Sontak pikiranku melayang-layang
jauh pergi ke jauh pada beberapa tahun yang lalu. Tahun-tahun dimana aku masih
dapat menikmati hembusan angin lembut yang menyentuh mesra wajahku di saat aku
begitu terpaku mengagumi sosokmu di sudut sana. Seiring jatuhnya air langit ini
dengan perlahan, dengan suaranya yang terdengar nyaring di jiwa, ingatanku semakin deras menelusup ke dalam
sela-sela masa lalu. Ya, seperti yang banyak dari mereka katakan dan bahwa
memang itu kebenarannya, rintik tangisan langit ini sanggup membawa siapapun
untuk melewati batas waktu dengan singkatnya tanpa memerlukan mesin waktu atau
mungkin mimpi di kala lelap. Aku pun terbawa jauh padanya.
Kegelisahan semakin menjadi
manakala hatiku tersadar bagaimana aku sekarang. Masa itu bukanlah masa yang mudah buatku.
Namun tidak lebih rumit dari apa yang sekarang aku jalani. Bagiku kini, setiap
helaan nafas kecilku seakan selalu menyebut kerinduanku padamu. Bahkan
terkadang aku merasa sangat berdosa, Tuhan, nama Nya kini terganti.
Kemudian takdir menamparku.
Tamparan itu terasa begitu sakitnya. Aku memandang memelas pada sang takdir,
kukatakan memintanya untuk merubah aku. Ia enggan untuk itu. Tamparan itu,
tamparan yang seringkali menyadarkanku dengan bagaimana aku saat ini, bahkan
bagaimana aku saat sebelum mengenalmu. Setiap aku menggelorakan asa, sebelum
bisa kusampaikan pada Nya, aku terlanjur harus tertunduk. Tak sanggup
kutolehkan pandangan.
Apakah yang kau rasakan dengan
apa yang kurasakan sama?
Kebodohan, atau ini kesetiaan?
Terkadang, aku sangat suka menunggumu dengan asa. Tidak. Tidak hanya terkadang.
Aku melakukannya, aku menunggu, dengan asaku, setiap waktu ini, setiap aku
mampu melihat dunia, setiap kaki-kaki lemah ini berayun, bahkan setiap aku
mulai memilih.
Tapi toh, hatiku masih enggan
beranjak. Si kecil itu hidup dengan harap.
Kau tau? Tak satupun. Tak satupun
kini, selain dirimu. Tak satupun kini selain dirimu yang begitu mampu mengunci
hati ini.
Ini bukan parodi. Bukan juga
drama.
Cinta dan sayang, aku, kamu, mungkin
Tuhan yang tak akan pernah setuju.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar