimpin Jakarta memang gak mudah,
apalagi kalau mesti merubah gaya hidup warganya. Tapi itu bisa jadi sangat
mudah kalau calon pemimpinnya mau bekerja keras mengajak semua elemen
masyarakat untuk berubah.
Gitu juga dengan masalah banjir yang
penyebabnya sering ditujukan kepada warga pinggiran kali yang membangun rumah
tepat di pinggirannya dan membuang sampah rumah tangganya ke kali. Benar,
mereka memang salah.
Solusi teknisnya, warga pinggir kali
akan segera direlokasi ke tempat yang lebih layak. Itu bagus. Tapi tempat layak
bukan jaminan mereka gak akan ngebuang sampah sembarangan lagi kan? Nah, di
sinilah peran pemimpin itu harus benar-benar dapat ditunjukkan. Merubah
perilaku buruk mereka dengan melakukan pendekatan. Membuat dirinya dapat
dipercaya sehingga menimbulkan kesan yang baik.
Sementang daritadi aku ngebahas soal
pemimpinnya, warganya gak bersalah gitu? Bukan. Warga juga punya peran penting
dalam merubah kebiasaan dan perilaku ini. Karena roda kehidupan Jakarta diputar
oleh orang-orang seperti kita ini. Orang-orang yang mempunyai akal dan bisa
berpikir. Orang-orang yang udah jenuh dengan keganjilan kehidupan kota. Kita
warga punya andil besar dalam mempengaruhi perubahan sebuah kota. Pemimpin
adalah pengatur yang baik dan kita warga yang menjalankan dan mewujudkan.
Proses ini berlaku untuk semua aspek
kehidupan di kota Jakarta. Masalah yang ada di Jakarta bukan lagi terfokus pada
masalah teknis kotanya, tapi lebih ke masalah pola pikir, perilaku dan
kebiasaan warganya. Kita gak mau kan punya Ibukotabentuknya absurd gitu.. Mulai
sekarang, khususnya buat warga Jakarta, mereka harus segera berbenah. Ini
itunya memang banyak, tapi kalau emang masih mau hidup lama di Jakarta ya itu
harus.
Siapapun kalian, yang lagi ngebaca
tulisan yang bikin bingung ini, ayo kita sadar diri. Ayo kita cepat berbenah. Ayo
cepat move on dari kebiasaan buruk. Dimanapun kita tinggal, kebiasaan buruk
yang kita lakukan besar kecilnya pasti bakal mempengaruhi kehidupan kita di
suatu kota dan mempengaruhi orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Ya... intinya kalian taulah kan apa
yang aku sampein ini. Jadi ayo kita ajak mama papa kita, keluarga kita,
temen-temen kita, pacar kita untuk sama-sama menjaga kota tempat kita tinggal.
Karena kota yang nyaman menyimpan jodoh yang baik.
Sekian. Wassalam... *tepuk tangan*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar