Kamis, 28 Juni 2012

Berubah Yuk, Jakarta!


Sebentar lagi, tanggal 11 Juli tahun ini Ibukota tercinta kita Jakarta, bakal ngadain pemilihan gubernur dan wakil gubernur periode 2012-2017. Dan buat aku pribadi, momen ini sama luarbiasanya dengan pemilihan presiden Indonesia. Dan masih buat aku pribadi, aku memang interest banget ke hal yang satu ini, karena dampak dari perubahan yang nantinya mungkin bisa diwujudkan oleh calon-calon pemimpinnya juga bisa ngerubah wajah Indonesia di mata dunia. Semoga.
Jakarta, sebagai Ibukota negara ini banyak ngalamin dinamika kehidupan yang malah kunjung menjurus ke arah yang lebih buruk sekarang ini. Siapapun tau, masalah di Jakarta ya cuma itu-itu aja. Gak jauh-jauh dari macet, banjir, perumahan kumuh, kesehatan, pendidikan, kriminal dan beberapa atau banyak masalah lain.
Masalah-masalah itulah yang akhirnya dijadikan alat khusus dalam kampanye calon-calon pemimpin Jakarta untuk ngedapetin suara sebanyak-banyaknya. Slogan ini itu udah mulai sering diperdengarkan, ide-ide alternative pun mulai sering dipamerin. Ada yang mau ngebikin alat transportasi umum baru, ada yang punya ide pengin ngebatesin jumlah kendaraan, ada yang semangat ngebebasin biaya sekolah, ngasih asuransi kesehatan dan sebagainya.
Semua ide dari para calon itu gak ada yang jelek, semuanya bisa dibilang super. Entah itu bakal terwujud atau enggak kita juga gak tau. Tapi paling gak ya kita, sebagai masyarakat bisa mengapresiasikan apa yang mereka targetkan. Oke, aku tau kalian udah bosan dengan janji-janji. Dan kalian bisa nyalahin calon pemimpin itu kalau mereka ingkar karena udah nge-PHP-in kalian.
Dari semua suara perubahan yang digembar-gemborkan para calon pemimpin Jakarta itu, ada satu masalah utama yang mereka lupakan. Ya, perilaku kebiasaan warganya.
Kalau kita peratiin, ya itu pun kalau kalian mau merhatiin..apa yang mereka suarakan kebanyakan masih terbatas ke masalah teknis kota ini. Misalkan aja masalah kemacetan, para calon pemimpin itu bersolusi untuk menambah moda transportasi baru, membuat jalan baru dan lain-lain. Hal yang mereka lupakan adalah bagaimana mengatur gaya hidup warga Jakarta dan mengajak mereka sama-sama untuk berpartisipasi mengurangi kemacetan itu sendiri, bukan dengan mengeluarkan biaya berlebih yang membebani APBD untuk pengembangan proyek-proyek yang juga besar potensi korupsinya.
Di sisi lain, kebiasaan orang-orang kaya yang punya kendaraan pribadi lebih dari satu dalam sebuah keluarga lah yang jadi faktornya. Suami, istri, anak, masing-masing punya kendaraan sendiri. Dan dalam satu hari pada jam kerja/sekolah pagi dan jam pulang kantor di sore hari, satu keluarga dengan tiga kendaraan secara bersamaan berada di jalanan. Bayangkan, ada berapa banyak kepala keluarga kaya di Jakarta ini.
Seorang pemimpin yang baik adalah orang yang dapat mempengaruhi orang lain untuk mengikuti pola pikirnya yang baik. Pemimpin harus memiliki kesan di hati rakyatnya. Solusi dari hatilah yang harus diutamakan. Bukan teknis aja.
Memimpin Jakarta memang gak mudah, apalagi kalau mesti merubah gaya hidup warganya. Tapi itu bisa jadi sangat mudah kalau calon pemimpinnya mau bekerja keras mengajak semua elemen masyarakat untuk berubah.

Gitu juga dengan masalah banjir yang penyebabnya sering ditujukan kepada warga pinggiran kali yang membangun rumah tepat di pinggirannya dan membuang sampah rumah tangganya ke kali. Benar, mereka memang salah.
Solusi teknisnya, warga pinggir kali akan segera direlokasi ke tempat yang lebih layak. Itu bagus. Tapi tempat layak bukan jaminan mereka gak akan ngebuang sampah sembarangan lagi kan? Nah, di sinilah peran pemimpin itu harus benar-benar dapat ditunjukkan. Merubah perilaku buruk mereka dengan melakukan pendekatan. Membuat dirinya dapat dipercaya sehingga menimbulkan kesan yang baik.
Sementang daritadi aku ngebahas soal pemimpinnya, warganya gak bersalah gitu? Bukan. Warga juga punya peran penting dalam merubah kebiasaan dan perilaku ini. Karena roda kehidupan Jakarta diputar oleh orang-orang seperti kita ini. Orang-orang yang mempunyai akal dan bisa berpikir. Orang-orang yang udah jenuh dengan keganjilan kehidupan kota. Kita warga punya andil besar dalam mempengaruhi perubahan sebuah kota. Pemimpin adalah pengatur yang baik dan kita warga yang menjalankan dan mewujudkan.

Proses ini berlaku untuk semua aspek kehidupan di kota Jakarta. Masalah yang ada di Jakarta bukan lagi terfokus pada masalah teknis kotanya, tapi lebih ke masalah pola pikir, perilaku dan kebiasaan warganya. Kita gak mau kan punya Ibukotabentuknya absurd gitu.. Mulai sekarang, khususnya buat warga Jakarta, mereka harus segera berbenah. Ini itunya memang banyak, tapi kalau emang masih mau hidup lama di Jakarta ya itu harus.

Siapapun kalian, yang lagi ngebaca tulisan yang bikin bingung ini, ayo kita sadar diri. Ayo kita cepat berbenah. Ayo cepat move on dari kebiasaan buruk. Dimanapun kita tinggal, kebiasaan buruk yang kita lakukan besar kecilnya pasti bakal mempengaruhi kehidupan kita di suatu kota dan mempengaruhi orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Ya... intinya kalian taulah kan apa yang aku sampein ini. Jadi ayo kita ajak mama papa kita, keluarga kita, temen-temen kita, pacar kita untuk sama-sama menjaga kota tempat kita tinggal. Karena kota yang nyaman menyimpan jodoh yang baik.

Sekian. Wassalam...  *tepuk tangan*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar